Jakarta, TopBusiness – Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta menilai, rendahnya angka inflasi tahun ini menambah daftar sukses pemerintah Presiden Jokowi dalam mengendalikan inflasi.
Apalagi pengendalian inflasi khususnya bahan makanan yang menjadi penyumbang terbesar inflasi ini bisa dilakukan oleh pemerintah selama lima tahun berturut-turut.
Dari hasil penghitungan Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), rata-rata inflasi bahan makanan dari 2009 hingga 2013 sebesar 8,04%. Sementara itu, dari periode 2014-2018 rata-rata inflasi bahan makanan sebesar 5,17%. Jadi, rata-rata inflasi bahan makanan bisa diturunkan hingga menjadi sepertiganya. Atau jika dirata-ratakan, inflasi bahan makanan lebih dapat dikendalikan karena menurun hingga 36%.
“Dari hasil penghitungan KEIN, rata-rata inflasi dari 2009-2013 itu sebesar 8,04% sedangkan dari periode 2014-2014 sebesar 5,17%,” ujarnya di Kantor KEIN, Jakarta, Rabu (2/1/2018).
Hari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Desember 2018 mengalami inflasi sebesar 0,62% (month to month/mtm). Angka ini mengalami kenaikan dari November 2018 yang sebesar 0,27%.
Sementara bila dilihat tahun kalender Januari hingga Desember 2018 maka inflasi sebesar 3,13% (year to date/ytd). Sementara, inflasi tahunan Desember 2018 sebesar 3,13% (year on year/yoy).
Menurut Arif, terkendalinya inflasi pangan tidak terlepas dari bisa ditekannya harga komoditas pangan utama seperti beras selama lima tahu terakhir ini. Pasalnya, harga beras menjadi komoditas pangan utama yang menjadi indikator rendah atau tidaknya angka inflasi.
Selama lima tahun belakangan ini, kontribusi harga beras terhadap inflasi rata-rata hanya sektiar 5,2%. Angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan periode lima tahun sebelumnya di mana kontribusi harga beras terhadap inflasi adalah rata-rata sebesar 8,5% per tahun.
