Jakarta, TopBusiness – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI, tahun ini untuk ketiga kalinya masuk nominasi mengikuti ajang penjurian dalam penerapan tata kelola, manajemen risiko dan kepatuhan alias GRC untuk penghargaan “TOP GRC Awards 2026”. Dalam presentasinya, Tim Baznas mengangkat materi presentasi bertema “Intelligent GRC by Design: Menjaga Amanah, Mewujudkan Kinerja Berprinsip Pengelolaan Zakat Nasional”.
Presentasi diawali pembukaan oleh Wakil Ketua BAZNAS RI, Dr. H. Zainut Tauhid Sa’adi, M.Si, dengan mengenalkan sekilas keberadaan BAZNAS RI dan dinamika baru, termasuk komitmen melakukan inovasi dalam menjalankan roda organiasi ini, termasuk dalam penerapan tata kelola manajemen dan penerapan GRC. Pihaknya juga menyampaikan ucapkan terima kasih atas waktu dan kesempatan yang diberikan kembali kepada BAZNAS RI untuk ikut serta dalam ajang penilaian TOP GRC Awards 2026 ini.
“Bagi kami, kegiatan ini sangat penting untuk mendapat feedback dan juga masukan dari luar, terkait penerapan tata kelola dan manajemen risiko di kami yang merupakan aspek sangat penting. Apalagi mengingat bahwa secara kelembagaan, BAZNAS RI juga terikat dengan regulasi dan juga banyak berhubungan dengan publik. Sehingga membangun aspek tata kelola, pengendalian, pengawasan, maupun manajemen risiko, sangat penting baik untuk reputasi dan menmbangu trust untuk keberlanjutan peran dan kiprah BAZNAS kw depan” ungkap H. Zainut Tauhid Sa’adi, saat mengawali presentasi penjurian “TOP GRC Awards 2026”, secara virtual melalui aplikasi zoom meeting, Rabu (29/07/2026), di Jakarta.
Turut hadir dalam wawancara penjurian ini dari BAZNAS, di antaranya Hj. Neyla Saida Anwar, M.H., M.Hum (Pimpinan Bidang Pengandalian dan Pengawasan), Dananta Adi Nugraha SE. Ak., MPPM, QRMP, CPFI, CGRCS (Direktur Audit), serta Mulya Dwi Harto (Kepala Biro Hukum dan Kelembagaan). Sedangkan Tim Juri penilai terdiri Prof. DR H. Wahyudin Zarkasi (Guru Besar FE dan Bisnis UNPAD Bandung), Abiprayadi (Senior Business Consutant SDP), Eri Sumiarso (CEO & Founder SDP), DR. Aldrin Herwany – (Perbanas Institute Jakarta) yang dimodertori Ahmad Chury (Managing Editor ItWorks/MSI Group).
Selanjutnya, presentasi dipaparkan oleh Dananta Adi Nugraha SE. Ak., MPPM, QRMP, CPFI, CGRCS (Direktur Audit BAZNAS). Dijelaskan, BAZNAS RI merupakan lembaga pemerintah non struktural yang memilik kekhasan tersendiri. Sehingga, secara umum, memang ada perberbedaan dengan struktur organisasi lain, seperti direksi, komisaris, komite audit, satuan audit internal, dan lainnya sebagaimana yang dianut oleh perusahaan pada umumnya. “Namun demikian, sebagai lembaga pemerintah non structural, kami juga membanagun sistem tata kelola dan manajemen, termasuk menerapkan prinsip GRC sejalan dengan tugas dan fungsi utama kami dalam mengelola dana zakat, infak dan sedekah (ZIS),” ujarnya.
Dalam kaitan ini, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI terus memperkuat penerapan tata kelola melalui inovasi sistem Governance, Risk, and Compliance (GRC) yang terintegrasi. Ditegaskan bahwa penerapan GRC di BAZNAS bukan sekadar memenuhi aspek kepatuhan, melainkan menjadi fondasi dalam menjaga amanah pengelolaan zakat nasional.
Mengusung tema “Intelligent GRC by Design: Menjaga Amanah, Mewujudkan Kinerja Berprinsip Pengelolaan Zakat Nasional”, BAZNAS memperkenalkan model GRC yang mengintegrasikan tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan syariah, audit, serta pemanfaatan data dan kecerdasan buatan (AI).
“Kepercayaan masyarakat merupakan modal utama BAZNAS. Karena itu, GRC kami rancang untuk memastikan setiap rupiah dana umat dapat ditelusuri, dipertanggungjawabkan, dan diawasi secara berlapis,” tambahnya.
Dewan Penasihat dan Komite Syariah
Dalam paparan diungkapkan, salah satu inovasi utama adalah penguatan struktur pengawasan melalui pembentukan Dewan Penasihat dan Komite Syariah baru pada 2026, serta peningkatan status Direktorat Audit yang kini menjalankan audit berbasis risiko. Model tata kelola tersebut diperkuat dengan penerapan konsep Three Lines Model, yang melibatkan unit operasional, fungsi kepatuhan dan manajemen risiko, serta audit internal independen.
Di bidang manajemen risiko, BAZNAS menerapkan sistem berbasis standar ISO 31000 dengan tujuh kategori risiko, mulai dari risiko strategis, keuangan, operasional, reputasi, kepatuhan, keselamatan, hingga risiko lainnya. Setiap transaksi bernilai di atas Rp200 juta wajib melalui analisis risiko sebelum dieksekusi.
“Setiap transaksi besar harus melewati proses identifikasi, mitigasi, dan evaluasi risiko sebelum keputusan diambil. Pendekatan ini memastikan pertumbuhan organisasi tetap berjalan tanpa mengorbankan aspek pengendalian,” kata Dananta Adi Nugraha.
Transformasi digital juga menjadi bagian penting dalam inovasi GRC BAZNAS. Modernisasi Sistem Informasi Manajemen BAZNAS (SIMBA) yang diluncurkan pada akhir 2025 menghadirkan standar keamanan setara perbankan dan menjadi fondasi implementasi konsep “Satu Data Zakat” nasional.
Ke depan, BAZNAS tengah mengembangkan dashboard GRC berbasis data real-time, analitik, serta teknologi kecerdasan buatan untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat. Bahkan, lembaga tersebut merencanakan sistem deteksi dini fraud berbasis AI sebagai bagian dari strategi menuju Intelligent GRC.
Implementasi tata kelola tersebut telah memberikan dampak nyata terhadap kinerja organisasi. Penghimpunan dana BAZNAS mencapai Rp1,147 triliun pada 2025, sekaligus mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) selama 22 tahun berturut-turut. Selain itu, tingkat kepatuhan pelayanan publik versi Ombudsman RI meningkat dari skor 73,86 pada 2023 menjadi 88,03 pada 2024, sehingga naik ke zona hijau kategori A.
BAZNAS juga mencatat berbagai capaian di bidang tata kelola, termasuk sertifikasi ISO 37001 tentang Sistem Manajemen Anti Penyuapan dan penghargaan TOP Digital Implementation 2025.
Melalui penguatan tata kelola yang memadukan prinsip syariah, standar internasional, serta inovasi digital, BAZNAS menargetkan peningkatan tingkat kematangan GRC dari level “Defined” saat ini menuju “Optimized” pada 2030–2031.
