Sekalipun kualitas kopi Indonesia tiada tandingan, tingkat pasokan di pasar global masih di urutan keempat. Bila tidak cermat, kelak disalip negara lain yang harga kopinya lebih murah.
Bahwa Indonesia adalah satu negara produsen kopi terbaik dunia dengan standar mutu yang sudah tak terbantahkan, itu sangatlah gamblang. Pun, keanekaragaman cita-rasa kopi Indonesia tidaklah bisa ditemui di tempat lain. Sudah begitu, Indonesia salah satu negara tropis dengan paling banyak gunung api aktif di dunia pula, inilah yang menjadikan karakteristik kopi Indonesia tiada tandingan.
Seribu satu sayang, keunggulan tersebut tidaklah sebanding dengan tingkat kesinambungan produksi kopi di nusantara ini; pada tahun 2017 lalu, produksi kopi hanya bisa menghasilkan 10,4 juta karung. Itu ada di posisi keempat global, padahal tahun sebelumnya posisi Indonesia di urutan kedua. Semua itu berdasarkan data United States Departement of Agriculture (USDA) Report, Desember 2017.
USDA menjelaskan, peringkat pertama ditempati Brazil dengan hasil 51,2 juta karung; kedua yakni Vietnam dengan produksi 29,9 juta karung; posisi ketiga yaitu Kolombia dengan produksi14,7 juta karung; posisi keempat ditempati Indonesia dengan produksi10,4 juta karung. Sedangkan posisi kelima ditempati Honduras dengan 7,4 juta karung.
Sementara itu, harga kopi Robusta Indonesia di USD 240-260/metric ton (mt) dengan free on board (FOB) Lampung Port. Nah, harga Robusta Vietnam dilego di USD 30-40/mt dengan FOB di HoChiminch Port.
Sedangkan harga kopi Arabika Mandailing dari Indonesia di harga USD 135/lbs; harga kopi Arabika Kolumbia USD 12-15/lbs. Dalam hal ini, ada jauh sekali perbedaan (disparitas) harga. Permintaan kopi Indonesia sangat tinggi, akan tetapi tidak diikuti oleh pasokan yang cukup.
Wakil ketua Badan Pimpinan Daerah (BPD) Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Moelyono Soesilo, menyatakan kepada wartawan Majalah BusinessNews Indonesia, hal itu tentunya menjadi ancaman bagi Indonesia. Di sini, ada negara-negara pesaing yang kopinya jauh lebih murah dan produksinya juga jauh lebih besar ketimbang Indonesia. “Tentunya para pesaing dengan harga lebih murah, bisa melepas produknya ke pasar dan akan bisa menyalip pasar Indonesia. Apalagi sudah menjadi tren pasar untuk selalu mencari produk dengan harga lebih murah,” terang Moelyono.
Moelyono menegaskan bahwa produksi kopi Indonesia tidak pernah bisa meningkat di atas 700.000 ton per tahun dengan luasan kebun 1,24 juta hektar, dengan tingkat produksi 700 kg per hektar. Di negara penghasil kopi lainnya seperti Vietnam, telah bisa menghasilkan kopi 4 ton per hektar.
Permasalahan pertanian kopi di Indonesia masih dalam seputar pembinaan, perawatan, dan pembibitan, yang masih asal-asalan. “Walhasil, para petani belum bisa menggantungkan hidup secara totalitas pada tanaman kopi, berkebun masih menjadi pekerjaan sampingan semata,” ujar Moelyono.
Moelyono mengatakan bahwa perhatian pemerintah Indonesia juga masih setengah-setengah. Terlebih lagi, kini pemerintah Indonesia lebih senang memerhatikan produk hilir yang sedang tren dengan menjamurnya kedai kopi. “Sedangkan perhatian di hulu yang harus mendapatkan perhatian khusus secara rutin, malah terabaikan. Padahal, produk kopi ini telah menyumbangkan devisa kepada APBN yang terbilang besar. USD 1,466 miliar pada tahun 2017 di luar penerimaan migas,” kata dia.
Moelyono meminta pemerintah memerhatikan ranah hulu kopi secara khusus. Pasalnya, bila negara lain menyalip, penerimaan devisa ekspor Indonesia otomatis ikut terjun.
Petani Kopi
Slamet Prayogo adalah seorang petani kopi di Malabar Mountain Coffe, Pengalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Ia menyatakan bahwa hampir seluruh petani yang sering disambangi, berciri serupa.
Yakni, kebunnya kurang mendapatkan perawatan yang baik dan benar. “Sebenarnya, kita harus selalu rutin membersihkan gulma, lantas memangkas- potong batang jika sudah terlalu tinggi, dan memotong cabang-cabang yang sudah tua, mengering, dan mati. Jika pemotongan ranting-ranting yang sudah tua ini dilakukan secara rutin maka tunas muda akan tumbuh kembali,” kata dia.
“Tentunya setelah tunas muda muncul, akan merangsang bakal buah baru yang tumbuh dengan lebat,” tegas Yoga (sapaannya) yang selalu merawat kebunnya dengan baik.
“Kami merawat dan memerlakukan kebun dengan sangat teliti. Saya harus terjun langsung ke kebun di Pengalengan maupun di Ciwidey. Jika pohon kopi ini tidak terawat dengan baik-benar, jangan harap dapat memberikan hasil yang maksimal, sekalipun dengan bibit yang bersertifikat,” terang Yoga.
Sudah tentu, kita semua ingin ada banyak petani yang seperti Yoga dan kopi Indonesia kian berkilau secara global, bukan? (Al)
