“Kondisi yerdebut dipicu oleh kenaikan volume dan tarif dari Kapal Tunda dan Tongkang (TNB) serta mulainya lini bisnis baru Kapal Induk (MV). Itu telah berkontribusi besar terhadap terhadap pendapatan,” ujar Imelda Agustina Kiagoes, Sekretaris Perusahaan PSSI, di Jakarta, Selasa (26/3/2019).
Tercatat, kontribusi TNB sekitar 56% dari pendapatan bersih perseroan di tahun 2018, diikuti oleh Fasilitas Muatan Apung (FLF) sekitar 39% dan MV sekitar 5%.
Sehingga, laba bruto PSSI juga naik sekitar 54% (yoy) menjadi sekitar US$ 16,3 juta di 2018 dari sebelumnya di angka US$ 10,5 juta di akhir 2017.
“Dengan demikian marjin laba bruto naik ke 25,6% di 2018 dari sebelumnya 21,5% di 2017,” kata dia.
Kinerja keuangan yang seperti dan kinerja operasional yang solid serta optimisasi aset berupa divestasi satu unit FLF telah menyokong perseroan merengkuh laba sekitar US$ 14,1 juta. “Ini menjadi capaian laba tertinggi dalam lima tahun terakhir, naik 4 kali lipat dari 2017,” katanya.
Dengan kondisi seperti itu, lanjutnya, laba bersih 2018 menjadi sekitar US$ 7,8 juta dari sekitar US$ 3,9 juta di 2017.
“Pencapaian ini menghasilkan profitabilitas yang lebih tinggi dengan marjin laba bersih sekitar 12,2% di 2018 dibandingkan sekitar 8,0% di 2017,” terang dia.
Untuk EBITDA, perseroan mencatatkan angka sekitar US$ 23,4 juta, naik sekitar 32% (yoy) dari sekitar US$ 17,7 juta. Ini mencerminkan marjin EBITDA sekitar 36,8% di 2018, lebih baik dari sekitar 36,2% di 2017.
Kondisi yang baik juga terlihat dari rasio utang perseroan yang menurun. Untuk rasio debt to EBITDA dan net debt to EBITDA per 31 Desember 2018 adalah sebesar masing-masing 1,08 kali dan 0,41 kali. Berarti lebih rendah dari masing-masing 1,81 kali dan 0,89 kali per 31 Desember 2017.
“Posisi keuangan ini menunjukkan PSS memiliki struktur modal yang terjaga dengan baik dan kapasitas keuangan yang solid,” terang dia.
Tahun ini, perseroan menargetkan raihan pendapatan bersih untuk tumbuh sekitar 25% sampai 30% dengan marjin EBITDA sekitar 28% sampai 30%.
