Jakarta, TopBusiness – PT BPR Bank Sidoarjo (Perseroda) menempatkan pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai bagian penting dari strategi menjaga keberlanjutan bisnis. Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah menyiapkan talenta internal sebelum kebutuhan terhadap suatu posisi muncul, antara lain melalui rotasi, pengembangan kompetensi, coaching, serta pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan human capital.
Direktur Kepatuhan Bank Sidoarjo, Dedy Setiawan, mengatakan, rotasi pegawai tidak hanya dimaksudkan sebagai bagian dari pengendalian internal, tetapi juga menjadi sarana untuk memperluas pengalaman dan kompetensi pegawai.
Menurut Dedy, pegawai didorong untuk memiliki pengalaman di berbagai fungsi, termasuk perpindahan dari back office ke front office maupun sebaliknya, sepanjang memungkinkan dan sesuai dengan kebutuhan organisasi.
“Rotasi ini selain sebagai sarana pengendalian internal, kami nilai sebagai sarana agar pegawai memiliki pengalaman kerja yang lebih luas. Misalnya, dari back office bisa ke front office, dan front office pun bisa ke back office. Dari situ kami belajar dari pekerjaan sehari-hari,” ujar Dedy dalam sesi penjurian TOP Human Capital Awards 2026 yang dilakukan secara daring, Kamis (8/10/2026).
Hadir pula dalam penjurian ini Direktur Utama Bank Sidoarjo Sofia Nurkrisnajati Atmaja.
Dedy menjelaskan, pengalaman lintas fungsi tersebut penting karena kebutuhan bisnis perbankan, termasuk BPR, semakin kompleks. Pegawai tidak cukup hanya memahami fungsi masing-masing, tetapi juga perlu memiliki pemahaman mengenai proses bisnis secara lebih menyeluruh.
Di Bank Sidoarjo, rotasi juga diarahkan untuk membangun kesiapan pegawai ketika suatu saat terjadi kekosongan posisi. Dengan demikian, bank tidak selalu harus mencari talenta dari luar ketika membutuhkan pengisi jabatan tertentu.
“Kami biasakan secara berjenjang itu rolling ke tempat-tempat yang berbeda. Mungkin itu merupakan suatu tantangan bagi SDM tersebut, tetapi itu adalah pembelajaran. Jadi jangan takut menempati posisi yang berbeda,” katanya.
Dedy menegaskan, Bank Sidoarjo memiliki prinsip bahwa perusahaan harus menyiapkan orang sebelum posisi tersebut benar-benar kosong.
Prinsip tersebut juga tercantum dalam sistem workforce planning Bank Sidoarjo. Bank melakukan identifikasi kebutuhan SDM, penempatan berdasarkan kompetensi, pemetaan pegawai potensial, serta rotasi, promosi, pelatihan dan penugasan untuk menyiapkan calon internal bagi kebutuhan jabatan di masa mendatang. Top HC 2026
“Tagline kami, sebelum posisi itu kosong, kami menyiapkan orang. Kami tidak hanya mencari orang ketika suatu posisi kosong, tetapi mulai menyiapkan orang sebelum posisi tersebut dibutuhkan,” ujar Dedy.
Menurut dia, pola tersebut memungkinkan bank memiliki alternatif talenta internal untuk mengisi posisi strategis, termasuk pada level kepala divisi maupun jabatan yang lebih tinggi.
Menariknya, pengembangan tersebut tidak selalu mensyaratkan latar belakang pendidikan yang sepenuhnya linear dengan posisi yang ditempati. Namun, perpindahan fungsi tetap dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan pegawai serta disertai proses pembelajaran dan pendampingan.
Dedy mencontohkan fungsi accounting. Pegawai yang sebelumnya bekerja di front office dapat diberikan kesempatan mempelajari accounting secara bertahap. Pegawai tidak langsung dilepas untuk menjalankan fungsi baru, tetapi tetap berada dalam pengawasan atasan dan mendapatkan pendampingan dari rekan kerja yang telah memahami fungsi tersebut.
