Jakarta, TopBusiness—Keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25% pada Mei 2026, setelah mempertahankannya di posisi 4,75% sejak September 2025, memunculkan kekhawatiran masyarakat akan meningkatnya biaya Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
“Namun, analisis data dari Rumah123, menunjukkan gambaran yang lebih kompleks, di mana pergerakan suku bunga perbankan tidak lagi sekadar mengikuti arah kebijakan moneter secara linier,” kata Firman Pamungkas, VP of Marketing Rumah123, dalam riset yang diterima Redaksi Majalah TopBusiness (9/6/2026).
Berdasarkan penelusuran historis Rumah123 terhadap pergerakan SBDK rata-rata lima bank dengan pertumbuhan KPR tertinggi (BCA, BRI, Mandiri, BTN, dan BNI), ditemukan bahwa SBDK dan BI Rate kini bergerak berlawanan arah atau terjadi fenomena decoupling.
Hal ini sangat terlihat pada akhir 2024, saat Bank Indonesia mulai menurunkan BI Rate secara bertahap, SBDK perbankan justru berbalik arah dan naik dari 8,52% ke 9,27%.
Kondisi tersebut mengonfirmasi bahwa bank mempertimbangkan faktor lain seperti target margin, biaya dana, persaingan pasar KPR, dan likuiditas. Artinya, kenaikan BI Rate baru-baru ini belum tentu langsung diteruskan secara drastis ke bunga KPR.
Rumah123 mencatat bahwa pasar properti justru memperlihatkan resiliensi atau daya tahan yang mengejutkan di tengah dinamika suku bunga tersebut.
Data menunjukkan bahwa pasar properti tidak semata-mata bergerak mengekor suku bunga. Pada 2024, di saat SBDK mulai merangkak naik ke kisaran 8,5%-9,8%, pertumbuhan permintaan di portal tetap melonjak kuat hingga +61,2%.
Meski permintaan keseluruhan kuat, dampak suku bunga justru paling cepat terlihat pada psikologis konsumen di tahap pencarian (early warning system).
“Saat SBDK masih rendah dan stabil di sekitar 7,3%, halaman KPR Rumah123 mencatat traffic tinggi. Namun, begitu SBDK melonjak, rata-rata kunjungan ke laman simulasi KPR mengalami penurunan tajam hingga 30% pada Oktober 2024,” kata Firman.
