TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Penggiat Arsitektur Internasional Berikan Apresiasi Untuk Paviliun Indonesia

Nurdian Akhmad
12 July 2018 | 15:10
rubrik: Business Info
Penggiat Arsitektur Internasional Berikan Apresiasi Untuk Paviliun Indonesia

Jakarta, BusinessNews Indonesia – Kalangan  penggiat dunia arsitektur Internasional memberikan apresiasi positif kepada paviliun Indonesia dalam seminar dua tahunan  bertema The Tale of The Void di  Venesia, Italia, Minggu (8/7).

Dalam rangkaian  Venice Architecture Biennale bertema Freespace, dan Indonesia hadir dengan judul Sunyata The Poetics of Emptiness.Hadir sebagai panel pembicara dalam seminar kurator Ary Indra, moderator David Hutama dan Renato Rizzi, Professor University of School Architecture at Venice (IUAV).

Ary Indra menyampaikan filosofi kekosongan yang menjadi tema dan tantangan Biennale kali ini, telah dikenal secara dekat oleh masyarakat Nusantara terutama Jawa dan bahkan konsep kekosongan memberikan pengaruh yang mendalam dan kerap mengandung unsur spiritual yang tercermin dan terasa dalam bangunan dan arsitektur Nusantara.

“Void dalam arsitektur tradisional nusantara merupakan konsep yang dikenal  yang diterapkan pada banyak bangunan sebagai jawaban pada tantangan gografikal juga sebagai cara memberikan ruang pada kebutuhn ritual dan juga kebutuhan untuk berinteraksi dengan sesama manusia,” ujarnya.

Sementara itu, professor Renato Rizzi mengatakan arsitektur terdiri dari kata arche dan techne. Arche berkaitan dengan hal-hal yang bersifat tak ternilai atau intangible sedangkan techne berkaitan dengan hal-hal yang bisa dihitung nilainya atau tangible.

Yang menjadi masalah menurutnya,  akhir-akhir ini, manusia cenderung bertumpu pada hal hal yang bersifat tangible. “Manusia saat ini berada pada periode yang sangat mengerikan dimana ada anggapan publik yang menganggap bahwa hal yang eksak seperti misalnya teknologi sangat dibutuhkan sebagai alat untuk mendominasi dan menguasai  sesama” ujarnya.

Menurut dia, hal ini  membuat manusia terjebak dan tidak bisa memahami bahwa ada hal-hal yang nilainya jauh lebih tinggi dan jauh melampaui kekuasaan namun tidak mendominasi, yang disebut arche. “Dalam dunia arsitektur, Arche adalah sesuatu yang intangible, tidak bisa dinilai tapi justru kekuatannya justru lebih tinggi dan kita sebut grace (anugerah). Grace ini hanya bisa hadir melalui pribadi yang singular, pribadi yang mengenal dirinya sendiri, yang hadir secara spesifik dan unik pada pribadi masing.masing,” ujarnya.

BACA JUGA:   Biznet Gio dan Lyrid Luncurkan Otomatisasi Microservice

Lebih lanjut dikatakan,  dengan hadirnya tema Freespace ini, diharapkan manusia dapat menarik diri, dari hiruk pikuk kebutuhan manusia pada dunia material dan teknologi, untuk sejenak merenung dan berkontemplasi, memberi waktu pada tiap pribadi untuk mengenal sisi masing-masing yang tangible dan intangible serta memanfaatkan keduanya dalam porsi yang seimbang.

Menanggapi paparan pembicara, Albert Wang, profesor arsitektur dari departemen arsitektur, Universitas Florida yang turut hadir sebagai peserta pada forum tersebut menyatakan kagum pada instalasi yang ditampilkan oleh tim kurator di paviliun Indonesia yang dianggapnya mampu menangkap ekspresi tentang Sunyata atau void atau kekosongan itu sendiri.

“Manusia modern telah diperbudak oleh teknologi dan materi. Kehadiran konsep tentang void ini mengingatkan sekaligus memberi kesempatan pada manusia untuk mempersilahkan kembali momen dan  kekosongan sebagai bentuk kontemplasi pribadi, sebelum kebendaan dan teknologi menguasai kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Blogger dan influencer Christiane Bùrklein pada kesempatan diskusi ini juga menyampaikan apresiasinya dan mengatakan  paviliun Indonesia memberikan kesan yang mendalam tentang konsep kekosongan dan berhasil menyampaikannya dalam visual yang sangat luar biasa, sekaligus memberikan kesan persahabatan yang intim.

Pengunjung lain yaitu Alessandro Modenese (24) mahasiswa arsitektur di IUAV. yang turut hadir dan mengungkapkan pendapatnya mengatakan bahwa paviliun Indonesia memberikan inspirasi dan gambaran yang nyata tentang konsep kekosongan (freespace) yang memberikan nilai tambah pada bangun dan ruang. (Red)

 

Previous Post

Mengenal Lebih dekat Formosan Aboriginal Culture

Next Post

RI Resmi Kuasai 51% Saham Freeport

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR