TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Pertamina EP Rantau Bor 5 Sumur Baru di Aceh Tamiang, Produksi Minyak Stabil 1.700 Barel per Hari

Albarsyah
12 October 2026 | 15:43
rubrik: BUMN
Pertamina EP Cepu Raup Laba US$ 849,5 Juta

Jakarta, TopBusiness – PT Pertamina EP Rantau Field terus memperkuat kegiatan operasi hulu minyak dan gas bumi (migas) di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, setelah berhasil memulihkan produksi yang sempat terhenti akibat banjir besar pada akhir November 2025.

Di tengah proses pemulihan pascabencana, perusahaan telah melakukan tajak atau well spud terhadap lima sumur baru untuk mempertahankan produksi sekaligus menggali potensi cadangan migas di wilayah kerjanya.

Field Manager Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, mengatakan kegiatan pengeboran tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung ketahanan energi nasional.

“Kendati masih dalam situasi pemulihan pascabanjir, perusahaan melakukan pengeboran sumur untuk menemukan cadangan migas baru dan mempertahankan produksi migas. Tajak sumur baru ini sangat penting bagi penyediaan energi nasional,” ujar Tomi dalam keterangannya, Minggu (11/10/2026).

Menurut Tomi, lima sumur yang telah ditajak tersebar di dua desa di Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.

Dua sumur, yakni RNT DZ-51 dan RNT DZ-52, berada di Desa Tanjung Seumantoh. Keduanya dibor menggunakan Rig APS-752 berkapasitas 550 Horse Power (HP), dengan kedalaman akhir masing-masing 1.145 MMD dan 1.037 MMD.

Sementara tiga sumur lainnya, yakni RNT DZ-11, RNT DZ-23A, dan RNT DZ-33, berlokasi di Desa Paya Meta.

Sumur RNT DZ-11 dibor menggunakan Rig TMMJ-12 berkapasitas 550 HP hingga kedalaman akhir 1.132 MMD. Adapun sumur RNT DZ-23A dan RNT DZ-33 masih dalam proses pengeboran.

Tomi menjelaskan, kegiatan pengeboran tersebut diharapkan mampu mempertahankan kinerja produksi Pertamina EP Rantau Field sekaligus memperkuat upaya eksplorasi potensi cadangan migas di Aceh Tamiang.

Sebagai bagian dari Pertamina Subholding Upstream Regional 1 Zona 1, perusahaan juga memastikan seluruh kegiatan operasional berjalan dengan mengedepankan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG).

BACA JUGA:   Erick: Kolaborasi Kuatkan BUMN menjadi Benteng Ekonomi Masa Depan

Seluruh pekerja pengeboran diwajibkan mengikuti pelatihan keselamatan kerja, termasuk Basic HSSE Training, Corporate Life Saving Rules (CLSR), Pertamina Well Control (PETROL), serta memiliki sertifikasi keahlian sesuai bidang pekerjaan.

“Kolaborasi bersama pihak kontraktor penyedia jasa rig serta dukungan penuh yang diberikan oleh SKK Migas menjadi bagian dari komitmen bersama dalam menjaga ketahanan dan keberlanjutan energi nasional,” jelasnya.

Produksi Pulih dalam Empat Bulan

Selain menjalankan program pengeboran, Pertamina EP Rantau Field mencatat keberhasilan dalam mempercepat pemulihan fasilitas produksi yang rusak akibat banjir besar pada akhir November 2025.

Bencana tersebut menyebabkan sejumlah fasilitas produksi, perkantoran, hingga permukiman pekerja terendam banjir dengan ketinggian mencapai 4 hingga 4,5 meter. Endapan lumpur setebal 30 hingga 80 sentimeter turut memperparah kerusakan fasilitas.

Akibatnya, aktivitas produksi minyak sempat terhenti total hingga mencapai nol barel per hari.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, perusahaan menerapkan empat fase pemulihan, yakni emergency, reactivation, recovery, dan sustainability.

Pada tahap awal, penanganan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar, mulai dari makanan, air bersih, pelayanan kesehatan hingga pasokan listrik.

Setelah kondisi berangsur membaik, tim bergerak melakukan perbaikan fasilitas dan mengaktifkan kembali sumur-sumur produksi.

“Tahap awal fokus pada kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, kesehatan dan listrik. Setelah kondisi sudah membaik, tim kemudian bergerak mengaktifkan fasilitas dan sumur-sumur produksi,” ungkap Tomi.

Salah satu tantangan terbesar dalam proses pemulihan adalah menghidupkan kembali pembangkit listrik yang menjadi penopang utama kegiatan operasional Rantau Field.

Pasalnya, banjir mengakibatkan kerusakan berat pada High Pressure Compressor Station (HPCS), yang sebelumnya menjadi sumber utama pasokan gas untuk pembangkit listrik.

Kondisi tersebut juga berdampak pada instalasi pengolahan air atau Water Treatment Plant (WTP), sehingga pasokan air bersih ikut terganggu.

BACA JUGA:   Pertamina EP Raih 2 Penghargaan Proper Emas

Menghadapi situasi itu, tim Pertamina EP Rantau Field melakukan sejumlah inovasi dengan memodifikasi fasilitas SP-5 agar dapat menggantikan fungsi HPCS dalam memasok gas ke pembangkit listrik.

Saat ini, pasokan gas untuk pembangkit listrik berasal dari SP-5 dan SP-1, sementara fasilitas HPCS belum kembali dioperasikan.

“Setiap ujian tentunya ada hikmah. Salah satu hikmahnya adalah kami melakukan simplifikasi di beberapa fasilitas. Ketika listrik sudah teratasi, perlahan produksi yang sebelumnya nol barel mulai bergerak naik,” katanya.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Dalam waktu sekitar empat bulan, produksi minyak Pertamina EP Rantau Field berhasil kembali mencapai performa sebelum banjir.

Bahkan, pada Mei dan Agustus 2026, produksi minyak sempat menyentuh angka 2.000 barel per hari, melampaui tingkat produksi sebelum bencana.

Saat ini, produksi minyak di lapangan tersebut tercatat stabil pada kisaran 1.700 barel per hari.

Tomi mengakui, pemulihan dalam waktu empat bulan merupakan pencapaian yang cukup signifikan. Sebab, sebelumnya proses pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu antara satu hingga tiga tahun.

Keberhasilan itu, menurutnya, tidak terlepas dari dukungan personel Pertamina dari berbagai wilayah operasi, seperti Pangkalan Susu, Jambi, Lirik, Ramba, dan sejumlah lapangan lainnya.

“Pulih lebih cepat ini bisa terwujud karena ada bantuan personel dari berbagai wilayah operasi Pertamina. Pertamina ini satu keluarga, jika satu tertimpa musibah yang lain datang membantu,” ujarnya.

Atas keberhasilan mempercepat pemulihan produksi pascabanjir, Pertamina EP Rantau Field menerima penghargaan dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) pada Rabu, 8 April 2026.

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya perusahaan dalam memulihkan operasional dan menjaga keberlanjutan produksi migas setelah bencana besar yang melanda Aceh Tamiang.

BACA JUGA:   Hutama Karya Tuntaskan Topping Off Proyek Gedung Layanan Kanker Terpadu RS R.D. Kandou

Dengan pemulihan produksi dan berjalannya pengeboran lima sumur baru, Pertamina EP Rantau Field terus berupaya menjaga keberlanjutan operasi migas sekaligus memberikan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan energi nasional.

Tags: pertamina ep
Previous Post

Manfaatkan Energi Terbarukan, Antam Berhasil Hemat Energi 59 Persen dan Pangkas Emisi GRK

Next Post

Tol ‘Langit’ Milik Babah Alun Diklaim Tahan Gempa 1.000 Tahun, Siap Dibuka 2028

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR