Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini diproyeksi masih akan berada di zona merah. Untuk itu, rupiah pun dirasa butuh bantuan sentiment agar kembali ke teritori positif.
Mengutip Bloomberg pagi ini, mata uang NKRI itu dibuka di posisi 14.096 atau melemah tipis dari penutupan kemarin di level 14.090. Laju rupiah juga masih di ranah negatif dalam perdagangan 1 jam pertama terlihat di tangga Rp14.120 atau terdepresiasi 0,21 persen.
Menurut analis pasar uang Monex Investindo Futures, Faisyal geliat rupiah hari ini akan sangat ditentukan oleh sentiment data neraca perdagangan yang akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik. Jika tak di batas defisit, bisa jadi sebagai sentiment positif.
“Jika trade balance-nya bagus, yaitu defisitnya turun, impornya juga juga turun, , itu harusnya bisa menjadi katalis positif bagi rupiah,” ungkap Faisyal di Jakarta, Jumat (15/2/2019).
Sejauh ini, kata dia, pelemahan rupiah juga masih dipicu sentimen domestik yaitu melebarnya defisit neraca transaksi berjalan. Defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan IV-2018 tercatat US$ 9,1 miliar atau 3,57% dari PDB.
Sementara itu, secara keseluruhan pada 2018, defisit neraca transaksi berjalan tercatat sebesar 2,98% dari PDB, meningkat dibandingkan kinerja 2017 yang sebesar 1,6% dari PDB.
Lebih jauh menegaskan, rupiah juga terdampak dari sentiment global terkait hasil pertemuan Presiden China Xi Jinping dengan para pejabat AS, termasuk Perwakilan Dagang Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin.
“Kalau ada titik cerah hubungan AS dan China ke depannya usai Tump menyatakan akan memperpanjang tenggat waktu, maka bisa menjadi sentiment bagus bagi nilai tukar rupiah,” papar dia.
Sebelumnya, kata dia, nasib rupiah yang masih di zona merah lebih dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak mentah. Kenaikan harga minyak itu setelah eksportir utama Arab Saudi mengatakan akan mengurangi ekspor minyak mentah dan memangkas lebih dalam produksinya.
Penulis: Tomy
