Jakarta, BusinessNews Indonesia – Perusahaan penyewaan crane dan alat pendukung heavy lifting, PT Superkrane Mitra Utama Tbk berencana melakukan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) sebanyak-banyaknya 300 juta saham dengan harga penawaran awal di posisi Rp900-Rp1.260 per lembar saham.
Menurut Head Corporate Finance PT UOB Kay Hian, John Octavinus, jumlah saham IPO yang akan ditawarkan ke publik tersebut sebanyak-banyaknya 300 juta unit atau setara dengan 20 persen dri jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah IPO.
“Harga penawaran pada IPO Superkrane ini sekitar Rp900-Rp1.260 per saham,” kata John di Jakarta, Rabu (15/8/2018).
Dia menyebutkan, Superkrane menargetkan bisa mendapatkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 14 September 2018 dan masa penawaran umum pada 18-21 September 2018. “Diharapkan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 28 September 2018,” tuturnya.
Lebih lanjut John mengungkapkan, sebesar 50 persen dari dana hasil IPO akan digunakan untuk pembayaran uang muka pembelian alat berat, sedangkan pelunasan sisa pembayaraan pembelian alat berat itu akan menggunakan pinjaman pihak ketiga.
“Sebesar 25 persen dari dana IPO untuk pelunasan utang bank dan leasing, serta sebesar 25 persen untuk modal kerja dalam memenuhi kebutuhan operasional perseroan,” ucap John.
Di tempat yang sama, Direktur Utama Superkrane, Yafin Tandiono Tan menegaskan, perseroan merupkan market leader perusahaan penyewaan alat berat dan alat-alat heavy lifting.
“Saat ini kami banyak mengerjakan proyek-proyek infrastruktur pemerintah, seperti jalan tol, LRT (light rapid transit dan MRT) atau mass rapid transit,” kata Yafin.
Dia menyebutkan, pada tiga bulan pertama di 2018, Superkrane mampu meraih pendapatan sebesar Rp153,2 miliar atau bertumbuh 34,5 persen (year-on-year).
“Pertumbuhan ini disebabkan oleh 75 persen peningkatan pendapatan dari penyewaan crane,” pungkas dia.
