Jakarta, TopBusiness – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mempercepat pengembangan ekosistem hidrogen nasional sebagai bagian dari upaya mendukung transisi energi bersih. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah memetakan lebih dari 23 lokasi potensial untuk produksi hidrogen hijau dengan memanfaatkan kapasitas pembangkit listrik yang belum digunakan secara optimal.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Prof. Eniya Listiani Dewi, mengatakan pengembangan hidrogen di Indonesia kini mulai bergerak dari tahap penelitian menuju implementasi teknologi dan identifikasi peluang pemanfaatan secara komersial.
Hal tersebut disampaikan Eniya dalam Hydrogen Forum pada rangkaian Hydrogen Day 2026 yang berlangsung di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Minggu (11/10/2026).
Menurut Eniya, pemerintah bersama PT PLN (Persero) telah mengidentifikasi sejumlah lokasi yang berpotensi dikembangkan sebagai pusat produksi hidrogen hijau melalui teknologi elektrolisis air.
“Sekarang kita melihat bagaimana potensi penggunaannya. Target 200 ton hidrogen per tahun mulai diupayakan tercapai, dan tahun depan diharapkan produksinya bisa lebih besar,” ujar Eniya.
Ia menjelaskan, pengembangan hidrogen tidak hanya bergantung pada kesiapan teknologi produksi, tetapi juga membutuhkan dukungan investasi, kepastian pasar, serta kolaborasi antara pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian.
Manfaatkan Surplus Listrik Energi Terbarukan
Salah satu peluang yang dinilai menjanjikan dalam pengembangan hidrogen hijau adalah pemanfaatan kelebihan pasokan listrik dari pembangkit energi terbarukan, khususnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Eniya menjelaskan, produksi listrik dari PLTS tidak selalu dapat terserap seluruhnya oleh sistem kelistrikan. Ketika pasokan listrik melampaui kebutuhan, energi berlebih tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk menghasilkan hidrogen melalui proses elektrolisis air.
Melalui teknologi tersebut, energi listrik digunakan untuk memisahkan molekul air menjadi hidrogen dan oksigen. Hidrogen yang dihasilkan kemudian dapat disimpan dan dimanfaatkan sebagai sumber energi maupun bahan baku industri.
“Energi listrik dari PLTS yang berlebih bisa kita manfaatkan untuk elektrolisis air, kemudian disimpan dalam bentuk hidrogen,” jelasnya.
Pemanfaatan hidrogen sebagai media penyimpanan energi dinilai dapat melengkapi penggunaan baterai dalam sistem energi terbarukan. Teknologi ini membuka peluang penyimpanan energi dalam jangka waktu lebih panjang, terutama ketika produksi listrik melebihi kapasitas penyimpanan yang tersedia.
Selain mengembangkan hidrogen hijau, pemerintah juga mendorong kajian potensi hidrogen putih atau hidrogen alami yang terdapat di bawah permukaan bumi.
Kajian tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran mengenai potensi sumber daya hidrogen alami di Indonesia sebagai alternatif pasokan energi pada masa mendatang.
Dorong Pembangunan Stasiun Pengisian Hidrogen
Tidak hanya berfokus pada produksi, Kementerian ESDM juga mendorong pengembangan infrastruktur untuk memperluas pemanfaatan hidrogen, terutama di sektor transportasi.
Salah satu infrastruktur yang menjadi perhatian adalah pembangunan Hydrogen Refueling Station (HRS) atau stasiun pengisian bahan bakar hidrogen untuk mendukung operasional kendaraan berbasis hidrogen.
Eniya menyebut fasilitas pengisian hidrogen di kawasan Senayan, Jakarta, sebagai salah satu titik awal pengembangan infrastruktur transportasi hidrogen di Indonesia.
Ke depan, pemerintah berharap jaringan pengisian tersebut dapat diperluas ke sejumlah wilayah, termasuk Bandung, melalui kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan berbagai pemangku kepentingan.
Pengembangan jaringan HRS diharapkan menjadi fondasi pembentukan koridor transportasi hidrogen yang lebih terintegrasi, sekaligus mendorong penggunaan kendaraan beremisi rendah.
Selain sektor transportasi darat, pemanfaatan hidrogen juga berpeluang dikembangkan untuk mendukung kebutuhan energi di kawasan industri dan pelabuhan.
Salah satu konsep yang mulai dijajaki adalah integrasi penggunaan hidrogen dengan pengembangan pelabuhan hijau atau green port di kawasan Patimban, Jawa Barat.
Integrasi tersebut diharapkan mampu membuka peluang pasar baru bagi hidrogen, baik sebagai bahan bakar alternatif maupun sebagai bagian dari upaya dekarbonisasi kegiatan industri dan logistik.
Kolaborasi Jadi Kunci
Eniya menegaskan, pengembangan ekosistem hidrogen nasional masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kebutuhan investasi, kesiapan infrastruktur, pengembangan teknologi, hingga pembentukan pasar yang mampu menyerap hasil produksi.
Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting agar berbagai inisiatif yang saat ini mulai dikembangkan tidak berhenti pada tahap penelitian dan proyek percontohan.
Keterlibatan industri, lembaga riset, perguruan tinggi, serta perusahaan penyedia energi diharapkan dapat mempercepat penerapan teknologi hidrogen menuju skala komersial.
Pemerintah juga terus mendorong terciptanya keterhubungan antara produksi, distribusi, dan pemanfaatan hidrogen agar pengembangan ekosistem tersebut berjalan secara berkelanjutan.
Dengan pemetaan lebih dari 23 lokasi potensial, pemanfaatan surplus listrik energi terbarukan, serta pengembangan infrastruktur pengisian hidrogen, Indonesia diharapkan dapat memperkuat fondasi industri hidrogen nasional.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan energi bersih, mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, dan mendukung agenda transisi energi Indonesia.
