TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

NAYZ Klarifikasi ke BEI, Rencana Beralih dari Bisnis Makanan Bayi ke Telekomunikasi Tetap Berlanjut

Busthomi
22 October 2026 | 16:50
rubrik: Capital Market
Industri Komestik Punya Potensi Besar

Sumber FOTO Ilustrasi: Istimewa

Jakarta, TopBusiness – PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (IDX: NAYZ) menegaskan tidak ada perubahan dalam rencana aksi korporasi dan transformasi kegiatan usaha setelah pengambilalihan oleh Saiko Consultancy Pte Ltd (Saiko) sebagai pengendali baru.

Perseroan tetap merencanakan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) untuk mengakomodasi penyertaan saham perusahaan yang dimiliki pengendali baru, sekaligus mengalihkan fokus bisnis ke sektor telekomunikasi dan teknologi.

Penegasan tersebut disampaikan NAYZ melalui keterbukaan informasi sebagai tanggapan atas permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui surat No. S-13167/BEI.PP3/10-2026, Kamis (22/10/2026).

Bursa meminta penjelasan komprehensif mengenai pengambilalihan, rencana bisnis pascatransaksi, sumber pendanaan, serta potensi dampaknya terhadap keberlangsungan usaha dan pemegang saham.

Dalam tanggapannya, NAYZ menyatakan kegiatan usaha makanan bayi yang selama ini dijalankan akan tetap berlangsung sampai proses penyertaan saham melalui PMHMETD diselesaikan.

Setelah itu, perseroan merencanakan perubahan kegiatan usaha ke bidang telekomunikasi dan teknologi. Pelaksanaan perubahan kegiatan usaha tersebut akan dilakukan setelah memperoleh persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS).

Rencana ini merupakan bagian dari aksi korporasi yang melibatkan Saiko dan Bangkok Tellink Co. Ltd. (BT). NAYZ menjelaskan bahwa rencana PMHMETD dengan penyetoran modal dalam bentuk lain selain uang atau inbreng berupa saham BT tetap berjalan. Perseroan juga menyebut proses penawaran tender wajib atau mandatory tender offer (MTO) masih berlangsung.

Siapkan PMHMETD dan Akuisisi Bangkok Tellink

Salah satu hal yang dimintakan penjelasan oleh BEI adalah sumber dana untuk membeli 1.138.500 saham Bangkok Tellink (BTL), setara dengan 20% dari total 5.692.500 saham, dengan nilai sekitar Rp448,3 miliar berdasarkan asumsi kurs Rp17.930 per dolar AS.

BEI menyoroti rencana tersebut karena posisi kas dan bank NAYZ per 30 Juni 2026 tercatat hanya Rp6,1 miliar. Menanggapi pertanyaan itu, perseroan menjelaskan bahwa pembelian saham BTL direncanakan menggunakan dana hasil pelaksanaan PMHMETD, bukan dari saldo kas dan bank pada akhir Juni 2026.

BACA JUGA:   Transaksi SBN Tercatat Rp26,6 T, Analis: Demand SBN Denominasi Rupiah Akan Meningkat

Besaran dana yang nantinya tersedia akan bergantung pada tingkat partisipasi pemegang saham dalam pelaksanaan hak memesan efek terlebih dahulu, termasuk pemegang saham publik, serta jumlah dana yang berhasil dihimpun. Dengan demikian, realisasi transaksi tersebut masih berkaitan dengan pelaksanaan aksi korporasi dan pendanaan yang direncanakan.

NAYZ juga menjelaskan bahwa penggunaan dana kas dari hasil penjualan aset yang sebelumnya dibeli menggunakan dana penawaran umum belum ditetapkan secara final.

Dana tersebut nantinya dapat dialokasikan untuk pengembangan bisnis, kebutuhan pendanaan internal, dan operasional, serta tidak menutup kemungkinan digunakan untuk membeli sebagian saham BTL. Keputusan penggunaannya akan mempertimbangkan kondisi keuangan dan strategi bisnis perseroan pada saat penetapan.

Adapun estimasi nilai pengalihan saham BT sebesar US$125 juta atau sekitar Rp2,24 triliun, berdasarkan asumsi kurs Rp17.930 per dolar AS, mengacu pada laporan valuasi yang disusun Avison Young selaku penasihat Bangkok Tellink. Penilaian tersebut menggunakan metode pendapatan dengan pendekatan discounted cash flow (DCF), yang memperhitungkan proyeksi arus kas masa depan.

Perseroan menjelaskan, nilai tersebut berbeda dari nilai ekuitas BT pada laporan keuangan 2025 yang tercatat Rp27,9 miliar karena nilai buku mencerminkan posisi tercatat pada tanggal pelaporan, sedangkan metode DCF memperhitungkan potensi arus kas dan prospek usaha di masa mendatang.

Meski demikian, nilai pengalihan saham yang akan digunakan dalam pelaksanaan inbreng pada PMHMETD akan mengacu pada hasil penilaian independen oleh Kantor Jasa Penilai Publik yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Target Konsolidasi pada 2027

Dalam perkiraan jadwal yang disampaikan kepada BEI, NAYZ mencantumkan penandatanganan perjanjian pada 2 Oktober 2026. Perseroan memperkirakan RUPS independen dan penyampaian pernyataan pendaftaran PMHMETD berlangsung pada kuartal I-2027.

BACA JUGA:   TPIA Suntik Modal ke Anak Usaha Sektor Infrastruktur Senilai Rp1,5 Triliun

Selanjutnya, pembelian 20% kepemilikan BTL dan perolehan pernyataan efektif dari OJK ditargetkan pada kuartal II-2027. Perseroan memperkirakan kepemilikan efektif sebesar 75% atas BT dapat tercapai pada kuartal II-2027, dengan kontribusi pendapatan secara konsolidasian diperkirakan tercermin dalam laporan keuangan per 31 Desember 2027.

NAYZ menyatakan Saiko akan memastikan pelaksanaan inbreng BT dengan memperhatikan kualitas aset dan potensi kontribusinya terhadap kinerja keuangan perseroan. BT diharapkan dapat mendukung peningkatan pendapatan serta memperkuat posisi keuangan NAYZ. Namun, kontribusi tersebut tetap akan bergantung pada karakteristik dan prospek usaha perusahaan yang diintegrasikan.

BEI juga meminta penjelasan mengenai aset BT. Berdasarkan laporan keuangan BT yang telah diaudit per 31 Desember 2025, dengan asumsi kurs 1 baht Thailand setara Rp538, total aset perusahaan tersebut tercatat sekitar Rp74,05 miliar. Aset itu mencakup kas dan setara kas, piutang usaha, persediaan, aset lancar lainnya, aset takberwujud, serta aset tidak lancar lainnya.

Perseroan menyampaikan bahwa BT masih menjalani proses restrukturisasi dan peningkatan modal untuk memperkuat posisi keuangan serta mendukung keberlangsungan dan pengembangan usahanya. NAYZ juga menjelaskan bahwa terdapat perbedaan nilai aset dibandingkan tanggapan sebelumnya akibat perbedaan standar pelaporan keuangan dan asumsi kurs yang digunakan.

Komitmen Tetap Tercatat di Bursa

Di tengah perubahan pengendali dan rencana peralihan kegiatan usaha, NAYZ menyatakan tetap berkomitmen menjadi perusahaan tercatat di BEI. Perseroan menyebut akan memenuhi kewajiban keterbukaan informasi, penyampaian laporan berkala, serta ketentuan lain yang ditetapkan regulator.

NAYZ juga menyampaikan bahwa hingga tanggal tanggapan tersebut tidak terdapat rencana dari Saiko maupun PT Saiko Consultancy Grand (SCG) untuk menjual saham atau melepas kepemilikan yang mengubah status pengendali atau pemegang saham utama dalam 10 tahun ke depan.

BACA JUGA:   NAYZ Siap Diakuisisi Perusahaan Asal Singapura Sebanyak 41,18%

Terkait tata kelola, perseroan menyatakan RUPSLB pada 2 Oktober 2026 telah menyetujui pengangkatan Nusttanakit Sasiarnon sebagai Direktur dan Sawin Laosethakul sebagai Komisaris. Keduanya merupakan perwakilan Saiko dan akan berperan dalam pengelolaan serta pengawasan perseroan setelah proses inbreng selesai, sesuai tanggung jawab masing-masing.

NAYZ menyatakan tidak ada perubahan kebijakan dividen setelah pengambilalihan. Perseroan juga menyampaikan tidak terdapat perubahan terkait perjanjian penting maupun pemenuhan covenant kredit atau perjanjian utang-piutang pascapengambilalihan.

Tags: akuisisi bisnisNAYZpengendali baruperubahan usahaPT Hassana Boga Sejahtera Tbk
Previous Post

IHSG Ditutup Menguat di Kamis Sore

Next Post

Perluas Akses Pembiayaan, OJK Catat Kredit Melawan Rentenir Rp 64,8 Triliun

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR