Jakarta, TopBusiness – Industri persepatuan Indonesia dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar di pasar global. Di tengah terbukanya akses pasar baru melalui Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), pelaku industri optimistis ekspor alas kaki nasional dapat meningkat signifikan, asalkan dibarengi penyelesaian berbagai hambatan di dalam negeri dan penguatan industri kecil menengah (IKM).
Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Anton J. Supit mengatakan, kontribusi ekspor alas kaki Indonesia terhadap perdagangan dunia saat ini masih relatif kecil meski terus menunjukkan tren peningkatan setiap tahun.
“Kalau dibandingkan dengan ekspor dunia, kontribusi ekspor sepatu Indonesia baru sekitar 2-3 persen. Padahal potensinya sangat besar. Kalau bisa naik dua kali lipat saja, dampaknya akan luar biasa bagi perekonomian nasional,” ujar Anton dalam pembukaan Indo Leather & Footwear (ILF) Expo 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Menurutnya, peluang tersebut semakin terbuka setelah ditandatanganinya IEU-CEPA yang diyakini akan memperluas akses pasar Indonesia ke kawasan Eropa. Selain itu, terdapat peluang baru dari pasar Amerika Serikat yang diharapkan semakin mendukung ekspansi ekspor industri alas kaki nasional.
Anton menjelaskan, Indonesia sebenarnya memiliki rekam jejak yang baik sebagai basis produksi berbagai merek sepatu internasional seperti Nike, Adidas, New Balance, hingga merek global lainnya. Keberadaan perusahaan-perusahaan tersebut telah menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain penting dalam rantai pasok industri alas kaki dunia.
Meski demikian, ia menilai masih terdapat berbagai pekerjaan rumah di dalam negeri yang perlu segera diselesaikan agar Indonesia semakin kompetitif dibandingkan negara pesaing seperti Vietnam maupun Kamboja.
“Kita tidak pernah mengalami penurunan ekspor setiap tahun. Artinya industrinya terus bertumbuh. Tetapi potensinya masih jauh lebih besar apabila hambatan-hambatan domestik dapat diselesaikan,” katanya.
Anton juga menekankan pentingnya pengembangan IKM sebagai fondasi industri persepatuan nasional. Menurutnya, pasar domestik yang mencapai sekitar 280 juta penduduk merupakan peluang besar bagi pelaku IKM untuk mengembangkan produk sepatu kasual, fashion, hingga alas kaki berbasis desain lokal.
Selain memperkuat kapasitas produksi, IKM juga perlu didorong meningkatkan kualitas desain, teknologi, serta inovasi agar mampu bersaing di pasar internasional. APRESINDO pun berencana memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk mitra dari Italia, untuk menghadirkan tenaga ahli desain dan pengembangan produk bagi sentra-sentra industri alas kaki di Jawa Barat dan Jawa Timur.
Sementara itu, CEO sekaligus Founder Krista Exhibitions Daud Salim mengatakan industri alas kaki, kulit, dan fashion nasional memiliki peran strategis dalam memperkuat sektor manufaktur Indonesia. Karena itu, diperlukan wadah yang mampu mempertemukan produsen, pemasok teknologi, pelaku usaha, hingga pembeli dari dalam dan luar negeri.
Menurut Daud, penguatan ekosistem industri menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, kualitas produk, sekaligus daya saing industri nasional.
“Kami berharap industri alas kaki, industri perkulitan, dan industri fashion Indonesia terus berkembang dan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian nasional maupun pasar global,” ujarnya.
14 Negara Ikuti ILF Expo 2026
Sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem industri tersebut, Krista Exhibitions kembali menyelenggarakan Indo Leather & Footwear (ILF) Expo 2026 untuk ke-19 kalinya di JIEXPO Kemayoran, Jakarta.
Daud menjelaskan, pameran tahun ini diikuti 210 perusahaan dari 14 negara, yakni Bangladesh, China, Hong Kong, India, Indonesia, Italia, Jerman, Korea Selatan, Pakistan, Singapura, Spanyol, Taiwan, Uni Emirat Arab, dan Vietnam. Sebanyak 50 pelaku UMKM alas kaki dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur juga turut berpartisipasi.
ILF Expo 2026 menampilkan berbagai solusi industri, mulai dari bahan baku kulit, alas kaki, garmen, aksesori, mesin produksi, teknologi otomasi, hingga solusi manufaktur modern. Pameran juga menghadirkan sekolah mode, peragaan desain sepatu, serta forum industri yang membahas penguatan rantai pasok nasional dan peningkatan daya saing industri alas kaki Indonesia di pasar global.
