Jakarta, TopBusiness—Perkiraan bahwa perekonomian Amerika Serikat (AS) tumbuh 2,5% di tahun 2018, ternyata terlalu konservatif. Sebab, perekonomian terbesar dunia tersebut siap membukukan pertumbuhan 3% di tahun itu.
Hal itu dikatakan oleh Chief Economist DBS Group Research, Taimur Baig, melalui keterangan tertulis yang diterima pagi tadi oleh Majalah TopBusiness.
Adapun pertumbuhan global diperkirakan lebih tinggi dari 3,5%, sama seperti 2017. “Hal ini terjadi meski ada perlambatan di Tiongkok dan hilangnya beberapa momentum di Uni Eropa dan Jepang,” papar Baig.
Sementara, Econom DBS Group Research, Radhika Rao,mengatakan bahwa situasi di pasar aset tahun 2018 tidak sebaik di pertumbuhan ekonomi AS dan global. Dalam hal ini, pertumbuhan pertumbuhan stabil pada 2017 akan sulit terulang di tahun 2018, baik untuk ekuitas maupun pendapatan tetap.
“Sesungguhnya, tahun 2018 ini penuh tantangan untuk semua kelas aset,” kata Rao.
Ditambahkannya, kekhawatiran pihaknya tentang kemungkinan krisis di pasar kredit di tahun 2018 tidak terwujud. Itu meskipun AUM dana kredit turun tajam dan imbal hasilnya negatif.
“Kami tetap mengkhawatirkan tekanan kredit lebih luas menjelang 2019, baik di pasar negara berkembang maupun di pasar negara maju.”
Penulis: Adhito
