Jakarta, TopBusiness – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN terus memperkuat penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dengan menjadikan sektor pembiayaan perumahan sebagai salah satu penggerak pembangunan ekonomi berkelanjutan. Melalui pendekatan yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola, BTN berupaya menghadirkan manfaat yang lebih luas, tidak hanya bagi nasabah, tetapi juga masyarakat dan lingkungan.
Strategi tersebut diwujudkan melalui dua program unggulan, yakni Low-Emission Housing atau Rumah Rendah Emisi dan Waste Management melalui program Bayar Angsuranmu Pakai Sampahmu.
Dalam wawancara penjurian TOP ESG Awards 2026 yang diselenggarakan Majalah TopBusiness melalui Zoom Meeting, Selasa (3/11/2026), Nurina Indri selaku ESG Framework & Policy Department Head BTN memaparkan bagaimana perusahaan mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam ekosistem bisnis pembiayaan perumahan.
Menurut Nurina, BTN memiliki posisi strategis untuk mendorong penerapan ekonomi sirkular karena memiliki jaringan jutaan keluarga serta sekitar 10.000 pengembang perumahan. Potensi tersebut memungkinkan BTN menghubungkan berbagai pemangku kepentingan dalam menciptakan solusi keberlanjutan, mulai dari pengelolaan sampah rumah tangga hingga pembangunan hunian rendah emisi.
“BTN tidak hanya menjalankan fungsi sebagai lembaga pembiayaan perumahan, tetapi juga berupaya menjadi penghubung berbagai pihak dalam membangun ekosistem ekonomi sirkular. Melalui kolaborasi dengan keluarga, pengembang, mitra pengelola sampah, dan pemasok material ramah lingkungan, kami ingin menghadirkan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan,” ujar Nurina Indri.
Mengubah Sampah Menjadi Nilai Ekonomi
Salah satu inovasi yang dikembangkan BTN adalah program Bayar Angsuranmu Pakai Sampahmu. Program ini mengajak masyarakat mengelola sampah rumah tangga yang masih memiliki nilai ekonomi untuk dikonversi menjadi poin pembayaran angsuran KPR.
Dalam skema tersebut, satu poin memiliki nilai setara Rp1. Sampah bernilai ekonomi dikumpulkan dan dikelola melalui mitra, sementara sampah yang tidak memiliki nilai jual diarahkan untuk dimanfaatkan menjadi material daur ulang. Hingga Juni 2026 program pengelolaan sampah tersebut telah mengumpulkan sebanyak 2.145 kilogram sampah. Program ini menjadi salah satu upaya BTN mengintegrasikan prinsip ESG secara langsung ke dalam lingkungan perumahan dan kehidupan masyarakat.
“Inisiatif tersebut juga membuka peluang partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus memperoleh manfaat ekonomi. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya menjadi persoalan kebersihan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari solusi ekonomi keluarga,” terang Nurina.
Membangun Hunian Rendah Emisi
Di sisi lain, BTN mengembangkan program Rumah Rendah Emisi dengan mendorong pengembang menggunakan material ramah lingkungan dan menerapkan prinsip efisiensi sumber daya dalam pembangunan perumahan.
Hingga Juni 2026, program tersebut telah menjangkau 18.245 unit rumah yang tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Bekasi, Semarang, dan Karawang.
Kriteria rumah rendah emisi mencakup peningkatan sirkulasi udara alami, optimalisasi pencahayaan melalui pengaturan rasio jendela terhadap dinding sebesar 15-30 persen, serta penggunaan panel surya untuk penerangan jalan.
Aspek efisiensi air juga menjadi perhatian melalui penggunaan keran hemat air, pengelolaan sanitasi dan air limbah, sumur resapan, serta pemanfaatan sumber air bersih yang berkelanjutan.
Selain itu, BTN mendorong pemilahan sampah, penggunaan material ramah lingkungan minimal 15 persen dari total material bangunan, serta penyediaan ruang terbuka hijau minimal 10 persen dari luas kawasan perumahan.
Dalam implementasinya, BTN menggandeng berbagai pemasok material ramah lingkungan dan perusahaan pengolahan plastik daur ulang. Material tersebut antara lain dimanfaatkan untuk pembuatan paving block, bata interlocking, dan floor decking.
ESG yang Berorientasi pada Inklusi Sosial
Penerapan ESG BTN tidak berhenti pada aspek lingkungan. Perusahaan juga menempatkan inklusi sosial sebagai bagian penting dari strategi keberlanjutan, khususnya melalui perluasan akses kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah hingga menengah.
“BTN berupaya membuka akses pembiayaan perumahan bagi berbagai kelompok masyarakat, termasuk perempuan, pekerja sektor informal, dan penyandang disabilitas,” tutur Nurina.
Data perusahaan menunjukkan porsi perempuan dalam komposisi debitur KPR BTN terus meningkat. Pada 2022 angkanya mencapai 33,3 persen dan meningkat menjadi 36,6 persen pada Agustus 2026.
Sementara itu, porsi debitur dari sektor informal juga mengalami peningkatan dari 6,9 persen pada 2022 menjadi 16,5 persen pada Agustus 2026. Kelompok tersebut mencakup pengemudi transportasi daring, pelaku UMKM, kurir, hingga pekerja jasa seperti tukang cukur.
Capaian tersebut memperlihatkan upaya BTN memperluas kesempatan kepemilikan rumah agar tidak hanya dinikmati pekerja dengan penghasilan tetap, tetapi juga masyarakat yang memiliki karakteristik pekerjaan dan pendapatan beragam.
Selama 76 tahun, BTN telah menjadi salah satu kontributor utama pembiayaan perumahan nasional. Sejak 1976, perusahaan mencatat telah menyalurkan pembiayaan untuk 5,98 juta unit rumah. BTN juga memiliki pangsa pasar KPR sebesar 39 persen dan pangsa pasar KPR subsidi sebesar 68 persen.
“Dengan mengintegrasikan pembiayaan perumahan, pengelolaan sampah, pembangunan hunian rendah emisi, dan perluasan akses kepemilikan rumah, BTN berupaya menjadikan ESG sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang,” jelas Nuria.
Pendekatan tersebut sekaligus menegaskan bahwa keberlanjutan dapat dibangun melalui aktivitas bisnis yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Melalui kolaborasi lintas sektor dan inovasi yang berkelanjutan, BTN berupaya memperkuat kontribusinya dalam menciptakan ekosistem perumahan yang lebih inklusif, ramah lingkungan, dan memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
