Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) pada perdagangan hari ini diproyeksi bakal berada di teritori positif. Hal ini mengingat laju USD sendiri mulai melembek usai naik berminggu-minggu.
Mengutip Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka di zona hijau ke posisi 14.035 atau menguat 57 poin dari penutupan sebelumnya di level 14.092. Di sejam pertama, mata uang NKRI juga semakin perkasa ke tangga 14.032 atau melambung 0,43% alias 60 poin.
Analis pasar uang Samuel Sekuritas Indonesia, Ahmad Mikail menegaskan, Dollar index diperkirakan melemah ke level 95.50.96.0 terhadap hampir seluruh mata uang utama dunia, setelah menguat hampir tiga minggu berturut-turut.
“Pelemahan Dollar ini disebabkan ekspektasi investor yang meyakini bahwa The Fed tidak akan menaikan tingkat suku bunga di Januari ini,” ujar dia di Jakarta, Senin (28/1/2019).
Sikap The Fed yang mengeluarkan pernyataan yang cukup dovish terhadap prospek kenaikan tingkat suku bunga AS tahun ini bakal melemahkan USD dan menguatkan mata uang lain, termasuk rupiah.
Ekspektasi tersebut, lanjut dia, juga membantu positifnya kinerja bursa saham AS. Tercatat S&P 500 naik sebesar 0,85% pada hari Jumat lalu.
“Kenaikan bursa saham AS serta melemahnya dollar itu diperkirakan akan mendorong arus modal masuk ke pasar saham dan obligasi Indonesia dan membantu penguatan rupiah,” papar Mikail.
Dengan kondisi tersebut, kata dia, laju rupiah hari ini kemungkinan menguat ke level Rp14.000/USD-Rp 14.092/USD.
Penguatan rupiah ini juga ditopang oleh sentimen dalam negeri. Salah satunya perkiraan Bank Indonesia (BI) terkait tingkat inflasi Januari sebesar 0,48%. Sehingga secara tahunan, tingkat inflasi di Januari sebesar 2,98%.
“Penyebab inflasi yang rendah itu dipicu harga komoditas pangan, komoditas inti, hingga administered price-nya terjaga. Harga yang terkendali ini bentuk kerja sama penerintah dengan pengusaha baik di pusat atau daerah,” tutur dia.
Penulis: Tomy
