TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Rupiah Menguat ke 15.200, Analis Berharap Tekanan Global Mereda

Busthomi
16 October 2018 | 10:32
rubrik: Capital Market
Kurs Rupiah Terkerek Kenaikan Peringkat Moody’s

ilustrasi perdagangan valas. FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini diproyeksi masih akan kembali melemah, meskipun di sesi pembukaan sudah menguat.

Mengutip Bloomberg, dalam sesi perdagangan pagi rupiah dibuka di posisi 15.200. Angka itu memang menguat 20 poin dari penutupan kemarin di posisi 15.220. Namun kemudian kembali melemah ke posisi 15.214 (dalam 15 menit pertama) atau melemah 6 poin alias 0,04 persen.

Menurut analis pasar uang dari Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Reza Priyambada, pergerakan Rupiah cenderung stagnan di pasar valuta asing (valas). Ternyata adanya rilis surplus perdagangan senilai US$ 0,23 miliar belum terlalu direspon pasar.

“Sehingga pergerakan Rupiah yang stagnan belum mengubah arah target perkiraan dari rupiah selanjutnya untuk menguat,” tegas Reza dalam daily report-nya, Selasa (16/10/2018).

Dia menegaskan, rilis dari Badan Pusat Statistik (BPS) terkait surplusnya neraca perdagangan belum membuat Rupiah menguat. Namun diharapkan tekanan global dapat lebih berkurang.

“Karena adanya rilis penjualan ritel AS yang diperkirakan di bawah perkiraan diharapkan dapat mengurangi kenaikan USD, sehingga membuat Rupiah berkesempatan untuk kembali menguat,” jelas dia.

Dengan kondisi itu, rupiah diprediksi hanya akan bergantung pada sentimen global. Kondisi di dalam negeri tak terlalu direspon positif pasar.

Seperti terkait dengan kesepakatan swap antara Indonesia dan Jepang. Bank Indonesia (BI) dan Bank Sentral Jepang (Bank of Japan), yang bertindak sebagai agen Kementerian Keuangan Jepang, telah menandatangani amandemen perjanjian kerja sama Bilateral Swap Arrangement (BSA) pada 14 Oktober 2018.

“Seperti perjanjian sebelumnya, nilai fasilitas swap masih sama, yaitu sampai dengan US$ 22,76 miliar, juga kebijakan kenaikan tarif PPh 22 dan perluasan mandatori biodiesel 20 persen belum terlihat dampaknya, sehingga Rupiah pun tidak bergeming,” tutur dia.

BACA JUGA:   Meski Melemah, Rupiah Diproyeksi Masih Bisa Terapresiasi

Dengam kondisi tersebut, dia memperkirakan laju Rupiah akan bergerak di kisaran 15.188-15.215 sepanjang hari ini.

“Tetap mencermati dan mewaspadai berbagai sentimen yang dapat membuat Rupiah kembali melemah,” ujar dia.

Penulis: Tomy

Tags: rupiah
Previous Post

Kejar Target Ekspor, Bio Farma Sasar Pasar di Afrika

Next Post

Adu Teknologi di Pameran Sepeda Motor Terbesar di Indonesia

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR