Jakarta, TopBusiness – PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) memperkuat kontribusinya sebagai perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang infrastruktur melalui partisipasi dalam Konferensi Regional Teknik Jalan (KRTJ) ke-16 yang diselenggarakan Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI) pada 5–8 Oktober 2026 di Swiss-Belhotel Balikpapan, Kalimantan Timur.
Melalui kontribusi keilmuan dan pengenalan inovasi layanan jalan tol, Hutama Karya mendukung pengembangan infrastruktur yang andal, adaptif, dan berkelanjutan, sejalan dengan Asta Cita untuk memperkuat konektivitas dan pemerataan pembangunan.
Mengangkat tema “Ketahanan Infrastruktur Jalan dan Jembatan terhadap Bencana dan Perubahan Iklim” dengan subtema Asbuton, KRTJ ke-16 mempertemukan pemerintah, praktisi, akademisi, serta pelaku industri untuk bertukar pengetahuan dan mengembangkan solusi atas tantangan penyelenggaraan jalan. Kegiatan ini berlangsung bersamaan dengan The 127th REAAA Governing Council Meeting serta Pameran Teknologi Jalan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Nazib Faizal, Direktur Lalu Lintas Jalan Kementerian Perhubungan RI Rudi Irawan, Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Roy Rizali Anwar, serta Ketua HPJI Hedy Rahadian. Hutama Karya diwakili oleh Wakil Direktur Utama Sugeng Rochadi bersama Direktur Operasi III Iwan Hermawan yang juga merupakan anggota HPJI. Kegiatan ini juga dihadiri jajaran pejabat lainnya, mulai dari Kementerian, Peerusahaan Swasta maupun BUMN.
Dalam forum ini, Hutama Karya bersama anak usahanya berkontribusi melalui dua makalah penelitian serta pengenalan inovasi operasi dan pemeliharaan jalan tol dari PT Hakaaston (HKA). Stan pameran juga menghadirkan Mozy by Hutama Karya sebagai teman perjalanan digital, lengkap dengan pengenalan fitur dan aktivitas interaktif bagi peserta.
“Bagi Hutama Karya, membangun infrastruktur juga berarti memastikan manfaatnya terus dirasakan masyarakat sepanjang masa layanan. Melalui forum ini, kami berbagi pengetahuan dan pengalaman sekaligus menghadirkan inovasi yang mendukung pengelolaan jalan serta layanan kepada pengguna. Kami ingin setiap pengembangan teknologi memberikan manfaat yang nyata agar masyarakat dapat melakukan perjalanan dengan aman dan nyaman,” ujar Iwan.
Kontribusi Keilmuan melalui Dua Makalah Penelitian
Hutama Karya bersama anak usahanya, PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI), turut berpartisipasi dalam sidang teknik KRTJ ke-16 melalui dua makalah yang membahas digitalisasi aset jembatan dan penerapan prinsip keberlanjutan pada infrastruktur jalan tol.
Makalah pertama, “Analisis Ketelitian Model 3D As-Built Jembatan Khusus Sei Wampu Berbasis Teknologi TLS di Ruas Tol Binjai–Pangkalan Brandan”, disusun oleh Tiara Oktaliyani, Annisa Dewanti Putri, Veri Pramesto, dan Martin Hutagalung. Penelitian ini mengintegrasikan pemindaian laser Terrestrial Laser Scanning (TLS) dengan Building Information Modeling (BIM) untuk menghasilkan model kondisi aktual jembatan. Hasil evaluasi menunjukkan deviasi dimensi ±5–10 milimeter, masih dalam batas toleransi kajian. Model dilengkapi informasi teknis aset untuk mendukung dokumentasi dan perencanaan pemeliharaan berbasis data.
Makalah kedua, “Evaluasi Penerapan ESG pada Penyediaan Koridor Migrasi Gajah di Jalan Tol Pekanbaru–Dumai sebagai Infrastruktur Transportasi Berkelanjutan”, disusun oleh Akh Kamali Hidayat, Muhammad Sulaiman, Wagirah, Arif Setyo Budi Nugroho, G. Aji Sentosa, dan Pulung Satyo Anggono dari HKI. Penelitian ini mengevaluasi penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) pada enam underpass perlintasan gajah. Hasilnya menunjukkan aspek lingkungan dan tata kelola lebih maju dibanding aspek sosial, dengan pemantauan dan pelaporan masih perlu diperkuat. Kajian merekomendasikan pelaporan yang transparan, pelibatan masyarakat secara terstruktur, serta perbaikan drainase dan pengayaan pakan untuk meningkatkan efektivitas koridor.
Kolaborasi HKA dan Mozy by Hutama Karya Hadirkan Inovasi dan Pengalaman Interaktif
Pada Pameran Teknologi Jalan, stan HKA bersama Mozy by Hutama Karya menampilkan berbagai solusi yang mendukung keandalan infrastruktur sekaligus kemudahan layanan bagi pengguna jalan tol. Peserta dapat mengenal teknologi operasi dan pemeliharaan, mencoba fitur aplikasi, serta mengikuti permainan interaktif yang tersedia.
HKA memperkenalkan Toll Road Operation and Maintenance System (TROMS), platform terintegrasi untuk mengelola transaksi di gerbang tol, pengendalian lalu lintas, patroli, penanganan gangguan, serta pemeliharaan rutin dan nonrutin. Pencatatan aktivitas dalam satu sistem dan penyajian data secara real-time membantu tim memantau kondisi ruas, mempercepat keputusan, serta menentukan prioritas penanganan secara terukur. Untuk mendukung kualitas pekerjaan pemeliharaan, HKA menampilkan Live Asphalt Mixing Plant System (LAMPS), teknologi pendukung produksi aspal yang membantu menjaga produktivitas dan konsistensi mutu campuran. Sistem ini meningkatkan efisiensi produksi serta menekan risiko ketidaksesuaian kualitas material untuk pekerjaan pelapisan ulang (overlay) maupun penambalan (patching).
Sementara itu, HKA Si Patrol menggunakan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) untuk mendeteksi kerusakan permukaan jalan melalui kamera pada kendaraan patroli. Sistem ini mengenali lubang, retakan, retak buaya, tambalan, alur (rutting), hingga marka yang memudar. Setiap temuan dilengkapi koordinat, foto, dan tingkat keparahan serta terintegrasi dengan TROMS untuk mendukung penanganan yang lebih cepat dan tepat sasaran. HKA juga memperkenalkan Mahardihka Barrier (MHK-MSB-6000), pembatas median baja modular berkonsep From Highway to Runway. Modul sepanjang enam meter bertumpu pada bantalan karet tanpa angkur dan dapat dipindahkan menggunakan wheel jack serta pelepasan lock pin, tanpa alat berat khusus. Berdasarkan metode relokasi proyek, sebanyak 516 modul sepanjang 3.096 meter dapat direlokasi dalam sekitar 350 menit untuk menyatukan dua jalur tol menjadi landas pacu darurat.
Desain modular tersebut juga memungkinkan pembukaan akses darurat. Pengembangan untuk akses zona kerja, ambulans, maupun contraflow masih dalam tahap konsep dan verifikasi teknis. Simulasi tabrak LS-DYNA menunjukkan defleksi dinamis sebesar 0,82–1,31 meter pada skenario kendaraan pikap, truk, hingga trailer 36 ton; uji tabrak fisik dan sertifikasi MASH 2016 belum dilakukan.
Direktur Utama HKA M. Rozi Rinjayadi menyampaikan bahwa inovasi perusahaan dikembangkan untuk menjawab kebutuhan operasi dan pemeliharaan sekaligus meningkatkan kualitas layanan jalan tol. “Integrasi data operasional, deteksi dini kerusakan, dan pengendalian mutu material membantu kami menjaga keandalan jalan serta menentukan penanganan secara lebih tepat. Melalui forum ini, kami ingin memperkenalkan manfaat teknologi tersebut dan membuka ruang kolaborasi agar pengembangannya semakin relevan dengan kebutuhan di lapangan,” ujar Rozi.
Melengkapi inovasi tersebut, Mozy by Hutama Karya menghadirkan kemudahan layanan perjalanan melalui informasi tarif, CCTV, rest area, SPBU dan SPKLU, perencanaan rute melalui Customer Journey, pengingat istirahat, tombol SOS, resi digital, informasi fasilitas sekitar, serta permainan interaktif. Aktivasi Mozy di stan mendapat antusiasme dari banyak peserta yang mencoba fitur aplikasi dan mengikuti permainan berhadiah merchandise. Suasana interaktif ini menjadi sarana untuk memperkenalkan manfaat Mozy secara ringan dan mudah dipahami, mulai dari merencanakan perjalanan hingga mengakses informasi serta bantuan selama berada di jalan tol. Stan tersebut juga turut dikunjungi Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud, Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Roy Rizali Anwar, serta sejumlah pemangku kepentingan dan peserta lainnya.
Memperkuat Kolaborasi untuk Infrastruktur yang Tangguh
Dalam materi sambutannya, Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Roy Rizali Anwar menekankan pentingnya pengelolaan infrastruktur berbasis risiko dan siklus hidup. Pendekatan tersebut mencakup identifikasi kerawanan bencana, desain adaptif, pemeliharaan preventif, serta pemanfaatan data dan teknologi sejak perencanaan hingga pengoperasian.
“Keberhasilan tidak lagi semata-mata diukur dari panjang jalan yang dibangun, tetapi dari kemampuan jaringan jalan dan jembatan untuk mempertahankan tingkat pelayanan, menjamin keselamatan, mendukung kelancaran logistik, serta tetap berfungsi dan cepat pulih ketika menghadapi bencana maupun dampak perubahan iklim,” demikian disampaikan Roy dalam materi sambutannya.
Iwan menambahkan bahwa hasil diskusi dan kajian dalam KRTJ ke-16 menjadi masukan bagi Hutama Karya untuk menyempurnakan praktik pembangunan dan pengelolaan infrastruktur. Perusahaan juga terus mendorong kerja sama lintas pemangku kepentingan agar pengembangan jaringan jalan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
“Sejalan dengan Asta Cita, kami ingin konektivitas yang dibangun membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat, mulai dari akses ke pusat kegiatan ekonomi hingga peluang usaha di daerah. Inilah manfaat jangka panjang yang terus kami upayakan melalui pembangunan infrastruktur,” tutup Iwan dalam siaran pers.
