Jakarta, TopBusiness – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus memperkuat upaya mitigasi bencana banjir lahar dingin Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Selain mempercepat penanganan darurat pada tanggul dan alur sungai yang terdampak, Kementerian PU juga akan mengubah metode pelaksanaan pembangunan sabo dam untuk mengantisipasi risiko kerusakan konstruksi apabila terjadi erupsi maupun banjir susulan lahar dingin selama proses pengerjaan.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, metode pembangunan sabo dam ke depan perlu dilakukan secara lebih adaptif dengan mempertimbangkan kondisi dan potensi bahaya di lokasi pekerjaan. Salah satu pendekatan yang akan diterapkan adalah mengerjakan komponen konstruksi terlebih dahulu di luar titik pembangunan atau pada lokasi yang relatif aman dan tidak jauh dari lokasi sabo dam. Setelah komponen siap, pemasangan dilakukan secara bertahap di titik pembangunan.
Menurut Menteri Dody, metode tersebut diperlukan agar proses konstruksi tidak seluruhnya dilakukan langsung di alur sungai yang berisiko diterjang aliran lahar dingin. Dengan demikian, material maupun bagian konstruksi yang telah disiapkan dapat lebih terlindungi apabila terjadi erupsi atau banjir lahar dingin secara tiba-tiba.
“Pola pengerjaannya harus kita ubah. Pekerjaan bisa dilakukan terlebih dahulu di luar titik sabo dam, di lokasi yang lebih aman dan tidak terlalu jauh. Setelah siap, baru secara bertahap dipasang ke titik pembangunan. Jadi, apabila terjadi erupsi atau banjir lahar dingin saat proses pengerjaan, risiko kerusakan terhadap hasil pekerjaan dan material yang sudah disiapkan bisa kita minimalkan,” ujar Menteri Dody.
Menteri Dody menjelaskan bahwa pembangunan sabo dam merupakan salah satu upaya mitigasi yang telah dilakukan Kementerian PU untuk mengendalikan aliran material vulkanik, mengurangi risiko banjir lahar dingin, serta melindungi kawasan permukiman dan infrastruktur di sepanjang aliran sungai. Evaluasi terhadap metode pelaksanaan konstruksi menjadi bagian dari upaya meningkatkan keamanan dan efektivitas pembangunan infrastruktur pengendali sedimen di kawasan Gunung Semeru.
Penanganan Tanggap Darurat Pada Lokasi Terdampak Erupsi Gunung Semeru
Di samping penguatan mitigasi jangka panjang, Kementerian PU melalui balai teknis terkait juga terus mempercepat penanganan darurat di sejumlah lokasi terdampak. Berdasarkan realisasi pekerjaan hingga 6 November 2026, penanganan dilaksanakan di tiga lokasi, yakni Sumbersari, Tempursari, dan Jugosari di Desa Sumberwuluh.
Di Sumbersari, penanganan difokuskan pada perbaikan tanggul yang mengalami kerusakan sepanjang sekitar 45 meter dengan tinggi sekitar 8 meter. Pekerjaan yang telah dilaksanakan meliputi perbaikan tanggul dengan ketinggian mencapai 6 meter serta peninggian tanggul akses masuk alat berat sekitar 0,5 meter, sepanjang 15 meter dan lebar 3 meter. Penanganan di lokasi ini didukung satu unit excavator.
Sementara di Tempursari, Kementerian PU melalui BBWS Brantas telah melaksanakan pembangunan tanggul darurat sekaligus pengalihan alur sungai sepanjang 600 meter. Penanganan juga mencakup perbaikan jalan warga yang terputus sepanjang 150 meter serta penutupan alur sungai dari arah hulu untuk mengendalikan aliran air. Pekerjaan tersebut didukung dua unit excavator.
Adapun di Jugosari, Desa Sumberwuluh, penanganan difokuskan pada pembangunan jalan dan tanggul darurat sepanjang 400 meter, termasuk penambahan tinggi tanggul sekitar 1 meter. Untuk pembangunan jalan darurat telah mencapai 50 meter dari rencana sepanjang 180 meter.
Secara keseluruhan, penanganan darurat di ketiga lokasi tersebut didukung empat unit excavator. Melalui percepatan penanganan darurat dan evaluasi metode pembangunan infrastruktur pengendali sedimen, Kementerian PU berkomitmen memperkuat mitigasi bencana di kawasan Gunung Semeru.
