Jakarta, BusinessNews Indonesia – Center of Reform on Economics (CORE) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun sulit mencapai 5,4% seperti yang ditargetkan pemerintah. Sampai akhir tahun, ekonomi Indonesia hanya tumbuh dengan kisaran 5,1-5,2%. Itupun dengan sejumlah tantangan besar yang harus dihadapi pemerintah
Direktur Eksekutif CORE Mohammad Faisal mengatakan, salah satu tantangan besar itu adalah potensi pelemahan kinerja ekspor impor yang mengakibatkan melemahnya kontribusi net-ekspor terhadap per tumbuhan Produk Do mes tik Bruto (PDB) tahun ini.
“Padahal net-ekspor ini berperan sangat besar dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi tetap 5% pada 2017, saat per tumbuhan konsumsi rumah tangga melemah hingga di bawah 5%,” ujarnya di Jakarta, Rabu (25/4/2018)
Faisal mengatakan, konsumsi swasta pada kuartal I/ 2018 juga belum menunjukkan indikasi pemulihan. Hal ini terlihat dari komposisi pengeluaran rumah tangga karena proporsi pendapatan yang di belanjakan masih cenderung menurun. Sebaliknya proporsi untuk tabungan meningkat.
“Proporsi pendapatan rumah tangga untuk tabungan selama kuartal I tahun ini sebesar 21,6%, lebih tinggi dibanding tahun lalu sebesar 19%. Sementara proporsi pendapatan yang di belanjakan menurun dari 65,2% pada triwulan I/2017 menjadi 64,1% pada triwulan I/ 2018,” katanya.
Menurut dia, pemerintah harus menggenjot konsumsi khususnya konsumsi swasta. Selain itu, penyaluran bantuan sosial (bansos) pun harus dilakukan bersamaan. “Pentingnya pemerintah untuk mendorong kebijakan yang dapat meningkatkan daya beli dan memberikan stimulus terhadap belanja masyarakat,” kata Faisal.
