TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Masih Bertengger di 15.000, Analis: Data AS Diharapkan Bantu Rupiah

Busthomi
8 October 2018 | 09:48
rubrik: Business Info
Kurs Rupiah Terkerek Kenaikan Peringkat Moody’s

ilustrasi perdagangan valas. FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan sepanjang hari ini diproyeksi akan semakin terpuruk. Dan rupiah pun sudah dibuka berada di zona merah.

Di sesi perdagangan pagi, mengutip Bloomberg, rupiah dibuka dilevel 15.193. Angka itu melemah 10 poin atau 0,06 persen dari penutupan akhir pekan lalu di posisi 15.183.

Menurut analis pasar uang dari Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Reza Priyambada, rupiah yang masih berada di zona merah ini sangat menggantungkan pada sentimen AS yang membuatnya tak kian menyeret ke teritori negatif.

“Pergerakan USD juga terlihat mulai melambat setelah dirilisnya angka pertumbuhan gaji (nonfarm payrolls) AS yang naik di bawah ekspektasi,” jelas Reza dalam daiky report-nya, Senin (8/10/2018).

Dengan begitu, kata dia, diharapkan rilis tersebut dapat mengurangi tekanan terhadap Rupiah. Apalagi laju mata uang NKRI itu depresiasinya juga mulai melambat, dan pada hari ini mestinya dapat kembali terjadi. Sehingga membuat Rupiah memiliki jeda untuk kembali rebound.

“Paling tidak, pelemahan menjadi terbatas mengingat pergerakan Rupiah yang telah berada di area oversold-nya,” prediksi dia.

Sebelumnya, rupiah tertekan oleh kenaikan harga minyak mentah dunia dan kembali turunnya cadangan devisa. Soalnya ada penilaian, Indonesia sebagai negara nett impor minyak akan lebih sering butuh USD. Sehingga akan menggerus devisa semakin banyak.

Apalagi harga minyak mentah menjadi penyebab utama defisit pada neraca berjalan yang kian melebar. Di kuartal II-2018, defisit transaksi berjalan mencapai angka 3% dari GDP yaitu sebesar US$ 8 miliar, lebih tinggi dibanding dengan kuartal sebelumnya sebesar USD 5,7 miliar atau 2,2 persen dari PDB.

Reza pun memperkirakan laju Rupiah hari ini akan bergerak di rentang 15.182-15.169. “Tetap cermati dan waspadai berbagai sentimen yang dapat membuat Rupiah kembali terdepresiasi,” kata dia.

BACA JUGA:   Dibuka di Level 15.120, Rupiah Bergantung Pada Sentimen Domestik

Penulis: Tomy

Tags: rupiah
Previous Post

IHSG Dibuka Naik ke 5.741

Next Post

IFC Terbitkan Green Bond dalam Rupiah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR