TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Ini Lima Intelligence yang Perlu Dimiliki Perusahaan di Era AI

Nurdian Akhmad
27 August 2026 | 10:00
rubrik: Business Info, Event, GCG
Ini Lima Intelligence yang Perlu Dimiliki Perusahaan di Era AI

Jakarta, TopBusiness – Perusahaan di era artificial intelligence (AI) tidak cukup hanya mengandalkan data dan teknologi. Organisasi juga membutuhkan kemampuan governance, manajemen risiko, serta pengambilan keputusan yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi secara cepat dan bertanggung jawab.

Ketua Dewan Juri TOP GRC Awards 2026, Dr. Antonius Alijoyo, mengatakan terdapat lima jenis intelligence yang perlu dipahami dan diintegrasikan perusahaan dalam menghadapi perubahan tersebut, yakni governance intelligence, adaptive risk intelligence, artificial intelligence, human intelligence, dan sustainability intelligence.

Hal tersebut disampaikan Antonius dalam keynote speech pada Webinar TOP GRC Awards 2026, Kamis (27/8/2026). Webinar bertema “Sustainability by Design: A Journey Through Intelligent GRC” tersebut diikuti sekitar 180 peserta yang mewakili perusahaan finalis TOP GRC Awards 2026.

Menurut Antonius, perkembangan teknologi telah mengubah konteks bisnis secara cepat. Pengambilan keputusan yang sebelumnya berlangsung secara periodik dan sangat bergantung pada data historis kini semakin banyak dipengaruhi algoritma, bahkan autonomous algorithm dan AI agents.

Perubahan tersebut menciptakan kesenjangan antara kecepatan perkembangan teknologi dengan model governance yang digunakan perusahaan.

“Risiko terbesarnya adalah bukan AI itu sendiri, tetapi bagaimana kita menggabungkan AI dengan yesterday governance model, dengan model-model yang masa lalu,” ujar Antonius.

Ia menjelaskan, perusahaan sebelumnya relatif nyaman dengan prediktabilitas, pengambilan keputusan secara periodik, historical data, risk reporting, serta control assurance. Namun, lingkungan bisnis saat ini bergerak menuju kondisi yang lebih real time, dengan keputusan dan intelligence yang berjalan secara bersamaan.

Karena itu, model governance juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, proses pengambilan keputusan, serta risiko baru yang muncul.

Lima Intelligence

Antonius menjelaskan, governance intelligence diperlukan agar perusahaan mampu membangun model tata kelola yang sesuai dengan konteks bisnis dan perkembangan teknologi. Governance tidak lagi cukup hanya menjawab apakah organisasi sudah patuh atau berada dalam kendali, tetapi juga harus mampu membantu perusahaan menentukan apa yang perlu dilakukan berikutnya.

BACA JUGA:   Tatkala GRC Tak Sekadar Kewajiban bagi Jasa Marga dan Efisienkan Rp43 Miliar

Sementara adaptive risk intelligence dibutuhkan untuk membaca dan mengantisipasi emerging risk. Menurut Antonius, perusahaan tidak bisa lagi hanya mengandalkan laporan risiko yang bersifat historis, tetapi perlu memiliki kemampuan mengantisipasi risiko yang sedang berkembang.

“Bagaimana kita mampu membaca emerging risk,” ujarnya.

Jenis intelligence berikutnya adalah artificial intelligence. Menurut Antonius, pemanfaatan AI harus disertai pemahaman mengenai batas kemampuan teknologi tersebut, termasuk potensi halusinasi dan bias yang dapat memengaruhi hasil yang digunakan dalam pengambilan keputusan.

Di sisi lain, perusahaan tetap membutuhkan human intelligence. Antonius menekankan pentingnya kemampuan manusia dalam berkomunikasi, membangun kepercayaan, serta menjaga transparansi dan akuntabilitas.

Hal tersebut menjadi penting karena semakin banyak keputusan yang terbantu oleh teknologi. Perusahaan perlu memastikan bahwa keputusan tetap dapat dipertanggungjawabkan dan tetap berorientasi pada manusia.

Intelligence kelima adalah sustainability intelligence. Antonius menegaskan bahwa sustainability tidak seharusnya hanya dipahami sebagai aktivitas pelaporan.

“Sustainability is no longer achieved by control alone, tapi sustainability should be or must be designed into every decision,” katanya.

Menurut dia, sustainability harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap titik proses pengambilan keputusan dan bahkan menjadi DNA organisasi.

Menjaga Trust dan Long-Term Value

Antonius mengatakan, perkembangan AI dan teknologi juga membawa tantangan terhadap trust. Di era ketika keputusan dan informasi dapat diproduksi serta disebarkan secara sangat cepat, kepercayaan dapat terganggu dalam waktu singkat.

Karena itu, perusahaan perlu memiliki kemampuan menjaga trust sekaligus menciptakan nilai dalam jangka panjang.

Ia menyebut sejumlah aspek yang perlu menjadi perhatian organisasi, antara lain employee livelihood, customer trust, community well-being, sustainability, serta kemampuan memastikan produk, keputusan, dan jasa yang dihasilkan tetap sesuai dengan kebutuhan generasi mendatang.

BACA JUGA:   Destry: Ada Peluang di Tengah Perlambatan Ekonomi Global

Menurut Antonius, tanggung jawab jajaran board bukan hanya mengejar profit atau mempertahankan nilai yang sudah dihasilkan pada masa lalu. Yang lebih penting adalah bagaimana perusahaan mampu preserve value, menjadi semakin resilient, menjaga trust, dan menciptakan long-term value.

“Bukan hanya profit, apalagi profit masa lalu yang kita bisa generate. Tetapi bagaimana kita bisa diukur dengan sejauh apa kita bisa menjaga atau preserve value tadi, sehingga kita makin resilient, kita bisa preserve trust, sehingga kita mampu create long-term value,” jelasnya.

Ia menilai organisasi masa depan tidak akan dimenangkan hanya oleh perusahaan yang memiliki data terbanyak, model AI paling canggih, atau teknologi paling tinggi. Keunggulan justru akan berada pada organisasi yang mampu mengelola intelligence secara bertanggung jawab.

“The future will be won by organizations yang mampu govern secara wise, anticipate uncertainty, build trust secara continuous, dan use intelligence secara bertanggung jawab,” tegas Antonius.

Governance Mengikuti Perubahan Teknologi

Menurut Antonius, pertanyaan utama bagi perusahaan saat ini bukan lagi apakah AI akan mentransformasi organisasi. Perubahan tersebut sudah berlangsung dan telah memengaruhi cara manusia bekerja serta berkomunikasi.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah perusahaan mampu membangun governance yang cukup cepat dan tepat untuk mengawal transformasi tersebut secara bertanggung jawab.

“Real question adalah apakah kita mampu govern our AI, govern our compliance sedemikian rupa sehingga cukup cepat untuk memastikan bahwa kita mampu mengawal dan memimpin transformasi yang apa pun yang akan terjadi secara bertanggung jawab,” katanya.

Karena itu, ia menekankan bahwa masa depan bukan hanya milik organisasi yang mengadopsi AI, melainkan organisasi yang mampu menerapkan governansi terhadap intelligence secara tepat.

Tags: Dr. Antonius AlijoyoTOP GRC Awards 2026Webinar TOP GRC Awards 2026
Previous Post

Kiat bagi Pengembang Properti Ritel Saat Pasar Kian Padat

Next Post

Transisi Energi Dukung Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan, Pemerintah Perkuat Industri dan Transportasi Rendah Emisi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR