Jakarta, TopBusiness – PT Bank Amar Indonesia Tbk (Amar Bank) menyoroti nilai kontrak pekerja kreatif berbasis proyek yang bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah, namun masih kerap terkendala dalam mengakses layanan perbankan.
Salah satu persoalannya muncul dari sistem pembayaran proyek dengan nilai kontrak sekaligus (lump sum) yang mencakup berbagai kebutuhan produksi.
Karena itu, nilai proyek yang tercantum belum tentu sama dengan penghasilan yang bisa dikelola oleh mereka. Akibatnya, nilai ekonomi yang dihasilkan sulit dibaca oleh sistem perbankan untuk mengukur tingkat kelayakan kredit (creditworthiness) secara presisi.
Persoalannya, apa yang membuat angka dalam kontrak tidak serta-merta menjadi penghasilan bersih?
Lantas, ke mana sebenarnya dana dalam satu nilai kontrak tersebut mengalir? Diskusi bersama Indonesian Film Editors (INAFEd) dan Asosiasi Casting Indonesia (ACI) menunjukkan bahwa di balik satu angka kontrak terdapat sejumlah aliran dana yang menentukan berapa besar pendapatan yang benar-benar dapat dikelola pekerja kreatif.
Bagi editor, umumnya pembelian dan perawatan perangkat kerja ditanggung sendiri. Biaya tersebut ikut mengurangi pendapatan, meski peralatan menjadi bagian penting dari proses kerja dan belum selalu diperhitungkan dalam nilai kontrak.
“Karena pekerjaan kami berbasis proyek, ketika mendapatkan pekerja, tentu pemasukan harus dikelola dengan baik. Kita tidak tahu kapan proyek berikutnya datang. Jadi, ketika ada pemasukan,harus bisa mengaturnya dengan baik agar tetap bisa berjalan sampai mendapatkan proyek berikutnya,” ujar Aline Jusria, anggota sekaligus Humas INAFEd.
Calvin Moniaga, Ketua Umum ACI menambahkan, kita harus bisa membedakan mana yang memang menjadi pendapatan dan mana yang merupakan uang untuk kebutuhan proyek. “Karena kalau semuanya tercampur, nanti sulit untuk melihat sebenarnya berapa penghasilan kita,” katanya.
Buka Akses Pembiayaan Pekerja Kreatif
Keterbatasan rekam finansial tidak serta-merta membuat pekerja berbasis proyek harus tersisih dari akses pembiayaan.
Senior Vice President MSME Amar Bank Josua Sloane menjelaskan, pendekatan Amar Bank tidak hanya menyaring nasabah yang sudah bankable, tetapi juga berupaya membantu nasabah membangun kualitas data finansial agar dapat dinilai dengan lebih baik.
Karena itu, Amar Bank berupaya menyederhanakan proses agar nasabah lebih mudah memasukkan dan menata data finansialnya. Dalam konteks pekerja berbasis proyek, Josua juga menyoroti pentingnya membedakan arus kas berdasarkan sumber dan penggunaannya.
Pemasukan dari proyek, kebutuhan pribadi, pembiayaan, maupun dana lainnya perlu dicatat secara terpisah agar kondisi keuangan dapat terlihat dengan jelas.
“Pendekatan kami bukan memfilter, melainkan merangkul pekerja kreatif yang selama ini sulit masuk ke sistem perbankan konvensional. Melalui platform Amar Bank Bisnis, kami membantu memisahkan arus kas pribadi dan proyek secara transparan serta menyediakan fitur pencatatan dan edukasi keuangan,” ujarnya, Kamis (8/10/2026).
Dalam konteks tersebut, Amar Bank Bisnis membantu editor menata pola keuangan tanpa mengubah karakter kerja berbasis proyek, sehingga rekam transaksi dapat memberikan gambaran finansial yang lebih utuh bagi perbankan.
Pendekatan ini menempatkan pembiayaan bukan semata-mata sebagai hasil dari profil finansial yang sudah matang, tetapi juga sebagai bagian dari proses membangun kapasitas finansial pekerja kreatif agar semakin terukur, tertata, dan bankable.