“Kami tidak melepas begitu saja langsung memegang accounting. Tentunya kami melihat juga pekerjaannya sehari-hari, kemudian ada atasan yang mengawal. Jadi proses pembelajarannya tetap ada,” jelasnya.
Pembelajaran Berbasis Kasus Sehari-hari
Pendekatan talent development di Bank Sidoarjo juga tidak hanya mengandalkan pelatihan formal. Pembelajaran berlangsung melalui pekerjaan sehari-hari, coaching dan diskusi atas kasus yang dihadapi pegawai.
Dalam presentasinya, Bank Sidoarjo menjelaskan bahwa pengembangan SDM dilakukan melalui coaching dan arahan langsung, sharing knowledge, pelatihan sesuai kebutuhan, serta pemberian tugas dan tanggung jawab lebih besar. Pendekatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kompetensi dan mempersiapkan pegawai menghadapi tanggung jawab yang lebih besar.
Dedy mengatakan, setiap persoalan yang dihadapi pegawai dapat menjadi bahan pembelajaran. Jika sebuah kasus belum dapat diselesaikan pada level tertentu, persoalan tersebut dapat dieskalasikan kepada atasan hingga kepala divisi atau direksi.
“Pembelajaran sehari-hari ada ruang diskusi dari kasus yang dihadapi, langsung disampaikan ke atasannya. Kalau belum bisa diselesaikan, naik ke tingkat atasnya, ke kepala divisi, dan kalau perlu sampai direksi. Jadi proses pembelajaran itu berasal dari kejadian-kejadian sehari-hari,” tuturnya.
Model tersebut sekaligus membangun budaya kerja yang mendorong pegawai untuk tidak membiarkan persoalan sekecil apa pun. Setiap masalah diharapkan menjadi awareness bersama sehingga dapat segera ditangani melalui tahapan yang tersedia.
Selain pengalaman kerja, Bank Sidoarjo memberikan ruang bagi pegawai untuk menentukan kebutuhan kompetensi yang relevan dengan pekerjaannya.
Dedy mengatakan, manajemen memberikan kesempatan kepada pegawai untuk menyampaikan kebutuhan pelatihan maupun sertifikasi yang diperlukan. Jika kebutuhan tersebut relevan dengan pekerjaan dan mendukung peningkatan kompetensi, bank memberikan dukungan.
“Kalau mereka membutuhkan keahlian tertentu, mereka bisa menyampaikan, ‘Pak, saya harus mengikuti pelatihan ini’ atau ‘Saya membutuhkan sertifikasi ini’. Itu kami dukung,” katanya.
Pendekatan tersebut juga diterapkan pada unit-unit yang memiliki kebutuhan kompetensi khusus, termasuk teknologi informasi. Bank memberikan kesempatan kepada pegawai untuk mengikuti sertifikasi yang dibutuhkan agar mampu mengelola pekerjaan secara lebih profesional.
Dalam materi presentasi, pengembangan kompetensi memang diarahkan berdasarkan kebutuhan bisnis dan jabatan, termasuk melalui upskilling di bidang kredit dan bisnis, manajemen risiko, service dan marketing, leadership, sertifikasi profesi, serta regulatory update.
Dorong Digitalisasi HC dan Literasi AI
Penguatan human capital Bank Sidoarjo juga masuk ke ranah digital. Bank mengembangkan Human Resources Information System (HRIS) yang digunakan untuk mengelola berbagai proses SDM, mulai dari rekrutmen hingga administrasi pegawai.
Yang menarik, aplikasi tersebut dikembangkan secara mandiri oleh tim internal, bukan sepenuhnya bergantung pada konsultan eksternal.
“Aplikasinya dibangun mandiri oleh teman-teman, tidak oleh konsultan. Jadi apa yang kami inginkan bisa diterjemahkan oleh teman-teman menjadi sebuah aplikasi,” ujar Dedy.
Dalam materi presentasi, digitalisasi HC mencakup HR digitalization, people analytics dan digital innovation. Data pegawai digunakan sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan, sementara proses administrasi seperti absensi, cuti, dan pengelolaan data pegawai diarahkan semakin terdigitalisasi.
Bank juga mengembangkan people analytics untuk mengolah data seperti jumlah dan komposisi pegawai, masa kerja, pendidikan dan kompetensi, pelatihan dan sertifikasi, hingga kinerja, rotasi dan promosi. Tujuannya adalah menghasilkan informasi yang lebih cepat dan objektif bagi manajemen dalam mengambil keputusan.
Di tengah digitalisasi tersebut, Bank Sidoarjo juga mulai memberikan pemahaman kepada pegawai mengenai pemanfaatan artificial intelligence (AI).
Dedy mengatakan, bank belum memiliki kebijakan khusus mengenai AI karena teknologi tersebut berkembang sangat cepat dan regulasi terkait khususnya masih terus berkembang. Namun, manajemen sudah mulai membangun awareness mengenai manfaat dan risikonya.
Salah satu perhatian utama adalah keamanan dan kerahasiaan data. “Di era kemajuan AI sekarang ini ada kerentanan terhadap rahasia informasi. Ketika teman-teman bebas menggunakan AI, ketika upload data, harus ada sesuatu yang dipikirkan: data ini memungkinkan bocor atau tidak. Itu yang kami berikan pemahaman kepada pegawai dalam sosialisasi,” jelas Dedy.
Direktur Utama Bank Sidoarjo Sofia Nurkrisnajati Atmaja menambahkan, AI dapat dimanfaatkan untuk mempercepat pekerjaan, termasuk membantu proses analisis. Namun, hasil AI tetap harus diperiksa kembali oleh manusia.
“AI ini membantu, terutama untuk mempercepat. Fungsi-fungsi seperti analisis juga kami coba melalui AI. Tetapi kami tidak mengesampingkan ketelitian teman-teman untuk menilai kembali,” ujarnya.
Ia menilai, penggunaan AI yang terlalu bergantung tanpa pemahaman justru dapat mengurangi kemampuan manusia untuk berpikir kritis. Karena itu, AI diposisikan sebagai pendamping pekerjaan, bukan pengambil alih keputusan.
“AI itu bagi kami membantu. Ketika ada data atau hasil yang disampaikan AI, kami coba klarifikasi dan lihat kembali apakah sudah benar. Jadi kami tidak langsung menganggap hasilnya pasti benar,” kata Sofia.
100% Pegawai Mengikuti Pelatihan
Komitmen terh adap pengembangan SDM tercermin dalam data Human Capital Business Index Bank Sidoarjo. Pada 2025, jumlah pegawai tercatat sebanyak 75 orang dan seluruhnya mengikuti pelatihan. Biaya pelatihan juga meningkat dari sekitar Rp 604 juta pada 2024 menjadi Rp 841 juta pada 2025, atau naik 39,26%.
Pada periode yang sama, total revenue bank meningkat 11,83% menjadi sekitar Rp 98,57 miliar, sedangkan laba bersih tumbuh 4,29% menjadi sekitar Rp 14,96 miliar.
Bagi Bank Sidoarjo, pengembangan human capital diarahkan agar memiliki keterkaitan langsung dengan kinerja bisnis. Dalam materi HCMS, bank menegaskan bahwa SDM yang kompeten dan adaptif diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, kualitas layanan, efisiensi proses kerja, dan pada akhirnya mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Dedy menambahkan, perusahaan juga berupaya membangun lingkungan kerja yang sehat dan produktif. Penguatan budaya kerja dilakukan melalui keteladanan pimpinan, penerapan core values dalam keseharian, kolaborasi antarfungsi, serta penyelesaian masalah secara bersama-sama.
“Kami mendukung lingkungan kerja yang sehat dan produktif. Kami ingin kerja sama antarintern semakin kuat, penyelesaian masalah lebih cepat, dan daya kerja teman-teman di Bank Sidoarjo semakin tinggi,” pungkasnya.
