Jakarta, TopBusiness — PT Asiacross Investindo atau Asiacross Group terus memperkuat strategi Human Capital (HC) melalui pembangunan sistem pengelolaan sumber daya manusia yang terintegrasi, berbasis budaya perusahaan, pengembangan kepemimpinan, serta dukungan teknologi digital.
Sebagai perusahaan induk (holding company) yang menaungi sejumlah perusahaan di sektor manufaktur, properti, hingga bisnis konsumen, Asiacross Group membangun Human Capital Management System (HCMS) yang terintegrasi dengan solusi digital untuk mendukung pengelolaan talenta dan kebutuhan bisnis di seluruh ekosistem perusahaan.
Group HR Director, Evilin Kumala Warangian, mengatakan strategi HC di Asiacross dirancang untuk membangun talenta yang tidak hanya memiliki kompetensi profesional, tetapi juga karakter dan nilai yang selaras dengan budaya perusahaan.
“Kami membangun strategi Human Capital (HC) dan pengelolaan talenta melalui pendekatan berbasis budaya perusahaan, pengembangan kepemimpinan yang berkesinambungan, serta digitalisasi sistem,” ujar Evilin saat memaparkan strategi HC Asiacross kepada dewan juri Top HC Award 2026, Jumat (25/9/2026).
Menurut Evilin, salah satu fondasi utama pengelolaan HC di Asiacross adalah penerapan nilai budaya perusahaan GRACE, yang terdiri atas Genuine (tulus), Resilient (tangguh), Agile (lincah/cekatan), Collaborative (kolaboratif), dan Enterprising (berjiwa wirausaha).
Nilai-nilai tersebut tidak hanya ditempatkan sebagai identitas perusahaan, tetapi diupayakan menjadi pedoman perilaku bagi pimpinan maupun karyawan.
Internalisasi nilai GRACE dilakukan melalui berbagai kegiatan, termasuk HR Summit: People & Values. Forum tersebut menjadi salah satu sarana bagi manajemen dan tim Human Resources untuk memperkuat pemahaman terhadap nilai perusahaan sekaligus memastikan budaya tersebut tetap relevan di tengah perubahan lingkungan bisnis.
Dalam pengembangan kepemimpinan, Asiacross menjalankan Leaders Ignite Program, sebuah program Leadership Development berjenjang dengan pendekatan hybrid.
Program ini dibangun melalui tiga tahapan utama, yakni Leading Self, Leading Team, dan Leading Business.
Pada tahap Leading Self, peserta dibekali kemampuan memimpin diri melalui lima modul utama, yaitu Mindfulness, Emotional Intelligence, Growth Mindset, Personal Excellence, serta Healthy and Happy Life.
Tahapan tersebut menjadi fondasi sebelum peserta memasuki kemampuan memimpin tim dan mengelola bisnis. Pada level Leading Team, peserta diarahkan untuk mampu mengelola serta menggerakkan tim secara efektif. Sementara Leading Business berfokus pada kemampuan berpikir strategis dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan bisnis.
“Pengembangan kepemimpinan kami dimulai dari dalam diri. Kami ingin memastikan talenta memiliki fondasi yang kuat sebelum mereka memimpin orang lain maupun bisnis,” jelas Evilin.
MDP dan Pengalaman Langsung di Lapangan
Asiacross juga menjalankan Management Development Program (MDP) sebagai salah satu jalur akselerasi talenta muda.
Program ini menyasar lulusan perguruan tinggi yang dinilai memiliki potensi kepemimpinan dan pengalaman organisasi. Para peserta kemudian mendapatkan pembekalan dan pengalaman kerja untuk dipersiapkan mengisi berbagai posisi strategis di lingkungan perusahaan.
Pengembangan tersebut tidak berhenti pada pembelajaran di kelas. Asiacross menerapkan On-the-Job Training (OJT) dan rotasi agar peserta memperoleh pengalaman langsung dalam berbagai fungsi.
Melalui metode tersebut, talenta dapat memahami proses kerja secara lebih komprehensif, mulai dari manpower planning, rekrutmen, hingga pengelolaan kinerja.
Keberadaan sejumlah lini bisnis dalam ekosistem Asiacross juga memberikan ruang bagi talenta untuk memperoleh pengalaman lintas industri, khususnya dalam memahami karakteristik dan kebutuhan sumber daya manusia yang berbeda.
Transformasi digital menjadi bagian lain dari strategi HC Asiacross. Perusahaan melakukan digitalisasi proses kerja untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan penggunaan data dalam pengambilan keputusan.
Salah satu implementasinya adalah Performance Management System—Proper 2.0. Sistem tersebut digunakan untuk membantu proses pengelolaan dan penilaian Key Performance Indicators (KPI) agar lebih terstruktur serta berbasis data.
Digitalisasi ini sekaligus mendukung penyelarasan antara target individu, kebutuhan organisasi, dan sasaran bisnis perusahaan.
Selain kompetensi dan kinerja, Asiacross memberikan perhatian terhadap kualitas komunikasi serta kesejahteraan karyawan.
Melalui program Communication Training: Say What Matters, karyawan dan pemimpin dibekali teknik komunikasi untuk menghadapi percakapan yang sulit secara konstruktif. Beberapa pendekatan yang digunakan antara lain metode D.E.S.C dan ACT.
Program tersebut membawa prinsip “Clear is Kind, Unclear is Unkind”, yang menekankan pentingnya komunikasi yang jelas untuk membangun hubungan kerja yang sehat dan kolaboratif.
Di sisi lain, aspek well-being juga menjadi bagian dari strategi HC melalui berbagai Wellness Program, termasuk edukasi mengenai kesehatan finansial.
Evilin mengatakan, kombinasi antara budaya perusahaan, pengembangan kepemimpinan, digitalisasi, komunikasi, dan well-being diarahkan untuk menciptakan lingkungan kerja yang mampu mendorong karyawan mengembangkan potensi terbaiknya.
Membentuk Manusia yang Adaptif
Menurut Evilin, salah satu karakter utama sistem HC Asiacross adalah upaya menyelaraskan pengembangan manusia dengan kebutuhan strategis bisnis.
Sebagai perusahaan induk dengan portofolio bisnis yang beragam, Asiacross tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga membangun karakter talenta agar mampu beradaptasi terhadap perubahan.
“Keunggulan utama pembangunan Human Capital di Asiacross terletak pada kemampuan menyelaraskan pengembangan manusia dengan kebutuhan strategis bisnis. Kami tidak hanya membangun kompetensi, tetapi juga karakter manusia yang adaptif terhadap perubahan,” tutur Evilin.
Ia menambahkan, pendekatan Leading Self menjadi salah satu fondasi penting dalam pengembangan talenta. Pembekalan mengenai Mindfulness, Emotional Intelligence, dan Growth Mindset diarahkan untuk membangun ketahanan dan kesiapan individu sebelum memasuki tahapan kepemimpinan berikutnya.
Sementara itu, nilai GRACE terus diintegrasikan ke dalam berbagai proses HC, termasuk pengembangan talenta dan manajemen kinerja.
Dengan pendekatan tersebut, Asiacross Group berupaya membangun ekosistem Human Capital yang tidak hanya mendukung kebutuhan organisasi saat ini, tetapi juga mempersiapkan talenta untuk menghadapi tantangan bisnis di masa mendatang.
“Pada akhirnya, tujuan kami adalah bring out the best in our people,” tegas Evilin.
