Jakarta, TopBusiness – Realisasi investasi di Indonesia sepanjang semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau 49,5 persen dari target investasi nasional tahun ini sebesar Rp2.041,3 triliun.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Rosan Perkasa Roeslani mengatakan capaian tersebut menunjukkan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia tetap terjaga di tengah tantangan geopolitik dan ekonomi global.
“Di tengah masih adanya tantangan geopolitik maupun geografi dunia, komitmen investor untuk berinvestasi langsung di Indonesia masih in line dengan target yang dicanangkan untuk 2026,” kata Rosan usai diterima Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Rosan sepeti dikutip presidenri.go.id menjelaskan, realisasi investasi pada Januari-Juni 2026 tersebut berhasil menyerap 1.448.862 tenaga kerja atau meningkat sekitar 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari total investasi yang masuk, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp502,9 triliun atau 49,8 persen, sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp507,6 triliun.
Berdasarkan wilayah, investasi di Pulau Jawa mencapai Rp502,8 triliun atau 49,8 persen dari total realisasi, sementara investasi di luar Jawa mencapai Rp507,8 triliun atau 50,2 persen.
DKI Jakarta masih menjadi provinsi dengan realisasi investasi terbesar pada semester I 2026 dengan kontribusi 17,2 persen dari total investasi nasional. Posisi berikutnya ditempati Jawa Barat dengan nilai investasi Rp138,1 triliun, Jawa Timur Rp72,7 triliun, Sulawesi Tengah Rp68,7 triliun, dan Banten Rp66,3 triliun.
Untuk investasi asing, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kepulauan Riau menjadi tujuan utama investor, terutama pada sektor yang terkait dengan industri mineral dan hilirisasi.
Dari sisi sektor usaha, industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan peralatannya menjadi penyumbang investasi terbesar dengan nilai Rp150,4 triliun atau 14,9 persen dari total realisasi investasi.
Sementara itu, sektor jasa lainnya yang didominasi pembangunan pusat data (data center) mencatat investasi Rp114 triliun atau 11,3 persen. Disusul sektor pertambangan sebesar Rp105 triliun, transportasi, pergudangan dan telekomunikasi sebesar 10,2 persen, serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran sebesar Rp85,5 triliun atau 8,5 persen.
Berdasarkan negara asal investor, Singapura masih menjadi investor terbesar di Indonesia dengan nilai investasi mencapai 8,8 miliar dolar AS. Posisi berikutnya ditempati Hong Kong sebesar 7,6 miliar dolar AS, Tiongkok 3,9 miliar dolar AS, Jepang 1,9 miliar dolar AS, dan Amerika Serikat 1,7 miliar dolar AS.
Meski demikian, Rosan mengungkapkan bahwa pada kuartal II 2026 terjadi pergeseran, di mana Hong Kong menjadi sumber investasi terbesar ke Indonesia.
“Secara keseluruhan semester pertama masih ditempati Singapura, tetapi pada kuartal kedua investor terbesar adalah Hong Kong,” ujarnya.
