Jakarta, TopBusiness – PT Jaya Bersama Indo Tbk (DUCK) telah menjadi perusahaan terbuka dengan melepas sebanyak 40 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah proses penawaran perdana saham (initial public offering/IPO).
Rencananya, perseroan akan banyak melakukan ekspansi di tahun depan. Meski belum mau menyebut angka investasinya, tapi DUCK berencana untuk membuka banyak gerai baru.
Menurut Direktur DUCK, Dewi Tio, gerai baru akan dibuka pada sejumlah kota besar di Indonesia antara lain di Jawa, Bali, Sulawesi dan Kalimantan.
“Ditambah lagi, perseroan juga akan berekspansi ke luar negeri dengan menyasar pasar di Vietnam, Kamboja, dan Myanmar. Kemungkinan akan dilakukan pada 12 bulan ke depan,” jelas dia di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (10/10/2018).
Pada tahun 2003, kata dia, pengelola jaringan restoran chinese food itu membuka restoran pertama di Senayan Trade Centre, Jakarta. Sejauh ini, pihaknya fokus pada masakan tradisional Tiongkok, tanpa daging dan lemak babi. Dengan hidangan utamanya adalah bebek Peking panggang.
“Sejauh ini, jaringan restoran kami menjadi salah satu jaringan restoran yang paling cepat berkembang dan sangat diakui, karena sudah ada 35 gerai tersebar di sembilan kota di Indonesia,” jelas dia.
Perusahaan memiliki tiga merek utama, yaitu The Duck King, Fook Yew, dan Panda Bowl, serta tujuh sub-merek dari The Duck King untuk menangkap permintaan di segmen konsumen kelas menengah yang sedang tumbuh di Indonesia.
Lebih jauh dia menegaskan, secara grup, oerseroan mempekerjakan hampir 2.000 karyawan dengan 70 koki terlatih dari Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Tiongkok. Mereka dilengkapi dengan kualifikasi standar internasional dan pengalaman yang bereputasi panjang di industri makanan (F&B) Tiongkok.
“Kami juga akan terus meningkatkan pangsa pasar dengan konsep restoran atau merek baru, meningkatkan kesadaran konsumen terhadap merek perseroan melalui pemasaran aktif dan promosi, serta melalui keunggulan operasional,” tutur dia.
Secara kinerja keuangan, lanjutnya, DUCK berhasil membukukan kenaikan pendapatan sebesar 23,4% dari Rp 436 miliar pada 2016 menjadi sebesar Rp 538 miliar di 2017. Adapun EBITDA naik 118,2% dari Rp 62 miliar pada 2016 menjadi Rp 134 miliar pada 2017.
“Margin EBITDA mencapai 24,9 persen. Sedangkan net margin tahun 2017 sebesar 13,5%, dengan perolehan laba bersih sebesar Rp 72 miliar,” kata dia.
Sementara itu, untuk total aset juga meningkat 18,3% dari Rp 447 miliar pada 2016 menjadi Rp 529 miliar di 2017. Total ekuitas juga naik 32% dari Rp 241 miliar di 2016 menjadi Rp 318 miliar (year on year). Total Kewajiban naik 2,3% dari Rp 206 miliar pada (2016) menjadi Rp 211 miliar di 2017.
“Sedangkan untuk current ratio naik dari 1,9 kali menjadi 2,2 kali. ROE (return on equity) turun dari 36,7% menjadi 22,6%. ROA (return on asset) turun dari 19,7% menjadi 13,6%; dan debt to equity ratio (DER) stabil, yakni sebesar 0,2 kali,” klaim dia.
Penulis: Tomy
