Jakarta, TopBusienss – Sekitar 200 peserta yang mewakili perusahaan finalis TOP GRC Awards 2026, Kamis (27/8/2026) pagi hingga sore ini mengikuti Webinar TOP GRC Awards 2026. Webinar yang mengangkat tema “Sustainability by Design: A Journey Through Intelligent GRC” ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menuju puncak TOP GRC Awards 2026 yang akan digelar pada 9 September 2026.
Webinar diselenggarakan Majalah TopBusiness (PT Madani Solusi Internasional/MSI Group) dengan menghadirkan sejumlah pakar, dewan juri, serta perwakilan perusahaan finalis TOP GRC Awards 2026 untuk berbagi pengalaman mengenai penerapan governance, risk, and compliance (GRC).
Dalam sambutannya, Pemimpin Redaksi Majalah TopBusiness sekaligus CEO MSI Group, Moh. Lutfi Handayani, mengatakan webinar tersebut tidak hanya menjadi rangkaian kegiatan menuju puncak TOP GRC Awards 2026, tetapi juga menjadi forum pembelajaran dan pertukaran pengalaman bagi perusahaan peserta.
“Webinar ini bukan sekadar rangkaian acara menuju puncak TOP GRC Awards 2026. Lebih dari itu, forum ini kita tempatkan sebagai ruang pembelajaran bersama, tempat kita bertukar gagasan, bertukar pengalaman, praktik yang baik, dan perspektif baru agar GRC makin relevan dengan kebutuhan bisnis yang terus berubah,” ujar Lutfi.
Menurutnya, TOP GRC Awards dirancang sebagai proses pembelajaran sekaligus apresiasi bagi perusahaan yang tidak hanya memiliki perangkat GRC, tetapi mampu menjadikan GRC sebagai bagian dari cara organisasi berpikir dan mengambil keputusan.
“GRC tidak boleh berhenti pada protecting value, atau melindungi aset, reputasi dan kepatuhan saja. Tetapi GRC harus semakin mampu creating value, meningkatkan kualitas keputusan, memperkuat ketahanan bisnis, membuka peluang dan tentu menciptakan nilai dalam jangka panjang,” katanya.
Lutfi mengatakan, perubahan lingkungan bisnis membuat perusahaan perlu mengembangkan pendekatan GRC. Ketidakpastian ekonomi, perkembangan teknologi, tuntutan keberlanjutan, risiko siber, perubahan regulasi, hingga perkembangan artificial intelligence (AI) membuat GRC tidak cukup hanya berfungsi sebagai mekanisme kepatuhan.
Karena itu, perusahaan perlu mengarahkan penerapan GRC agar semakin mendukung proses pengambilan keputusan. Menurut Lutfi, GRC yang baik bukan sekadar memastikan organisasi patuh, tetapi membantu organisasi mengambil keputusan yang tepat dan bertanggung jawab.
“GRC yang baik bukan sekadar memastikan organisasi patuh, melainkan memastikan organisasi mengambil keputusan yang tepat, keputusan yang bertanggung jawab, tangguh dan keputusan yang dapat menciptakan nilai,” ujarnya.
Sustainability by Design
Lutfi menjelaskan, tema “Sustainability by Design: A Journey Through Intelligent GRC” mengajak perusahaan melihat keberlanjutan bukan sekadar sebagai laporan, checklist kepatuhan, maupun kumpulan indikator GRC.
Keberlanjutan, kata dia, perlu dibangun sejak awal dan menjadi bagian dari strategi, tata kelola, proses bisnis, sistem pengendalian, budaya organisasi, investasi teknologi, hingga mekanisme pengambilan keputusan.
“Karena itu sustainability harus didesain sejak awal. Ia perlu tertanam dalam strategi, dalam tata kelola kita, dalam proses bisnis kita, dalam sistem pengendalian, budaya organisasi, maupun dalam investasi teknologi hingga dalam mekanisme pengambilan keputusan,” jelasnya.
Dengan pendekatan tersebut, GRC diharapkan tidak menjadi lapisan tambahan di luar bisnis, melainkan menjadi bagian dari arsitektur bisnis perusahaan.
Dalam webinar tersebut, Lutfi juga menyampaikan tiga tujuan utama kegiatan. Pertama, menjadi sarana pembelajaran bersama untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas implementasi GRC dalam mendukung kinerja perusahaan agar terus tumbuh berkelanjutan.
Kedua, memperluas pertukaran pengalaman mengenai inovasi, tantangan, dan keberhasilan penerapan perangkat GRC di Indonesia. Ketiga, mendorong perusahaan agar semakin tangguh, adaptif, dan lincah menghadapi perubahan bisnis, teknologi, regulasi, serta perubahan ekspektasi para pemangku kepentingan.
Pergeseran Orientasi GRC
Sejumlah sesi dalam webinar membahas perkembangan praktik GRC dari berbagai perspektif. Salah satunya adalah GRC Sharing Session yang disampaikan Dr. Subramaniam Anbanathan, pakar dan peneliti GRC sekaligus Dewan Juri TOP GRC Awards 2026.
Sesi tersebut mengangkat tema “Disrupsi Kreatif Dalam Optimalisasi Implementasi GRC: Pergeseran Pola Penerapan GRC Compliance Oriented to Decision Oriented”.
Selain sesi pakar, webinar juga menghadirkan sharing pengalaman dari perusahaan-perusahaan finalis TOP GRC Awards 2026. Pada Sesi 1, hadir Agus Supriadi, Direktur Utama PT Jamkrida Jakarta (Perseroda); Peggy Fathiya, EVP Head of Integrated Risk Management Division PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero); serta Ahmad Fajar, Plt. Direktur Utama InJourney Tourism Development Corporation (ITDC). Sesi ini dimoderatori Kusuma Prabandari, SE, MM, CMHA, AssComp, CHRM, CGRCOP dari Dwika Consulting.
Sesi 2 menghadirkan Rendi Anlivianda Dwi Angga, Manager HSET & Compliance PT Sinar Terang Mandiri Tbk; Abdul Kudus, Direktur Keuangan, Manajemen Risiko dan Human Capital PT PLN Electricity Services; serta Iwan Dewanto, Direktur PT Indodana Multi Finance. Sesi ini dimoderatori Aldrin Herwany, SE., MM, PhD., yang merupakan Dewan Juri TOP GRC Awards 2026.
Sementara itu, sesi “Sustainable Finance, PSPK 1 dan PSPK 2” menghadirkan Dr. Sofi Suryasnia, M.Ak., CA., CWM, CGP, CCGO, CGRCP, CSA, Direktur Kepatuhan PT Asuransi Digital Bersama Tbk sekaligus Dewan Juri TOP GRC Awards, IRMAPA, AAUI, dan IAI.
Lutfi berharap webinar tersebut dapat memberikan gagasan yang dapat diterapkan perusahaan untuk memperkuat GRC, internal control, compliance, sustainability, serta tata kelola berbasis AI dan teknologi digital secara bertanggung jawab.
Ia juga menekankan pentingnya perubahan orientasi dalam penerapan GRC, dari sekadar kepatuhan menuju penciptaan nilai. “Dari compliance menuju value creation, dari reaktif menuju antisipatif, dan dari sekadar memiliki sistem menuju memastikan sistem tersebut benar-benar bekerja,” pungkas Lutfi.
