TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Era Suku Bunga Tinggi, Obligasi JLB Bakal Diserap Pasar

Busthomi
16 August 2018 | 17:11
rubrik: Business Info
Likuiditas Baik, Perbankan Diminta Tak Buru-buru Naikkan Suku Bunga

ilustrasi: istimewa

Jakarta, BusinessNews Indonesia – Bank Indonesia (BI) baru saja kembali menaikkan suku bunga acuannnya yakni BI 7 Day Repo Rate menjadi ke level 5,5 persen. Suku bunga tinggi ini membuat produk-produk keuangan yang ditawarkan ke pasar harus memiliki nilai imbal hasil (yield) yang tinggi.

Kebijakan BI tersebut memang membuat sektor keuangan memasuki era suku hunga tinggi. Hal ini berdampak terhadap bunga atau kupon, seperti surat utang atau obligasi yang mau ditawarkan harus jauh lebih menarik. Tentu menjadi bagi pihak yang menerbitkannya.

Salah satunya penerbutan obobligasi PT Jakarta Lingkar Baratsatu (JLB) senilai Rp1,3 triliun. Obligasi ini ditawarkan ke pasar dalam dua seri dengan kupon yang menarik. Seri A dengan tenor 3 tahun kuponnya 9%-,9,75% per tahun. Sedangkan seri B tenor 5 tahun dengan kupon jauh lebih tinggi 9,85% hingga 10,65%.

Makanya, pihak JLB pun dalam mematok tingkat kupon itu berdasar dari kebijakan BI yang telah menaikkan suku bunganya itu.

“Suku bunga BI jadi 5,5%, makanya kita tawarkan kupon yang menarik juga di atas 5,5%. Karena saat ini kalau kita punya uang, terus disimpan di bank dengan tren suku bunga hanya 5%. Jadi kalau dibandingkan dengan obligasi 5 tahun bisa 10%, tentu produk kami lebih menarik,” kata Direktur Keuangan JLB, Danni Hasan di Jakarta, Kamis (16/8/2018).

Untuk itu, dirinya pun yakin jika surat utang tersebut bisa terserap pasar, kendati tengah berada di era suku bunga tinggi. “Karena imbali hasil kami sangat menarik. Jadi saya optimis obligisi seria A dan seri B bisa diburu investor,” ujarnya.

Sejauh ini, kata dia, perseroan memang mulai agresif dalam mencari pendanaan melalui pasar modal. Setelah ini, pihaknya tengah mengkaji untuk menerbitkan instrumen lain, bisa sekurutisasi atau obligasi syariah (suku).

BACA JUGA:   Ada Insentif PPN DTP, Momentum Beli Rumah di 2026

“Memang saat ini kita mulai bergeser dari banking funding ke caputal market funding. Apalagi bisnis kami cukup kuat dengan konsesi hingga 25 tahun. Jadi masih panjang. Saat ini obligasi dulu,” jelas dia.

Di tempat yang sama, Imelda Arismunandar, Direktur Invesment Banking PT BCA Sekuritas yang menjadi penjamin emisi efek JLB menyebutkan, kisaran kupon yang ditawarkan telah menyesuaikan keputusan rapat dewan gubernur Bank Indonesia tanggal 16 Agustus 2018 itu.

“Rating JLB kan A plus sehingga kita menyesuaikan kondisi di pasar saat ini ya,” imbuh Imelda.

Obligasi ini dijamin dengan jaminan fidusia berupa konsesi pengusahaan jalan tol berdasarkan perjanjian pengusahaan jalan tol ruas JORR W1 (Kebun Jeruk-Penjaringan) No. 02/PPJT/II/Mn/2007 yang haknya diberikan pemerintah selama masa konsesi dan rekening operasional yang diikat dengan fidusia.

Obligasi I JLB Tahun 2018 ini telah memperoleh hasil pemeringkatan idA+ (SingIe A Plus) dari PT Pemeringkatan Efek Indonesia (Pefindo).

Previous Post

Pidato Presiden Tak Direspons Pasar, IHSG Melorot ke 5.783

Next Post

Wismilak Sudah Danai 25.000 Wirausahawan Muda

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR