Jakarta, TopBusiness – PT Bank Aceh siap menjadi ‘imam’ bagi bank pembangunan daerah (BPD) lain di seluruh Indonesia yang ingin bertransformasi menjadi bank syariah. Bank BUMD milik Pemerintah Aceh ini optimistis itu bisa dilakukan berkaca pada keberhasilan perusahaan menggenjot kinerja bisnis setelah berubah jadi bank syariah pada 2016.
Sekretaris Perusahaan Bank Aceh Amal Hasan menjelaskan, pihaknya terus mendorong agar BPD-BPD di Indonesia bertransformasi menjadi bank umum syariah (BUS), mengikuti jejak Bank Aceh. Saat ini, sudah ada beberapa BPD yang merespons positif ajakan tersebut antara lain dari BPD NTB, BPD Sumatera Barat, BPD Sumatera Utara dan BPD Sulawesi Tengah.
Dalam forum pertemuan Asosiasi Bank-Bank Daerah (Asbanda) beberapa waktu lalu juga mengemuka soal wacana BPD-BPD yang sudah memiliki unit usaha syariah (UUS) untuk dilakukan spin-off atau pelepasan usaha selambat-lambatnya pada tahun 2023. Jika tidak bisa spin off karena terkendala permodalan dan manajerial, ada dua opsi yang berkembang dalam forum tersebut yakni merger atau akuisisi.
“Untuk merger ada beberapa hal yang perlu didiskusikan oleh pemangku kepentingan yang lain, sehingga ini akan sulit diwujudkan. Yang paling memungkinkan UUS-UUS ini diakusisi oleh BPD-BPD yang sudah siap secara syariah. Yang diharapkan teman-teman yang punya UUS ini bisa diakusisi oleh Bank Aceh. Kalau itu yang terjadi maka ini sebuah keberhasilan besar dari Bank Aceh dalam mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia. Kami diminta oleh BPD-BPD yang lain, jika opsi akuisisi ini yang dipilih, maka sekiranya imamnya adalah Bank Aceh,” ujar Amal dalam acara penjurian Top BUMD 2019 di Jakarta, Selasa (19/3/2019).
Bank Aceh terpilih menjadi salah satu dari 200 BUMD yang masuk finalis untuk maju di babak penjurian di ajang corporate rating “Top BUMD 2019” yang dihelat Majalah TopBusiness bekerjasama dengan sejumlah lembaga konsultan dan lembaga riset independen.
Kinerja Bank Aceh sejak bermetamorfosis dari bank konvensional menjadi bank syariah tiga tahun lalu langsung menunjukkan perbaikan. Aset perusahaan naik dari Rp 18,8 trilun pada 2016, menjadi Rp 22,6 triliun pada 2017 dan Rp 23,1 triliun pada 2018. Demikian pula dana pihak ketiga melonjak dari Rp 14,4 triliun pada 2016, jadi Rp 18,5 triliun pada 2017 dan Rp 18,4 triliun pada 2018. Sedangkan pembiayaan juga meningkat jadi Rp 13,2 triliun pada 2018, dibandingkan Rp 12,2 triliun (2016) dan Rp 12,8 triliun (2017).
Laba sesudah pajak juga meningkat pesar dari Rp 348,4 miliar (2016), menjadi Rp 433,57 miliar pada 2017 dan Rp 439,4 miliar pada 2018. Sedangkan dividen juga naik dari Rp 251 miliar (2016), menjadi Rp 260,35 miliar pada 2018.
Bank Aceh saat ini menguasai pangsa pasar perbankan secara umum di Provinsi Aceh. Dari sisi aset, pangsa pasar bank ini mencapai 42,13 persen, sedangkan dana pihak ketiga pangsa pasarnya mencapai 46 persen. Untuk pembiayaan, pangsa pasar Bank Aceh mencapai 35,89 persen.
Strategi bisnis Bank Aceh ke depan adalah mempertahankan pangsa pasar yang sudah dikuasai serta mengembangkan pangsa pasar pada produk yang sudah dikuasai agar tidak tergerus oleh kompetitor.
“Kami juga akan meningkatkan jumlah nasabah baru dalam segmen yang belum dominan. Selain itu inovasi produk dan jasa yang berorientasi pasar serta membangun infrastruktur bisnis yang sesuai dengan segmen bisnis yang dituju,” ujar Amal.
Penulis: Nurdian A
