TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Komitmen Pimpinan Jadi Penggerak Budaya Sadar Risiko Perumda Air Minum Tirta Aji

Ahmad Churi
3 September 2026 | 14:56
rubrik: Event
Komitmen Pimpinan Jadi Penggerak Budaya Sadar Risiko Perumda Air Minum Tirta Aji

Perumda Air Minum Tirta Aji Kabupaten Wonosobo berkomitmen perkuat penerapan Governance, Risk Management and Compliance (GRC) sebagai strategi untuk peningkatan kinerja, layanan, dan daya saing perusahaan yang berkelanjutan. Kepemimpinan atau leadership menjadi penggerak utama dalam menerapkan GRC, terutama dalam membangun budaya sadar risiko di semua lini unit kerja.

Jakarta, TopBusiness – Di tengah tantangan bisnis yang kian dinamis, membangun  budaya sadar risiko merupakan hal penting, sekaligus kritikal untuk keberlangsungan suatu organisasi atau perusahaan. Membangun budaya sadar risiko dan GRC di semua lini unit kerja, sangat penting agar setiap individu tidak hanya menjalankan tugas rutin, tetapi juga bisa aktif mengenali, memperhitungkan, serta mengendalikan adanya potensi hambatan dan risiko yang dihadapi. Sehingga setiap keputusan di tingkat unit kerja, bisa dilakukan berdasarkan pada analisis dampak dan ukuran risiko yang jelas, bukan sekadar kebiasaan.

Demikian salah satu poin penting yang diungkapkan Direktur Utama Muchammad Sjahid, S.IP., M.Si., GRC dalam sesi presentasi dan wawancara penjurian “TOP GRC Awarda 2026” secara daring (02/09/2026) yang dihelat Majalah TopBusiness-Jakarta. “Perumdam Tirta Aji memandang bahwa GRC merupakan fondasi penting untuk keberlanjutan perusahaan. Karena itu, penerapan GRC akan terus kami perkuat. Dilakukan secara terencana, terukur, dan berkelanjutan melalui Roadmap GRC sebagai panduan dalam setiap tahapan implementasi,” ungkapnya.

Turut hadir mendampingi dalam wawancara penjurian ini dari Perumda Tirta Aji, di antaranya Direktur Administrasi dan Keuangan -Nur Azis, S.H, Direktur Teknik Edekus Herience, S.Sos, dan tim Bagyo Ilham Wijaya, S.Sos, serta Greace Fitriana Chandramanik, ST. Sedangkan tim juri penilai terdiri Prof.DR Satya Arinanto (Guru Besar – Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH-UI), Ben De Haan.SH,  (Senior Advisor  MSI Group), Ir  Thendri Supriatno (Founder CFCD), DR. Sentot Baskoro (AGKRI) yang dimoderatori oleh Ahmad Churi (MSI Group).

Tahun ini untuk pertama kalinya, Perumda Air Minum Tirta mengikuti ajang penilaian  bidang  bidang governance, risk management, dan compliance management (GRC) yang diselenggarakan secara berkala oleh majalah TopBusiness bekerja sama dengan sejumlah asosiasi dan pakar GRC profesional. Tahun ini mengangkat tema Sustainability by Design: A Journey Through Intelligent GRC.” Tema ini menegaskan bahwa keberlanjutan bisnis harus dirancang sejak awal (by design) dan dijalankan sebagai perjalanan transformasi berkelanjutan, dengan dukungan sistem tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan yang cerdas serta terintegrasi. Tema tersebut relevan dengan situasi global yang dihadapkan pada tantangan kompleks, mulai dari perubahan iklim, kesenjangan sosial, hingga ketidakpastian ekonomi.

BACA JUGA:   PT KIW Gunakan Pendekatan ESG untuk Hadirkan CSR Berkelanjutan

            Dalam kesempatan ini, Direktur Utama Muchammad Sjahid menyampaikan materi presentasi berjudul “From Good to Great Perumda Air Minum Tirta Aji Melalui Governance Risk and Compliance”. Dalam presentasinya, ia menekankan pentingnya membangun budaya sadar risiko di lingkungan perusahaan untuk memastikan bahwa setiap pegawai di semua lini kerja memahami pentingnya memahami adanya risiko perusahan dan  bagaimana memitigasi risiko tersebut. “Kita akui secara manajerial saat ini tingkat kematangan GRC di kita masih  rendah. Dan inilah yang akan kita kejar untuk diperkuat penerapannya secara lebih terencana, terukur, dan berkelanjutan melalui Roadmap GRC sebagai panduan dalam setiap tahapan implementasi,” ujarnya.

            Di bawah kepemimpinannya, ke depan  GRC tidak hanya diposisikan sebagai pemenuhan regulasi, tetapi diintegrasikan ke berbagai aspek untuk mendukung dalam pengambilan keputusan dan aktivitas operasional perusahaan. “GRC harus menjadi bagian dari budaya kerja, bukan hanya dokumen atau prosedur. Karena itu, kesadaran terhadap risiko harus dibangun di seluruh organisasi,” ujarnya.

            Terkait penerapan GRC, di jelaskan bahwa Dewan Pengawas secara rutin menggelar rapat sekurang-kurangnya empat kali dalam setahun. Dewan Pengawas juga memberikan arahan kepada Direksi, baik secara langsung maupun melalui sarana telekomunikasi.

            Selanjutnya, Direksi menerjemahkan arahan dan kebijakan tersebut ke dalam implementasi di seluruh unit kerja. Pola ini menunjukkan bahwa penerapan GRC dimulai dari level pimpinan dan kemudian diturunkan menjadi tanggung jawab bersama di lingkungan perusahaan.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena bisnis perusahaan air minum menghadapi risiko yang beragam. Tidak hanya menyangkut keuangan, tetapi juga ketersediaan air baku, kontinuitas pelayanan, kualitas air, kebocoran jaringan hingga gangguan operasional.

Karena itu, Tirta Aji mengintegrasikan pengelolaan risiko dengan kegiatan bisnis melalui berbagai instrumen. Di antaranya pengendalian Non-Revenue Water (NRW), penyediaan mata air cadangan, reservoir, penggunaan data logger, penerapan Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM), serta pengukuran kinerja melalui Tirta Aji Berbasis Kinerja (TABK).

BACA JUGA:   PT Jamkrida Sumbar akan Tingkatkan Kemampuan HC dalam Mitigasi Risiko

Dengan model tersebut, risiko tidak lagi menjadi urusan satu bagian tertentu. Risiko operasional bahkan dimasukkan dalam pengukuran kinerja sehingga memiliki keterkaitan langsung dengan target perusahaan.

Risiko Dideteksi Sebelum Menjadi Gangguan

Komitmen pimpinan terhadap budaya sadar risiko juga diterjemahkan melalui sistem deteksi dan mitigasi sejak dini. Perumdam Air Minum Tirta Aji menggunakan data logger untuk memantau debit dan tekanan air. Perusahaan juga menyiapkan mata air cadangan dan reservoir serta skenario aktivasi pompa apabila terjadi penurunan debit.

Langkah antisipatif tersebut diperlukan untuk mendukung target pelayanan air selama 24 jam. Saat ini, tingkat NRW Tirta Aji berada pada kisaran 23,03%-23,63%.

Untuk memperkuat ketahanan pasokan, perusahaan juga memiliki empat reservoir baru yang berada di Wonobungkah, Sariyoso, Sambon dan Kencen. Infrastruktur tersebut disiapkan sebagai cadangan untuk menghadapi lonjakan kebutuhan air.

Manajemen risiko juga diterapkan untuk menjaga kualitas air. Tirta Aji mencatat sekitar 92,61%-95,92% sampel air memenuhi syarat. Pengendalian dilakukan melalui klorinasi rutin, monitoring sisa klor dan penerapan RPAM di sejumlah zona pelayanan.

Slogan “Ora Bali Sakdurunge Mili”

Perusahaan menerapkan pudaya responsif atas berbagai keluhan dan layanan yang kemudian diterjemahkan dalam slogan perusahaan, “Ora Bali Sakdurunge Mili”, yang berarti tidak pulang sebelum air mengalir.

Slogan ini bukan sekadar semboyan, tetapi menjadi simbol komitmen pegawai untuk segera merespons gangguan dan memastikan kebutuhan pelanggan terpenuhi.

Komitmen leadership Perumda Air Minum Tirta Aji juga terlihat dari pembangunan roadmap GRC secara terencana dan berkelanjutan. Manajemen menempatkan GRC sebagai fondasi untuk mewujudkan tata kelola yang baik, pengelolaan risiko yang efektif serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.

Roadmap tersebut antara lain mencakup pembentukan tim Good Corporate Governance (GCG), penyempurnaan SOP, monitoring tata kelola dan asesmen GCG.

BACA JUGA:   Bank Kalsel Sadari Pengembangan Human Capital adalah Faktor Utama

Dari sisi manajemen risiko, perusahaan menyusun risk appetite, risk tolerance, risk register dan risk profile. Tirta Aji juga menetapkan Key Risk Indicator (KRI), melakukan risk assessment terhadap seluruh unit serta menyiapkan langkah mitigasi risiko.

Implementasi tersebut mulai memberikan dampak terhadap proses pengambilan keputusan. Penguatan kebijakan dan pembagian tugas membuat pengambilan keputusan menjadi lebih transparan dan akuntabel, sekaligus memperjelas tanggung jawab masing-masing unit kerja.

Pendekatan GRC juga berjalan beriringan dengan kinerja perusahaan. Laba bersih Tirta Aji meningkat dari sekitar Rp13,5 miliar menjadi Rp15 miliar. Sementara dividen yang disetorkan kepada Pemerintah Kabupaten Wonosobo mencapai Rp7,43 miliar.

Di sisi operasional, tingkat NRW tetap berada di kisaran 23%, sementara  perusahaan menargetkan pelayanan air selama 24 jam.Bagi Tirta Aji, penerapan GRC menjadi instrumen penting untuk menjaga keseimbangan antara fungsi pelayanan publik dan keberlanjutan bisnis. Sebagai BUMD yang 100% dimiliki Pemerintah Kabupaten Wonosobo, perusahaan tidak hanya dituntut memberikan pelayanan air kepada masyarakat, tetapi juga menjaga kinerja usaha dan memberikan kontribusi kepada daerah.

Di sinilah peran leadership menjadi krusial. Komitmen pimpinan memastikan GRC tidak berhenti sebagai seperangkat aturan, risk register, maupun SOP, melainkan diterjemahkan menjadi perilaku dan keputusan di seluruh organisasi.

Dengan budaya sadar risiko yang terus diperkuat, Perumda Air Minum Tirta Aji berupaya memastikan setiap potensi gangguan dapat diantisipasi lebih awal sehingga kualitas pelayanan kepada masyarakat tetap terjaga sekaligus mendukung pertumbuhan perusahaan secara berkelanjutan.

Tags: Perumda Air Minum Tirta Aji
Previous Post

Pertamina Drilling Bekali 20 Perwira SCM PHR dengan Pengetahuan Dasar Pengeboran

Next Post

Peruri Dorong Digitalisasi Administrasi Properti lewat e-Meterai dan Tanda Tangan Digital

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR