
Jakarta, businessnews.id — Direktur Alternative Distribution Channel Commonwealth Life, Pieter Wattimena, menyatakan bahwa di tahun 2014 industri perasuransian menghadapi ketidakpastian. Itu karena pertumbuhan ekonomi yang melambat dari perkiraan.
Dia mengatakan di Jakarta (2/7/2014), pihaknya masih diuntungkan dengan memiliki kelebihan modal dengan RBC (risk based capital) melebihi 120 persen dibandingkan tahun 2012. Maka, pihaknya terus memerkuat linis bisnis.
“RBC kami tahun 2012 telah mencapai 531 persen, sedangkan tahun 2013 naik 1020 persen.”
Dengan demikian, tambahnya, modal yang dimiliki Commonwealth Life tergolong idle capital (atau tidak termanfaatkan) sehingga pihaknya dalam menghadapi ketidakpastian usaha perasuransian menggunakan peningkatan usaha melalui empat pilar penopang utama.
Yakni penambahan jaringan distribusi, peningkatan jumlah SDM (sumber daya manusia), pengembangan teknologi, dan peningkatan kinerja operasional.
Ia menjelaskan, penambahan distribusi dilakukan dengan menambah agen dari 800 agen menjadi 1.200. Di samping itu, akan menambah jaringan kantor dari 30 menjadi 34, dan menambah bank partner dari 16 bank menjadi 20.
Pada sisi SDM, pihaknya akan menyekolahkan calon aktuaria baik melalui entitas induknya di Australia atau memberi beasiswa kepada karyawan untuk mendapatkan lisensi aktuari di University Of Monash, Australia.
“OJK telah mewajibkan memiliki tenaga aktuaria bagi perusahaan asuransi, sedangkan saat ini tenaganya di Indonesia hanya 300 orang. Sedangkan kebutuhannya mencapai 600 orang.
“Untuk itulah kami berinisiatif mendidik sendiri,” dia berkata. (Abdul Aziz)
Editor: Achmad Adhito