Jakarta, TopBusiness – Pasar saham Indonesia masih dibayangi tekanan sepanjang tahun berjalan, namun sejumlah saham dinilai memiliki prospek menarik di tengah keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan dan potensi kenaikan harga komoditas energi.
Dalam Investor Digest edisi 23 Juli 2026, Mandiri Sekuritas mencatat BI pada Rabu (mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75 persen setelah menaikkan suku bunga kumulatif 100 basis poin sejak Mei 2026. Kebijakan tersebut dinilai mencerminkan keseimbangan antara menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.334,48 pada perdagangan 22 Juli 2026, melemah 0,1 persen. Secara tahun berjalan (year to date/YTD), IHSG masih terkoreksi 26,7 persen.
Mandiri Sekuritas menyoroti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) sebagai salah satu emiten yang berpotensi mendapat sentimen positif dari meningkatnya ketegangan geopolitik global. Penutupan efektif Selat Hormuz yang tercermin dari penurunan volume pengangkutan minyak mentah telah mendorong harga Brent naik sekitar 26 persen. Risiko gangguan di Selat Bab el-Mandeb juga dinilai dapat memperkuat tren kenaikan harga minyak dunia.
Sejalan dengan prospek tersebut, Mandiri Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham MEDC dengan target harga Rp1.800 per saham, dibandingkan harga pasar Rp1.320 per saham.
Dari sektor properti, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) juga mendapat perhatian setelah membukukan pra-penjualan (presales) sebesar Rp1,3 triliun pada kuartal II 2026 atau tumbuh 4 persen secara tahunan. Kinerja tersebut ditopang proyek Serpong dan Bandung, sementara presales semester I 2026 mencapai Rp2,5 triliun atau naik 17 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Realisasi tersebut setara 49 persen dari target manajemen tahun ini dan dinilai masih sejalan dengan ekspektasi pasar.
Mandiri Sekuritas merekomendasikan buy untuk saham SMRA dengan target harga Rp 460 per saham dari harga saat ini Rp332 per saham.
Secara valuasi, pasar saham Indonesia dinilai masih menarik. Mandiri Sekuritas memperkirakan price to earnings ratio (PER) pasar pada 2026 berada di level 9,8 kali dengan dividend yield 5,8 persen. Proyeksi pertumbuhan laba emiten dalam cakupan riset perusahaan diperkirakan mencapai 13,4 persen pada tahun ini.
Sementara itu, sektor perbankan masih menjadi salah satu sektor favorit dengan rekomendasi beli pada sejumlah saham besar seperti BBCA, BBRI, BBNI, dan BRIS. Potensi kenaikan harga (upside) masing-masing saham mencapai 32,3 persen untuk BBCA, 35,8 persen untuk BBRI, 27,4 persen untuk BBNI, serta 47,4 persen untuk BRIS dibandingkan harga pasar saat ini.
