TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Ketika Asing Lebih Sedikit Namun Dominan di BEI

Achmad Adhito
18 June 2018 | 09:14
rubrik: Capital Market
Ketika Asing Lebih Sedikit Namun Dominan di BEI

Sumber Ilustrasi: Istimewa

Penurunan IHSG secara signifikan akhir-akhir ini, ditengarai karena aksi jual investor asing. Sementara, jumlah investor domestik sejatinya sudah lebih banyak.

 

Seorang konsultan di suatu KJPP (kantor jasa penilai publik), punya pengamatan terhadap pergerakan investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. Begini, ia menceritakan bahwa investor asing banyak yang memegang saham-saham berkapitalisasi besar di LQ45. Otomatis, pergerakan sang asing ini menentukan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di bursa saham itu.

“Misalnya, ada kelompok investor asing yang menguasai saham Telkom. Di saat mereka sedang melakukan aksi beli ke saham itu, indeks saham terpengaruh bergerak naik. Sebaliknya, di saat mereka ramai menjual saham di LQ45, tidak heran bila dengan serta-merta indeks ikut turun,” kata konsultan tersebut.

Kalau kita mengacu ke analisis tersebut, tidaklah mengherankan ketika belakangan ini IHSG bergerak turun. Pasalnya, di sejumlah media massa, ada banyak pemberitaan tentang banyaknya aksi jual saham oleh investor asing. Dan seiring itu, IHSG bergerak turun.
Tidak kepalang tanggung, penurunan IHSG itu dari titik puncak 6.600-an, menjadi 6.100-an ketika tulisan ini dibuat. Benarkah bahwa semua ini gegara aksi sang investor asing?

Cerita lain datang dari seorang editor ekonomi-bisnis di sebuah media nasional. Ya, ia menceritakan bahwa kini kondisinya sejatinya lebih baik. Dalam arti, kontribusi investor domestik sudah lebih baik. “Dulu sekitar tahun 2012, ketika kita mendapati banyaknya investor asing bikin aksi jual, hampir pasti bahwa indeks saham turun. Tetapi, belakangan ini, di saat asing menjual [saham], tidak otomatis bahwa indeks ikutan turun,” dia bercerita.

 

Sudah Lebih Banyak

Jumlah investor domestik di bursa saham Indonesia memang kini sudah kian bertambah. Data dari KSEI menunjukkan bahwa angka investor saham sudah jauh lebih banyak. Kisahnya, per Juli tahun 2017 saja, jumlah SID (single investor identification) sudah menembus angka 1 juta. Persisnya, di 1.025.414 SID. Secara tahunan atau dibandingkan dengan Juli tahun 2016, ada kenaikan sebesar 14,7%.

BACA JUGA:   3 Saham Properti Favorit Asing di Oktober

Dilihat dari komposisinya, mayoritas investor saham di Indonesia adalah perorangan. Jumlah kelompok ini mencapai 993.181. Ini berarti bahwa sebanyak 96% investor saham adalah perorangan. Angka 993.181 itu secara tahunan tercatat naik drastis sebesar 109%.

Bagaimana posisi investor lokal terhadap investor asing? Data dari KSEI tersebut menunjukkan bahwa kalau dilihat dari sisi pemilikan, investor domestik telah memegang angka 52,65%. Adapun investor asing memegang angka 47,35%.

Lebih lanjut, data KSEI membeberkan bahwa dalam hal pemilikan aset obligasi korporasi yang tercatat di sistem C-Best per 31 Juli 2017, porsi investor domestik di 93% atau senilai Rp 260,15 triliun.

Akan tetapi, dalam pemilikan saham, memang porsinya terbalik. Rincinya, di sistem C-Best, terekam bahwa total aset saham masih dikuasai investor asing dengan porsi 53% atau senilai Rp 1,872 triliun. Sedangkan investor domestik memegang porsi 47% atau aset saham bernilai Rp 1,642 triliun.

Di saat posisi pemilikan antara investor asing dengan domestik sejatinya tidak berbeda jauh, kenapa gerangan IHSG masih dikendalikan sang asing? Analis saham dari PasarDana, Arief Budiman, punya pendapat tentang hal tersebut.

Melalui telepon genggam, dia berpendapat bahwa turunnya IHSG dari level 6.600-an ke 6.100-an, dikarenakan pengaruh teknikal dan ekonomi global ke investor asing di bursa saham Indonesia. Menurut analis muda ini, penurunan IHSG sejak akhir Februari 2017 disebabkan oleh pertama, faktor teknikal. Dalam hal ini, ada aspek jenuh-beli yang membuat investor asing menjual saham.

Di sisi lain, faktor eksternal alias perekonomian global, membuat investor asing berpaling dari BEI. Persisnya, perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok dan isu kenaikan suku bunga The Federal Reserve (Bank Sentral AS) sejak awal 2018, merupakan faktor yang berpengaruh.

BACA JUGA:   Pagi Ini Asing Cenderung Beli Saham

Akibat perang dagang itu, bursa saham global terkontraksi karena khawatir bahwa peristiwa itu berpengaruh ke ekonomi global secara menyeluruh. “Dua negara tersebut kan merupakan negara dengan perekonomian terbesar dunia,” kata Arief.

Kemudian, ketika The Fed akhirnya menaikkan suku bunga pada pertemuan 21 Maret 2018 dan 22 Maret 2018, lahir jugalah sentimen tambahan lain yang menekan IHSG untuk turun lebih dalam. Naiknya suku bunga The Fed berpotensi menyebabkan arus keluar (capital outflow) dari emerging market seperti Indonesia.

Karena naiknya suku bunga AS, membuat pandangan pelaku pasar bahwa menyimpan uang di AS lebih menarik ketimbang membeli instrumen aset berisiko seperti saham di negara emerging market. “Hal tersebut pun telah tercermin dari pergerakan investor asing yang telah keluar dari pasar saham Indonesia secara year to date senilai Rp 23,49 triliun atau telah melewati separuh (tepatnya 58,87%) dari aksi jual investor asing sepanjang tahun 2017 sebesar Rp 39,90 triliun. Padahal jika diperhatikan, 2018 baru berjalan selama tiga bulan,” ungkap Arief.

Bukankah jumlah investor domestik lebih banyak? Mengapa investor asing masih bisa membuat IHSG merosot seperti itu? Arief menjelaskan, bahwa kalau disebut bahwa investor domestik lebih banyak, memang benar. Di tiga bulan pertama 2018 pun, 60% transaksi dilakukan oleh investor domestik.

Tetapi di sisi lain, pergerakan investor asing secara psikis akan memengaruhi investor lokal. “Keluarnya investor asing akan membuat investor domestik melepas pemilikan [saham]. Karena investor domestik berpandangan bahwa ada faktor yang membuat investor asing memandang bahwa pasar modal Indonesia kurang menarik untuk investasi,” kata dia.

Data dari pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelaskan bahwa di Januari 2018, investor asing masih mencatatkan net buy senilai Rp 1,76 triliun. Di Februari 2018, angka net buy investor asing itu minus sebesar Rp 10,33 triliun.

BACA JUGA:   Lebih Sedikit, Asing Tetap Dominan di BEI

Kemudian, di awal Maret 2018 sampai 16 Maret 2018, angka net buy investor asing, masih minus sebesar Rp 8,72 triliun. Dalam waktu tersebut, kontribusi investor domestik masih lebih besar. Yakni sebagai berikut: 66,10%; 69,25%; dan 64%.

Sekarang, kita berharap bahwa IHSG lebih sakti mandraguna ketika bersua dengan investor asing, bukan? (Dhi)

 

*Tulisan Ini Sebelumnya Dimuat di Majalah BusinessNews Indonesia Edisi Mei 2018

Tags: arief budimaninvestor asing saham beipasardana
Previous Post

Corporate Character Building

Next Post

Awas, Kopi Nusantara Bisa Disalip

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR