Jakarta, TopBusiness — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka perdagangan Rabu (16/9/2026) di zona merah. IHSG turun 7,24 poin atau 0,11 persen ke level 6.453,91.
Pelemahan juga terjadi pada kelompok 45 saham unggulan. Indeks LQ45 turun 1,13 poin atau 0,17 persen ke posisi 649,63. Data pembukaan tersebut dikutip dari perdagangan BEI pada Rabu pagi.
Tekanan jual kemudian berlanjut pada menit-menit awal perdagangan. Berdasarkan data RTI yang dikutip DetikFinance, pada pukul 09.02 WIB, IHSG berada di level 6.452,47, atau turun 8,67 poin (0,13 persen). Dengan demikian, indeks kembali bergerak lebih rendah dibandingkan posisi pembukaan.
Sementara berdasarkan data perdagangan BEI hingga sekitar pukul 09.05 WIB, IHSG sempat bergerak pada level terendah 6.445,24 dan level tertinggi 6.512,24. Rentang tersebut menunjukkan bahwa volatilitas langsung muncul sejak awal sesi perdagangan.
Saham Berkapitalisasi Besar Jadi Perhatian
Pelemahan LQ45 sebesar 0,17 persen menunjukkan tekanan juga terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar. Kondisi ini penting dicermati karena saham big caps memiliki bobot cukup besar terhadap pergerakan IHSG.
Pada perdagangan sebelumnya, Selasa (15/9), IHSG ditutup melemah 1,13 persen ke 6.461,15. Tekanan tersebut disertai net foreign sell sekitar Rp354,16 miliar. Sepanjang periode 9–15 September, akumulasi jual bersih investor asing bahkan mencapai sekitar Rp2,79 triliun.
Tekanan jual asing tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pelaku pasar masih berhati-hati pada perdagangan hari ini.
Menunggu Keputusan The Fed
Selain faktor domestik, investor juga mencermati perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat. Pasar menunggu hasil pertemuan Federal Reserve atau The Fed yang berlangsung pada 15–16 September 2026.
Yield obligasi Amerika Serikat sempat menembus 5 persen dan ditutup sekitar 4,995 persen, sedangkan harga minyak Brent berada di sekitar US$108,75 per barel. Kombinasi kenaikan yield dan harga minyak tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi ruang pelonggaran kebijakan moneter.
Data AI
