TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Transformasi Bantaeng dari Daerah Tertinggal Jadi Pusat Ekonomi Sulsel

Nurdian Akhmad
2 July 2018 | 11:30
rubrik: Ekda
Transformasi Bantaeng dari Daerah Tertinggal Jadi Pusat Ekonomi Sulsel

Pantai Marina jadi andalan pariwisata Bantaeng/foto: istimewa

Tidak lama lagi Nurdin Abdullah yang telah menjabat Bupati selama 10 tahun ini mengakhiri masa jabatannya di Bantaeng, sebuah kabupaten kecil di provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten ini menjadi tenar beberapa tahun belakangan berkat kepemimpinan bupatinya, Nurdin Abdullah, yang juga seorang raja.

Berkat keberhasilannya di Bantaeng, Nurdin Abdullah dipercaya masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk memimpin provinsi ini selama kurun lima tahun  ke depan. Dalam Pilkada 2018 lalu, ia mengungguli cagub-cagub Sulsel lainnya.

Akhir pekan lalu, Nurdin Abdullah yang juga profesor agrikultur ini berpesan, agar bupati yang terpilih dapat melanjutkan pembangunan di Kabupaten Bantaeng.

“Saya harap kepada Bupati yang terpilih di Bantaeng dapat melanjutkan pembangunan dan menjaga apa yang telah dibangun di Bantaeng,” Kata Nurdin Abdullah di Bantaeng, Sabtu (30/6/2018).

Lalu sejauh mana keberhasilan pembangunan di Bantaeng tersebut? Bantaeng mashyur karena pembangunannya. Dalam waktu tak sampai 10 tahun, Bantaeng bertransformasi dari awalnya masuk 199 daerah tertinggal di Indonesia, kini jadi pusat kekuatan ekonomi baru di Sulawesi Selatan.

Kebun Wisata salah satu destinasi baru di Bantaeng

Jika anda berkunjung ke sana, perkembangan kabupaten yang berjarak 130 Km dari Makassar ini sudah bisa terasa di ‘pintu’ masuknya. Perjalanan darat dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, Sulsel, menuju Bantaeng akan melewati kota Makassar, Gowa, Takalar, dan Jeneponto.

Sepanjang perjalanan, jika Anda berangkat bulan Agustus, akan mudah ditemui lahan-lahan kering yang memang sebagian difungsikan sebagai sawah tadah hujan. Namun pemandangan akan sangat berbeda saat memasuki wilayah Bantaeng. Setelah melewati jembatan besi yang jadi penanda perbatasan Jeneponto-Bantaeng, hamparan lahan ditumbuhi tanaman nan subur akan jadi pemandangan yang mudah ditemui.

Areal persawahan berundak akan langsung menyambut mereka yang masuk ke Bantaeng. Pemandangannya bisa dikatakan sedap dipandang. Sebelum pemandangan itu, sebenarnya bisa terlihat juga Pelabuhan Bantaeng. Namun tak terlalu mencolok jika dilihat dari Jalan Poros Jeneponto-Bantaeng.

BACA JUGA:   Labuan Bajo Tuan Rumah KTT G-20

Terus masuk ke dalam wilayah Bantaeng, akan terlihat nyaris tak ada lahan menganggur di kabupaten yang dijuluki Botta Tua atau Kota Tua itu. Hampir semua lahan yang terlihat dari jalan dimanfaatkan untuk pertanian.

Kebun Apel sebagai salah satu komoditas baru Bantaeng yang dikembangkan era bupati Nurdian Abdullah.

Di wilayah pusat kabupaten, terlihat masyarakat ramai beraktivitas. Armada pemadam kebakaran dan ambulance Bantaeng yang canggih dan sudah tersohor bisa terlihat dari jalan utama.

Keberhasilan Nurdin di kabupaten ini di antaranyaadalah meningkatkan hasil panen padi. Dari awalnya 3-4 ton di tahun 2008 saat Nurdin baru naik jadi Bupati, kini, dengan mengatur jarak tanam padi, menjadi 10-12 ton atau meningkat hingga tiga kali lipat.

Nurdin juga menyampaikan Bantaeng telah melakukan diversifikasi di bidang pertanian. Awalnya, masyarakat di wilayah dataran tinggi Bantaeng hanya menanam kentang, kini sudah beragam dengan salah satu tanaman utama bawang. Bibit bawang diimpor dari Filipina, dengan alasan kecocokan dengan wilayah dataran tinggi.

Pembangunan di berbagai sektor juga dilakukan oleh Nurdin. Profesor Agrikultur ini tak hanya mengembangkan pertanian, tapi juga pariwisata dan industri. Di bidang pariwisata, Nurdin membangun berbagai titik tujuan wisata baru. Pantai Marina yang dilengkapi fasilitas hotel dan villa, Pantai Seruni yang ramai, serta wilayah dataran tinggi Ulu Ere yang berbunga-bunga jadi andalan wisata.

Selain pariwisata, Bantaeng juga menyediakan 3.000 hektare wilayah industri. Smelter Huadi nickel-alloy Indonesia siap beroperasi. Pabrik-pabrik lain menanti.

Dalam kurun 10 tahun memimpin, penerima anugrah Tanda Kehormatan Jasa Utama ini berhasil menurunkan angka kemiskinan yang awalnya 21 persen menjadi 5 persen. Angka pengangguran dari 12 persen, menjadi 2,3 persen. Angka perceraian, berdasarkan data dari pengadilan agama, yang pernah mencapai 155 kasus per tahun, kini jadi tinggal 17 kasus. Tingkat kejahatan, berdasarkan data dari lapas, berkurang drastis. Indikator-indikator itu membuat masyarakat Bantaeng kian bahagia.

BACA JUGA:   Infrastruktur Tingkatkan Ekonomi Papua

“Kita kan acuannya indeks kebahagiaan bukan pertumbuhan ekonomi saja. Jadi bagaimana masyarakat ini agar bahagia. Tapi harus berbanding lurus juga dengan peningkatan pelayanan publik juga,” ujar Nurdin.

Tags: bantaeng
Previous Post

Tetap Produktif Pascalibur Panjang

Next Post

Ada Lebaran, Inflasi Juni 2018 Capai 0,59 Persen

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR