Jakarta, TopBusiness – Sistem autorejection PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan di Bursa telah menghentikan aktivitas transaksi dua emiten properti sesaat setelah pencatatan perdana saham di papan pengembangan.
Mereka adalah PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY) dan PT Nusantara Properti Internasional Tbk (NATO). Kejadian ini terpaksa dilakukan BEI karena harga saham kedua emiten anyar itu langsung melonjak 70 persen dengan frekuensi transaksi yang minim.
Menurut Direktur BEI, I Gede Nyoman Yetna, BEI sendiri berencana akan mengatur batas atas kenaikan harga saham saat proses pencatatan perdana di perdagangan Bursa.
“Saat ini BEI tengah mengkaji tren kenaikan harga saham IPO saat transaksi perdana hingga mencapai 70 persen,” ungkap Nyoman, di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (18/1/2019).
Saat ini, kata Nyoman, BEI memiliki sejumlah alternatif untuk mengatur besaran kenaikan harga saham IPO di pasar sekunder.
“Akternatif pertama terkait pengaturan itu adalah penetapan besaran batas atas penolakan penawaran secara otomatis (auto-rejection),” dia menegaskan.
Selanjutnya, kata Nyoman, BEI akan melakukan pengetatan pengawasan terhadap transaksi. Dan yang ketiga adalah penggabungan pada dua alternatif pengaturan tersebut.
Saat listing CLAY dan NATO di papan pengembangan BEI, masing-masing harga saham emiten tersebut melejit sebesar 70 persen dan 69,9 persen. Padahal, frekuensi transaksi CLAY hanya sebanyak lima kali dan NATO cuma tiga kali.
Harga CLAY langsung meroket ke level Rp306 dari harga penawaran umum sebesar Rp180 per saham, sedangkan NATO meningkat ke harga Rp175 dri harga penawaran umum senilai Rp103 per saham.
Pada transaksi perdana tersebut, masing-masing frekuensi transaksi emiten keempat dan kelima di 2019 ini tercatat sebanyak lima kali dan tiga kali.
Dengan ditopang volumen transaksi yang masing-masing sebanyak 20 lot dan 15 lot, sehingga masing-masing nilai transaksi hanya senilai Rp612.000 dan Rp262.500.
Penulis: Tomy
