Jakarta, TopBusiness – PT Pupuk Indonesia (Persero) menargetkan pembangunan dan peremajaan delapan pabrik dalam lima tahun ke depan. Program ini menjadi bagian dari strategi perusahaan meningkatkan efisiensi energi, kapasitas produksi, dan keandalan operasional.
Langkah tersebut mulai menunjukkan hasil melalui Revamping Ammonia Pabrik-2 Pupuk Kalimantan Timur. Proyek ini berhasil menekan konsumsi gas lebih dari 10%, sehingga memperkuat efisiensi proses produksi.
Direktur Operasi Pupuk Indonesia Dwi Satriyo Annurogo mengatakan transformasi operasional akan terus dilanjutkan untuk memperkuat daya saing perusahaan.
“Ke depan, transformasi akan terus kami lanjutkan untuk membangun Pupuk Indonesia yang lebih efisien, agile, dan kompetitif,” ujar Dwi Satriyo di Jakarta, dikutip Selasa (22/9/2026).
Transformasi Pupuk Indonesia tidak hanya menyasar fasilitas produksi pupuk. Perusahaan juga mulai memperluas portofolio ke industri dan specialty chemical melalui pembangunan pabrik soda ash serta rencana pengembangan pabrik metanol.
Ekspansi tersebut diarahkan untuk menciptakan nilai tambah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor komoditas strategis. Dengan demikian, pengembangan bisnis diharapkan tidak hanya memperkuat kinerja perusahaan, tetapi juga mendukung daya saing industri nasional.
Di bisnis pupuk bersubsidi, Pupuk Indonesia mencatat penyaluran sebanyak 8.110.571 ton sepanjang 2025. Realisasi tersebut meningkat 10,68% dibandingkan 2024.
Perubahan mekanisme subsidi melalui Perpres Nomor 113 Tahun 2025 turut menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi. Skema subsidi berubah dari cost-plus menjadi marked-to-market dan menerapkan pembayaran bahan baku di muka.
Efisiensi tersebut turut membuka ruang bagi pemerintah untuk menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sebesar 20% sejak Oktober 2025. Di tengah meningkatnya permintaan menjelang musim tanam, Pupuk Indonesia memastikan ketersediaan stok pupuk bersubsidi tetap terjaga.
Dari sisi bisnis, transformasi dan efisiensi tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan kinerja. Pendapatan Pupuk Indonesia meningkat menjadi Rp90,4 triliun pada 2025, dari Rp81,6 triliun pada 2024.
Capaian tersebut menempatkan Pupuk Indonesia sebagai BUMN dengan pendapatan terbesar ke-8 di Indonesia. Penguatan posisi perusahaan juga tercermin dalam Fortune Southeast Asia 500 2026, di mana peringkat Pupuk Indonesia naik dari posisi 69 menjadi 68.
Sementara dalam Fortune Indonesia 100 tahun 2026, Pupuk Indonesia berada di peringkat 14. Capaian tersebut memperlihatkan penguatan fundamental perusahaan yang ditopang transformasi tata kelola, operasional, efisiensi, serta diversifikasi bisnis.
