TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Ekonomi Kuartal II Tumbuh 5,27 Persen, INDEF Sebut Ada Kejanggalan

Busthomi
6 August 2018 | 14:09
rubrik: Ekonomi
Ekonomi Indonesia Kuartal I 2018 Membaik

foto: istimewa

Jakarta, BusinessNews Indonesia – Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis kinerja pertumbuhan ekonomi kuartal II-2018 yang ternyata mencapai 5,27 persen lebih besar dari kuartal sebelumnya yang 5,06 persen.Menurut pihak BPS, laju pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB) itu dari sisi produksi disokong oleh semua lapangan usaha dimana pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa lainnya yang tumbuh 9,22 persen.

Sedang dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen pengeluaran konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga (PK-LNPRT) yang tumbuh sebesar 8,71 persen.

Namun berdasar analisa dari INDEF (Institute of Development for Economic and Finance), ada beberapa kejanggalan dari penopang pertumbuhan ekonomi tiga bulan kedua di tahun ini. Karena beberapa variabel tidak sinkron

Direktur INDEF, Enny Sri Hartati mencontohkan, salah satunya sektor industri terlihat cukup janggal. Dari data yang ada, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,59 persen, tapi anehnya malah sektor industrinya hanya naik 3,07 persen.

“Jadi itu barang siapa yang dikirim kalau transportasi dan pergudangan naik tinggi, tapi kok sektor industri stagnan? Dan tidak bisa dibenarkan juga kalau itu barang e-commerce,” ungkap Enny di Jakarta, Senin (6/8/2018).

Dia menegaskan, bisnis e-commerce itu hanya sebuah cara dalam bertransaksi. “Kalau itu barangnya dari industri dalam negeri, tentu saja industri gak mungkin nyungsep seperti saat ini,” kritik Enny.

Bagi dia, semua variabel pertumbuhan ekonomi itu mestinya saling terkait satu sama lain. Sehingga tidak mungkin satu variabel berdiri sendiri-sendiri.

“Coba dikonfirmasi lagi ke BPS, kenapa antar variabel kok tidak sinkron? Kalau memang untuk konsumsi rumah tangga tumbuh 5,1 persen saya percaya,” kata Enny.

BACA JUGA:   BI: Bunga Kredit Melandai Namun Terbatas

Hal itu, kata dia, karena dipicu adanya lebaran dan pilkada yang bisa jadi justifikasinya. “Tapi kalau kemudian investasi hanya tumbuh 5,8 persen dan ekspor defisit, itu sulit ketemu angka (PDB) 5,2 persen lebih,” papar dia.

Dia menegaskan, untuk laju investasi atau penanaman modal tetap bruto (PMTB), kata dia, yang hanya 5,8 persen lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang capai 7 persen lebih. Ditambah lagi sektor ekspor yang masih jeblok.

Dia justru melihat, pertumbuhan laju impor yang paling signifikan kenaikannya dari 12,66 persen menjadi 15,17 persen. Untuk sektor lain relatif stagnan kecuali konsumsi rumah tangga tersebut.

“Efektif juga ya gaji 13 dan THR, ditambah Bansos. Termasuk efek ‘bagi-bagi duit’ di Pilkada. Jadi kalau bukan efek struktural, menurut saya tetap agak sulit dipercaya juga sih pertumbuhan ekonomi bisa tembus 5,27 persen,” pungkas Enny.

Tags: indefpertumbuhan ekonomi
Previous Post

Trinugraha Lepas 42,81 Persen Saham BFI Finance

Next Post

Lintasarta Kembali Raih Service Quality Award di Tahun 2018

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR