TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Berikut, ‘Tanda Kehidupan’ Investasi Portofolio

Achmad Adhito
29 October 2026 | 11:00
rubrik: Featured
Rukun Raharja Siaga Rp250 Miliar Buyback Saham

Ilustrasi Bursa Saham (Dhi/AI Gemini)

Berdasarkan data terbaru dari BI, dapat dipaparkan bahwa di Agustus 2026, nilai SRBI yang dipegang oleh investor non-bank, senilai Rp347,14 triliun.

Rupanya, di sela efek turbulensi ekonomi global akhir-akhir ini, pasar investasi portofolio masih berderap di Indonesia, kok. Terlepas dari perbandingan nilainya dengan tahun lalu—secara tahunan, bulanan, atau kuartalan—sejatinya ada sejumlah indikator bahwa ranah investasi portofolio masih berderap pada ‘tahun turbensi ekonomi global’ gegara perang di Timur Tengah itu.

Nah, sekadar berkilas balik, investasi portofolio adalah investasi yang menggunakan instrumen finansial. Itu seperti saham, SBN (surat berharga negara), SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia), obligasi, dan lain-lain.

Investasi portofolio berperan memasok likuiditas ke pasar keuangan. Pula, investasi tersebut bersifat hot money alias mudah keluar-masuk. Adapun pelakunya bisa investor domestik, pula investor global.

Kini, marilah melongok denyut nyata investasi portofolio tersebut. Ini ada contoh menarik, yakni ranah investasi via SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia). SRBI adalah surat berharga dalam Rp keluaran BI, yang merupakan pengakuan atas utang jangka pendek. SRBI menggunakan underlying asset berupa SBN milik bank sentral tersebut.

Berdasarkan data terbaru dari BI, dapat dipaparkan bahwa di Agustus 2026, nilai SRBI yang dipegang oleh investor non-bank, senilai Rp347,14 triliun.

Dari angka itu, investor non-residen (asing) mengambil bagian lebih besar, yakni sebesar Rp294,66 triliun. Sedangkan porsi investor residen (lokal) lebih kecil, yaitu di Rp52,48 triliun.

Data dari Kebun Sirih itu pun menunjukkan tren kenaikan pemilikan SRBI oleh non residen atau pun residen.

Persisnya, sedari Februari-Agustus 2026, angkanya adalah berikut ini: Rp150,79 triliun; Rp143,91 triliun; Rp192,17 triliun; Rp216,48 triliun; Rp293,16 triliun; Rp287,06 triliun; Rp294,66 triliun.

BACA JUGA:   Ajaib Kenalkan Fitur Investasi Pasar Saham AS

Lalu, untuk periode yang sama, kubu residen menorehkan angka berikut ini: Rp19,02 triliun; Rp26,35 triliun; Rp35,66 triliun; Rp43,95 triliun; Rp56,60 triliun; Rp57,83 triliun; Rp52,48 triliun.

Alhasil, pada titik ini, telah gamblang bahwa investasi portofolio via SRBI, masih cukup gurih, bukan?

Data dari Berbagai Sumber, Diolah menggunakan Open AI

Pasar Obligasi

Kini marilah beranjak ke pasar obligasi di Indonesia. Dalam hal itu, dari Bursa Efek Indonesia (BEI) pun bisa bercerita rinci. Begini, data terbaru saat tulisan ini diturunkan, menunjukkan bahwa di Agustus 2026, jumlah obligasi dan sukuk yang diterbitkan pihak swasta, di 1.247 buah. Angka ini lebih baik daripada di tahun 2025 yang sebanyak 1.151 buah.

Sementara itu, obligasi dan sukuk yang dilansir Pemerintah Indonesia sebanyak 187 buah; tahun 2025, angka itu di 189 buah.

Dari sudut nilai outstanding obligasi dan sukuk, di Agustus 2026, nilai yang dicatatkan pihak swasta di Rp553 triliun. Sementara itu, di tahun 2025, nilai itu di Rp537 triliun.

Untuk periode yang sama, obligasi dan sukuk lansiran Pemerintah Indonesia mencatatkan nilai lebih besar. Persisnya, di Agustus 2026, nilai outstanding dua surat berharga itu di Rp7.018 triliun. Di tahun 2025 angka itu lebih rendah yaitu di 6.567 triliun.

Selanjutnya, bagaimana kederasan aliran dana pasar saham via perusahaan IPO/go public di BEI tahun 2026? Sejatinya dapat dikatakan bahwa ‘tanda-tanda kehidupan’ masih ada di sela terjadinya koreksi ke IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) di tahun 2026.

Otoritas BEI menyebut adanya tujuh perusahaan berada dalam pipeline (antrean) untuk IPO per 28 Agustus 2026. Hal itu dikatakan oleh Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin.

BACA JUGA:   Suku Bunga Menukik, Obligasi Jadi Menarik

Kepada media massa, Saidu memaparkan bahwa dari tujuh perusahaan itu, sebanyak tiga perusahaan beraset skala besar di atas Rp250 miliar, dua perusahaan beraset skala menengah antara Rp50 miliar sampai Rp250 miliar. “Serta dua perusahaan beraset skala kecil di bawah Rp50 miliar,” kata dia seperti ditulis situs bisnis.com.

Dari tujuh perusahaan itu, empat perusahaan dari sektor kesehatan, satu perusahaan bermuasal dari sektor barang konsumen primer. Selanjutnya, satu perusahaan punya muasal dari sektor energi, dan satu perusahaan dari sektor industri.

“Hingga 28 Agustus 2026, ada tujuh perusahaan yang telah melangsungkan IPO dengan dana dihimpun total senilai Rp2,16 triliun,” papar Saidu.

Otoritas BEI pun terus menggenjot masuknya dana publik ke pasar modal. Satu contoh hal itu yakni mengajak pelaku usaha menengah untuk terjun ke pasar tersebut. Itu antara lain via Program Rise to IPO 2026.

Kepala Divisi Pengembangan Perusahaan Tercatat BEI, Listyorini Dian Pratiwi, menegaskan bahwa IPO bukanlah proses yang dapat dicapai secara instan, melainkan perjalanan transformasi bisnis yang membutuhkan persiapan matang dan komitmen jangka panjang.

“Melalui IDX Incubator, kami ingin membantu perusahaan mempersiapkan fondasi tersebut secara bertahap dan terstruktur. Sehingga ketika memutuskan untuk IPO, perusahaan sudah siap baik dari sisi tata kelola, struktur permodalan, maupun strategi jangka panjangnya,” kata Listyorini.

Melalui kolaborasi antara Kementerian UMKM dan Bursa Efek Indonesia, RISE TO IPO diharapkan dapat menjadi katalis bagi lahirnya lebih banyak perusahaan menengah Indonesia yang mampu naik kelas, memperkuat tata kelola usaha, dan memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.

Dengan demikian, semakin banyak perusahaan nasional yang memiliki kesempatan untuk tumbuh lebih besar, lebih kompetitif, dan pada akhirnya siap menjadi perusahaan terbuka yang berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.

BACA JUGA:   Dari Jaringan Global hingga Solusi Korporasi Besar

*Tulisan Ini Sebelumnya Juga Dimuat di Majalah TopBusiness

Tags: hot moneyinvestasi obligasiinvestasi portofolio 2026Investasi Sahamsrbi
Previous Post

Acara Puncak TOP Human Capital Awards 2026 Digelar Siang Ini

Next Post

Penjualan Smartphone dan PC Dorong Pertumbuhan Bisnis MTDL

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR