Jakarta, TopBusiness – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) menyoroti kecenderungan masyarakat yang mulai menggunakan simpanan atau tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini tercermin dari menurunnya porsi pendapatan masyarakat yang dialokasikan untuk tabungan, meskipun Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan masih tumbuh 11,06%.
Fenomena tersebut mengindikasikan tekanan terhadap daya beli masyarakat di tengah perlambatan konsumsi rumah tangga. Bahkan, pertumbuhan ekonomi yang secara resmi diperkirakan masih berada di atas 5% ternyata belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat.
LPEM UI memperkirakan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 tumbuh 5,28% secara tahunan (year-on-year/yoy), dengan rentang estimasi 5,25%-5,30%. Namun, pertumbuhan ekonomi yang dirasakan masyarakat diperkirakan hanya mencapai 4,74% (yoy), dengan rentang estimasi 4,72%-4,76%.
“Namun pertumbuhan yang dirasakan masyarakat adalah sebesar 4,74% (yoy) dengan rentang estimasi 4,72%-4,76%,” ujar Ekonom LPEM UI Jahen F. Rezki dalam hasil risetnya, dikutip Kamis (5/11/2026).
Kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi resmi dan yang dirasakan masyarakat tersebut diperkirakan masih berlanjut hingga tahun depan. Untuk keseluruhan 2026 dan 2027, LPEM UI memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) resmi masing-masing sebesar 5,39% dan 5,25%.
Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi yang dirasakan masyarakat diperkirakan hanya mencapai 4,77% pada 2026 dan 4,90% pada 2027.
Menurut Jahen, selama setahun terakhir terdapat kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat dengan tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Dengan demikian, manfaat pertumbuhan PDB belum sepenuhnya dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Untuk menggambarkan kesenjangan tersebut, LPEM UI menggunakan analogi aplikasi cuaca yang membedakan antara suhu aktual dan suhu yang dirasakan. Melalui pendekatan ini, LPEM UI memperkenalkan dua jenis proyeksi pertumbuhan, yakni pertumbuhan berdasarkan angka resmi dan pertumbuhan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Sementara itu, Ekonom LPEM UI Teuku Riefky menambahkan, kondisi perekonomian Indonesia pada kuartal III-2026 menunjukkan dinamika di tengah tekanan domestik dan tantangan eksternal. Aktivitas ekonomi masih ditopang sejumlah sektor vital, meskipun dibayangi perlambatan konsumsi masyarakat dan tingginya ketidakpastian pasar keuangan.
Dari sisi konsumsi rumah tangga, kepercayaan masyarakat cenderung melandai. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) rata-rata tercatat sebesar 117,8 pada kuartal III-2026, lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya.
Penurunan kepercayaan konsumen terutama dirasakan kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Tekanan harga kebutuhan pokok, seperti daging ayam, beras, dan cabai, turut memicu kenaikan inflasi pada Agustus dan September.
Pelemahan kepercayaan konsumen tersebut juga tercermin dari melambatnya pertumbuhan kredit konsumsi dan kredit kepemilikan rumah (KPR). Kondisi ini menunjukkan masyarakat semakin berhati-hati dalam membelanjakan pendapatannya di tengah meningkatnya kebutuhan hidup.
Di sektor perbankan, pertumbuhan DPK yang mencapai 11,06% belum sepenuhnya mencerminkan penguatan kemampuan menabung masyarakat. Sebab, porsi pendapatan yang dialokasikan untuk tabungan justru mengalami penurunan. Kondisi ini mengindikasikan sebagian masyarakat mulai memanfaatkan simpanan yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan harian.
Berbeda dengan konsumsi rumah tangga, aktivitas investasi dan penyaluran kredit ke sektor usaha masih menunjukkan kinerja cukup kuat. Pertumbuhan kredit bertahan di level dua digit, didorong oleh lonjakan kredit investasi di sektor konstruksi serta kredit modal kerja untuk sektor ketenagalistrikan.
Realisasi investasi pada kuartal III-2026 mencapai Rp528,7 triliun atau tumbuh 7,6% secara tahunan. Penanaman modal asing (PMA) mencatatkan pertumbuhan pesat berkat ekspansi hilirisasi industri logam dasar di kawasan timur Indonesia serta pembangunan infrastruktur pusat data.
Dari sisi fiskal, penerimaan negara melonjak 32,83% secara tahunan pada kuartal III-2026. Peningkatan tersebut ditopang penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) serta pendapatan nonpajak dari surplus Bank Indonesia dan denda sektor kehutanan.
Namun, peningkatan penerimaan negara juga diikuti pembengkakan belanja pemerintah, terutama untuk subsidi energi dan pelaksanaan program gizi nasional. Akselerasi belanja pemerintah pusat tersebut memperlebar defisit APBN kumulatif hingga akhir September, sementara alokasi transfer dana ke daerah masih tertahan.
Pada perdagangan luar negeri, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus setelah sempat mengalami defisit pada awal tahun. Kenaikan harga komoditas utama, seperti kelapa sawit, nikel, dan batu bara, mendorong peningkatan nilai ekspor. Sementara itu, nilai impor mengalami penurunan seiring meredanya aktivitas manufaktur domestik.
Adapun di pasar keuangan, stabilitas sempat terjaga berkat tingginya minat investor asing terhadap obligasi pemerintah. Namun, tekanan berat melanda pada pertengahan Oktober 2026 setelah pengumuman konsultasi MSCI terkait wacana reklasifikasi status pasar modal Indonesia. Perkembangan tersebut memicu koreksi tajam pada pasar saham sekaligus menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Berbagai perkembangan tersebut memperlihatkan adanya ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi secara agregat dengan kondisi ekonomi yang dihadapi rumah tangga. Di satu sisi, investasi, kredit usaha, dan penerimaan negara masih menunjukkan kinerja positif. Namun, di sisi lain, pelemahan kepercayaan konsumen, tekanan harga kebutuhan pokok, serta menurunnya porsi pendapatan untuk tabungan menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat masih menghadapi tantangan.
Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum otomatis mencerminkan perbaikan kesejahteraan masyarakat secara merata. Kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan menjadi salah satu indikator penting untuk melihat kualitas pertumbuhan ekonomi nasional.
