Jakarta, TopBusiness – Pasar obligasi di tahun ini masih akan dipengaruhi suku bunga global yang akan meninggi. Hal ini menyebabkan imbal hasil (yield) dari obligasi juga bisa terkerek naik.
Dengan kondisi seperti itu, diproyeksi pasar obligasi di 2019 akan berjalan stagnan dengan mencari dana dari pasar modal. Meskipun banyak perusahaan juga membutuhkan dana untuk refinancing utang-utangnya yang jatuh tempo di tahun ini.
“Untuk fund rising (pencarian dana) dari pasar modal sendiri untuk saham susah diprediksi. Tapi dari sisi obligasi korporasi tahun ini akan stabil karena yield masih akan terjaga,” ujar ekonom Pefindo, Fikri C Permana, di Jakarta, Selasa (19/2/2019).
Menurut dia, yeild obligasi tahun ini akan dipicu oleh kenaikan yeild global akibat kenaikan suku bunga The Fed.
“Kami beranggapan masih akan ada dua kali kenaikan (the Fed fund rate( antara 0-2 persen. Dampaknya, yield AS akan naik, yield Bank Sentral Eropa juga naik, sehingga tak ada lagi easy money. Maka yield di kita pun akan naik,” terang dia.
Fikri memprediksi, sampai akhir tahun 2019 ini asumsi kenaikan The Fed fund rate dan suku hunga BI akan naik dua kali.
“Sehingga secara langsung bisa membuat kenaikan yield SUN, apalagi kurs rupiah juga masih tibggi di Rp 14.000-Rp15.000-an,” ujarnya.
Dia pun memproyeksi untuk nilai obligasi korporasi, termasuk MTN yang akan diterbitkan tahun di kisaran Rp135,2 triliun.
“Apalagi memang di obligais ini ada kebutuhan untuk refinancing mencapai Rp110 triliun untuk utang jatuh tempo,” kata dia.
Meski proyeksi penerbitan obligasi masi terjaga, namun lanjut dia, para obligor itu tak akan menerbitkan di semester I-2019, kemungkinan di semester II-2019 baru akan banyak diterbitkan. Karena masih terkaut tahun politik.
“Dari sisi politik pasti pengaruh. Karena dunia usaha juga masih wait and see. Makanya triwulan I mungkin melambat, di kuartal II baru akan mulai. Dan di kuartal III dan kuartal IV. Apalagi kalau likuiditas terjaga juga akan naik,” terangnya.
Penulis: Tomy
