Jakarta, BusinessNews Indonesia – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) akan terus menggenjot pengelolaan dana murah atau CASA (current account and savings account) untuk meningkatkan likuiditas di tengah era suku bunga tinggi ini.
Saat ini dengan potensi Bank Indonesia (BI) yang akan kembali menaikkan suku bunga acuannya yang sekarang di level 5,5 persen, maka bisa berimplikasi pada kenaikan suku bunga di perbankan. Namun jika komposisi dana murahnya cukup tinggi, maka kenaikan bunga bisa ditekan.
Menurut Direktur Bisnis Kecil dan Jaringan Bank Mandiri, Hery Gunadi hingga triwulan II-2018, dana murah BMRI sudah mencapai Rp519 triliun. Jumlah ini terus meningkat tiap periodenya.
“Dengan jumlah tersebut yang berasal dari giro dan tabungan, maka rasio dana murah terhadap total Dana Pihak Ketiga (DPK) perseroan sebesar 64,6 persen,” ungkap Hery di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (29/8/2018).
Peningkatan CASA ini, kata dia, ditopang oleh peningkatan tabungan sebesar Rp25,9 triliun menjadi Rp332,1 triliun. Serta kenaikan giro sebesar Rp2,7 triliun menjadi Rp186,7 triliun.
“Jadi, kami sudah mengalami kenaikan 20 basis points (bps) dari komposisi CASA ini dibamding periode yang sama tahun lalu,” kata dia.
Selain itu, dia menambahkan, capaian Bank Mandiri lainnyabadalah bisa menekan biaya dana (cost of fund) untuk non-konsolidasi berhasil diturunkan menjadi di angka 2,63 persen dari posisi akhir Juni tahun lalu yang sebesar 2,93 persen.
“Makanya ke depan, Bank Mandiri akan terus berupaya untuk mendorong pertumbuhan dengan memperkuat struktur pendanaan melalui peningkatan dana murah, menjaga pertumbuhan biaya operasional serta penyaluran kredit yang lebih prudent baik di segmeb wholesale atau retail,” jelas dia.
Dari sisi kredit, bank BUMN terbesar itu mencatat kinerja pertumbuhan kredit sebesar 11,8 persen secara year on year menjadi Rp762,5 triliun pada akhir semester I-2018 ini.
Kondisi itu ditopang oleh pertumbuhan kredit segmen korporasi besar yang mencapai 22,2 persen dan pertumbuhan kredit segmen mikro sebesar 24,8 persen menjadi masing-masing Rp296,8 triliun dan Rp90,6 triliun.
“Dengan angka pertumbuhan kredit tersebut sama dengan rata-rata pertumbuhan kredit perseroan selama lima tahun terakhir yakni sebesar 11,9 persen,” pungkas Hery
