TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Akhir Perdagangan Sesi Kamis , IHSG Menguat

Agus Haryanto
3 September 2026 | 16:21
rubrik: Capital Market
FOTO2 BURSA EFEK

Bursa Efek Indonesia (Rendy MR/TopBusiness)

Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis (3/9/2026) dengan penguatan 72,11 poin atau 1,09% ke level 6.667,89.

Penguatan IHSG berlangsung cukup solid hingga akhir sesi perdagangan. Berdasarkan data perdagangan, sebanyak 402 saham ditutup menguat, sedangkan 213 saham melemah dan 180 saham lainnya stagnan.

Aktivitas transaksi juga cukup tinggi. Total volume perdagangan saham mencapai 40,43 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp18,39 triliun.

Dari 11 indeks sektoral, sembilan sektor berhasil ditutup di zona hijau. Sektor transportasi menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 2,45%, disusul sektor perindustrian yang naik 1,89% dan sektor barang konsumen non-siklikal sebesar 1,62%.

Sementara itu, sektor teknologi menjadi sektor yang paling tertekan dengan penurunan 1,62%. Sektor kesehatan juga melemah tipis 0,02%.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar dan anggota LQ45 turut menopang penguatan IHSG. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menjadi salah satu penggerak utama setelah menguat 8,25%.

Pada perdagangan sesi akhir, sejumlah saham unggulan juga bergerak positif. Data pasar menunjukkan BBCA berada di kisaran Rp6.750 atau menguat sekitar 1,12%, BBRI di Rp3.420 atau naik 0,88%, BMRI sekitar Rp4.430 atau menguat 1,61%, serta BBNI di Rp3.990 atau naik 2,31%.

Saham ASII juga mencatat kenaikan cukup kuat sekitar 3,10% ke Rp4.990, sedangkan TLKM berada di sekitar Rp2.610 atau naik 0,77%. CPIN tercatat di sekitar Rp3.310 dengan penguatan lebih dari 9%, sementara PTBA berada di kisaran Rp2.920. Data pasar pada akhir perdagangan juga menunjukkan ADRO menguat sekitar 3,02% ke Rp2.730.

Kenaikan IHSG pada Kamis memperlihatkan berlanjutnya momentum rebound pasar saham domestik. Sehari sebelumnya, IHSG ditutup melemah tipis 0,06% ke sekitar level 6.596. Dengan demikian, kenaikan 1,09% pada Kamis membawa indeks kembali melewati level 6.650.

BACA JUGA:   Ditopang Sektor Infrastruktur, IHSG Dibuka Menguat

Namun, investor tetap perlu mewaspadai potensi aksi ambil untung apabila indeks gagal menembus dan bertahan di atas 6.700. Penguatan yang cukup cepat juga membuka kemungkinan terjadinya profit taking, terutama pada saham-saham yang telah mengalami kenaikan signifikan.

Pergerakan saham bank besar juga menjadi perhatian karena sebelumnya investor asing tercatat aktif mengakumulasi saham BBRI, BBCA dan BMRI.

Pada 1 September 2026, investor asing mencatat net foreign buy sekitar Rp2,02 triliun di pasar saham domestik. BBRI menjadi saham dengan net foreign buy terbesar sekitar Rp838,01 miliar, disusul BBCA Rp435,35 miliar dan BMRI sekitar Rp172,25 miliar.

Aliran dana tersebut penting dicermati karena saham-saham berkapitalisasi besar memiliki bobot signifikan terhadap pergerakan IHSG. Apabila akumulasi asing berlanjut, khususnya pada saham perbankan jumbo, hal tersebut dapat menjadi penopang bagi indeks.

Dengan penutupan di level 6.667,89, IHSG kini berada di area penting 6.650–6.700. Penguatan volume dan dominasi saham naik memberikan konfirmasi positif terhadap rebound jangka pendek.

Namun, level 6.700 menjadi resistance psikologis yang perlu ditembus secara meyakinkan. Apabila berhasil, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menuju level berikutnya. Sebaliknya, kegagalan bertahan di atas 6.650 dapat memicu aksi profit taking dan membawa indeks kembali menguji area 6.600–6.630.

Investor juga akan mencermati perkembangan pasar global dan data ketenagakerjaan Amerika Serikat, terutama laporan nonfarm payrolls yang dijadwalkan dirilis Jumat (4/9/2026). Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve dan pada akhirnya memengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Data AI

Tags: ihsgindeksJCI
Previous Post

Legalitas Aman, Lokasi Strategis dengan Harga Terjangkau, Hunian HK Realtindo Diminati di Danantara Housing Expo 2026

Next Post

Jalan dan Jembatan Pascagempa NTT Pulih, 651 Prasarana Masih Dalam Penanganan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR