TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Askindo: IEU-CEPA Buka Jalan Kakao RI Lebih Kompetitif di Pasar Eropa

Nurdian Akhmad
24 July 2026 | 11:40
rubrik: Business Info
Askindo: IEU-CEPA Buka Jalan Kakao RI Lebih Kompetitif di Pasar Eropa

Foto: AntaraNews

Jakarta, TopBusiness – Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) menilai kesepakatan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) akan menjadi momentum penting untuk meningkatkan daya saing kakao Indonesia di pasar Uni Eropa. Penurunan tarif ekspor secara bertahap hingga menjadi nol persen diyakini akan membuka peluang yang lebih besar bagi produk kakao nasional, sekaligus mendorong pembenahan sektor hulu agar mampu memenuhi standar pasar global.

Ketua Umum Askindo Jeffrey Haribowo mengatakan selama ini produk kakao Indonesia belum mampu bersaing secara optimal di pasar Eropa karena masih dikenai tarif masuk, sementara sejumlah negara produsen kakao lain telah lebih dulu menikmati tarif nol persen melalui perjanjian dagang dengan Uni Eropa.

“Jadi kami harus mengapresiasi upaya Indonesia karena itu akan membuka peluang pasar kakao Indonesia bisa masuk ke pasar Eropa dengan perlakuan yang sama dengan negara-negara yang lain,” ujar Jeffrey saat ditemui di sela The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC) 2026 yang berlangsung di Yogyakarta pada 22-24 Juli 2026 yang dikutip Jumat (24/7/2026).

Menurut Jeffrey, penurunan tarif secara bertahap selama lima tahun memberi waktu bagi industri kakao nasional untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan kualitas produk, serta memenuhi berbagai persyaratan keberlanjutan yang ditetapkan Uni Eropa.

Ia menambahkan sekitar 90 persen produk olahan kakao Indonesia saat ini telah dipasarkan ke luar negeri. Dengan berlakunya IEU-CEPA, daya saing produk Indonesia di Eropa diperkirakan meningkat karena tarif akan turun hingga nol persen pada 2031.

“Dalam lima tahun kita akan dapat nol persen. Jadi nanti 2031 kita akan bisa masuk ke pasar Eropa dengan treatment tarif yang sama dengan negara-negara penghasil kakao lainnya,” katanya.

BACA JUGA:   Sejumlah Perusahaan Manufaktur Raih Dampak Nyata Transformasi 4.0

Meski prospek ekspor semakin terbuka, Jeffrey mengingatkan industri masih menghadapi tantangan dari sisi pasokan bahan baku. Saat ini Indonesia masih mengimpor sekitar 200 ribu ton kakao setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan, sementara produksi dalam negeri juga berada di kisaran 200 ribu ton.

“Memang tantangan kita mengoptimalkan bahan baku domestik. Karena sampai saat ini secara statistik kita masih banyak impor untuk memenuhi produk yang diekspor kembali. Jadi, alangkah baiknya jika kita bisa kembali mengoptimalkan produk biji kakao dari dalam negeri. Selain tren ekspor meningkat, pendapatan petani dalam negeri juga bisa meningkat,” ujarnya.

Menurut Jeffrey, produksi kakao nasional mulai menunjukkan tren peningkatan dalam dua tahun terakhir sehingga kebutuhan impor diharapkan terus berkurang. Saat ini, pasar utama ekspor kakao Indonesia masih didominasi Amerika Serikat, China, dan India. Amerika Serikat bahkan memenuhi sekitar 70 persen kebutuhan lemak kakaonya dari Indonesia.

Diteken September 2026

Senada dengan pelaku industri, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah menargetkan penandatanganan IEU-CEPA dapat dilakukan pada September 2026 sebagai bagian dari strategi memperluas akses pasar ekspor Indonesia.

“Kita sekarang sudah mempunyai banyak perjanjian dagang, 25 yang sudah implementasi. Salah satunya yang akan kita kejar nanti September mudah-mudahan tanda tangan bisa selesai, itu IEU-CEPA. Karena pasar EU sangat besar. Kita ke Amerika pasarnya juga besar,” kata Budi.

Menurut Budi, Indonesia memiliki keunggulan karena tidak hanya menghasilkan biji kakao, tetapi juga memiliki industri pengolahan yang cukup berkembang. Pemerintah ingin seluruh rantai nilai kakao, mulai dari perkebunan hingga industri hilir, tumbuh di dalam negeri, sementara pasar internasional menjadi tujuan ekspor.

“Jadi mudah-mudahan nanti dari hulu dan hilir itu semua ada di Indonesia. Yang di luar negeri pasarnya. Jadi semua diproduksi di Indonesia,” ujarnya.

BACA JUGA:   APEI Sulit Penuhi Permintaan OJK Terkait Besaran Dana Repatriasi

Pemerintah juga terus mempersiapkan implementasi European Union Deforestation Regulation (EUDR) melalui penyusunan sistem traceability atau pelacakan rantai pasok agar ekspor kakao Indonesia memenuhi ketentuan Uni Eropa.

“Kita terus diskusi. Walaupun juknisnya belum keluar, kita tetap ada persiapan. Komunikasi kita dengan EU juga terus berjalan melalui perwakilan kita di Brussel. Jadi jangan sampai kita ketinggalan,” kata Budi.

Dukungan Cargill

Dorongan memperkuat daya saing industri kakao juga menjadi fokus utama Indonesia International Cocoa Conference (IICC) ke-9 yang berlangsung di Yogyakarta pada 22-24 Juli 2026. Forum tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku industri, petani, hingga perusahaan global untuk membahas strategi memperkuat rantai nilai kakao nasional.

Vice President & Managing Director Cargill Food Southeast Asia, Australia and New Zealand, Kashan Rashid, mengatakan Indonesia memiliki sejarah panjang sebagai salah satu produsen kakao dunia dan masih memiliki peluang besar untuk memperluas perannya di pasar global.

“Indonesia memiliki sejarah yang kuat dalam industri kakao dan peluang yang lebih besar di masa depan,” ujarnya seperti dikutip Antara.

Menurut Kashan, Indonesia menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan bisnis kakao Cargill di Asia Pasifik. Perusahaan terus mendukung pengembangan industri melalui kemitraan dengan petani, investasi pada praktik pengadaan biji kakao yang bertanggung jawab, pengolahan, serta inovasi produk.

Ia menilai penguatan sektor kakao Indonesia perlu difokuskan pada peningkatan produktivitas kebun, penerapan sistem traceability, pengembangan produk bernilai tambah melalui industri pengolahan, serta menjaga akses ke pasar ekspor utama.

“Masa depan industri kakao Indonesia akan ditentukan oleh kolaborasi di sepanjang rantai nilai untuk mendukung petani, memperkuat praktik pengadaan biji kakao yang lebih bertanggung jawab, serta menghubungkan kakao Indonesia dengan pasar regional dan global,” katanya.

BACA JUGA:   Telkom Kenalkan TELIS 2.0, Aplikasi Pengelola Dokumen Legal Berbasis AI

Cargill mencatat preferensi konsumen Asia juga menjadi peluang bagi industri kakao Indonesia. Studi APAC IngredienTracker menunjukkan 76 persen konsumen Indonesia lebih memilih produk pangan yang ditanam secara lokal, sedangkan 91 persen mengutamakan makanan dan minuman yang diproduksi secara bertanggung jawab dari sisi sosial maupun lingkungan.

Di sisi pemberdayaan petani, pada 2026 lebih dari 7.800 petani peserta program sertifikasi Rainforest Alliance menerima premi sekitar Rp38,8 miliar. Selama lima tahun terakhir, Cargill juga telah membantu pembentukan delapan pusat pembibitan masyarakat, menyediakan 96.000 bibit kakao, mendistribusikan 44.000 pohon penaung, serta mendukung 52 kelompok tabungan dan pinjaman masyarakat sebagai bagian dari penguatan rantai pasok kakao nasional.

Tags: askindokakao
Previous Post

OJK Dorong Program Akselerasi Startup Digital

Next Post

Taklukkan Pengeboran Penuh Tantangan, Sumur PHR Menggala South-21 Alirkan 2.035 BOPD

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR