Jakarta, TopBusiness – Ekonom senior INDEF, Didik J Rachbini mengkritisi kebijakan pemerintah terkait perdagangan luar negeri yang menyebabkan neraca perdagangan Indonesia menjadi defisit.
Pasalnya, kondisi tersebut menjadi akar masalah pelemahan perekonomian nasional. Terutama neraca perdagangan dengan China.
“Menurut saya, akar masalah kelemahan ekonomi Indonesia berada di sektor luar negeri, neraca berjalan dan sekarang defisit neraca jasa. Neraca berjalan kita selalu negatif, yang utamanya karena defisit di sektor ekspor impor jasa;” terang Didik di Jakarta, Kamis (21/2/2019).
Saat ini, kata dia, neraca berjalan defisit lebih gawat lagi, karena neraca perdagangan terpuruk. “Dan di neraca jasa yang desifitnya besar itu, paling abadinya adalah defisit jasa angkutan,” lanjut dia.
Dia menegaskan, belum lama ini Badan Pusat Statistik (BPS) telah menyebut defisit neraca berjalan merupakan yang terbesar sepanjang sejarah 20 tahun terakhir ini.
“Hal itu artinya, sektor luar negeri kita lemah, kedodoran, kehilangan strategi ekonomi dan dagang,” jelasnya.
Dirinya pun kerap kali menekankan, hal itu harus menjadi perhatian yang serius. Apalagi kemudian, kata dia, salah satu yang paling utama adalah defisit perdagangan dengan Cina yang tekor besar, dengan defisit menganga, dan tentu melemahkan perekonomian kita.
“Ini adalah faktor penting dimana dalam satu aspek perdagangan Indonesia berada pada pihak yang kalah, dirugikan, dan terdesak,” kecamnya.
Namun sayangnya, dia melanjutkan, pemerintah tidak terlihat mempunyai strategi diplomasi dagang, setidaknya untuk mengurangi defisit tersebut.
Dia pun membandingkan defisit perdagangan yang dialami Amerika Serijat (AS) terhadap Cina yang mrncapai US$ 375 miliar.
“Defisit yang sangat besar itu membuat AS marah dengan tidak hanya mengultimatum, tapi langsung memukul bendera perang dagang. Dalam satu bulan, defisitnya kira-kira hanya US$ 30-40 miliar,” jelasnya.
Lebih jauh dia menandaskan, tekanan perdagangan Indonesia dengan China haruslah menjadi perhatian dan menjadi strategi pemerintah ke depan.
“Jika tidak maka ekonomi Indonesia akan sangat lemah, nilai tukar rupiah akan rapuh dan kepastian bisnis tidak kuat. Apalagi sekarang defisit raksasa itu adalah pendapatan primer, utamanya adalah royalti dan gaji asing yang menyedot ekonomi Indonesia keluar negeri,” tandas Didik.
Penulis: Tomy
