Jakarta, TopBusiness—Pasar ritel Jakarta terus berkembang menjadi semakin kompetitif, berorientasi pada pengalaman, dan semakin dipengaruhi oleh kebutuhan konsumen. Saat ini, pusat perbelanjaan tidak lagi hanya dilihat sebagai tempat untuk berbelanja, tetapi juga sebagai destinasi gaya hidup. Perubahan tersebut membuat kurasi tenant semakin penting dalam menjaga relevansi, memperkuat daya saing, dan meningkatkan daya tarik komersial jangka panjang sebuah pusat perbelanjaan.
Sander Halsema, Head of Retail Services Colliers Indonesia, mengatakan, “Bagi pemilik pusat perbelanjaan, penting untuk membangun tenant mix yang lebih strategis dan sesuai dengan profil pelanggan, pola belanja, preferensi gaya hidup, serta arah atau posisi bisnis mal untuk jangka panjang.”
Dalam keterangan yang diterima oleh Redaksi Majalah TopBusiness, hari ini, Halsema berkata, “Sementara itu, retailer perlu memilih lokasi yang tidak hanya strategis, tetapi juga sesuai dengan target konsumen, memiliki potensi produktivitas yang baik, dan mampu mendukung pertumbuhan permintaan di masa depan.”
Poin penting yang perlu menjadi perhatian pemilik pusat perbelanjaan dan retailer adalah: Pasar ritel Jakarta memasuki fase baru, dengan daya saing yang semakin ditentukan oleh evolusi aset, relevansi tenant, dan pengalaman pelanggan; retailer semakin selektif dalam memilih lokasi ekspansi yang dapat mendukung produktivitas penjualan dan positioning merek.
Kemudian: Pemilik pusat perbelanjaan perlu fokus pada repositioning berkelanjutan, kurasi tenant yang proaktif, dan konsep berbasis pengalaman; data yang terstruktur dengan baik menjadi penting dalam mendukung pengembangan bisnis ritel, penempatan tenant, dan strategi aset jangka panjang.
Halsema pun mengatakan, meski prospek pemulihan sektor ritel tetap positif, perbaikan masih berlangsung secara bertahap. Berdasarkan temuan dan analisis tim Research Colliers Indonesia, ruang kosong pada kuartal kedua tahun 2026 paling banyak terdapat di wilayah Jakarta Selatan di luar CBD, dengan estimasi sekitar 21%, diikuti oleh wilayah Jakarta Utara sekitar 20%. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan masih belum merata di berbagai lokasi dan kelas pusat perbelanjaan.
Di tengah kondisi tersebut, kurasi tenant menjadi salah satu faktor pembeda yang semakin penting. Pemilik pusat perbelanjaan perlu menghadirkan kombinasi tenant yang seimbang, mulai dari anchor tenant, brand internasional dan lokal yang sedang berkembang, layanan pendukung, konsep berbasis pengalaman, hingga tenant pendukung yang dapat bekerja sama dalam memperkuat pengalaman pengunjung di dalam pusat perbelanjaan.
Data dan wawasan konsumen memainkan peran yang semakin penting dalam strategi tenant mix.
