TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Awas, DER  Garuda sudah Sangat Tinggi

Nurdian Akhmad
2 July 2019 | 15:19
rubrik: Business Info
Indef: Distribusi Avtur Belum Efisien

Foto: istimewa

Jakarta, TopBusiness –  Konsultan senior sekaligus Direktur SNF Consulting Iman Supriyono mengingatkan bahwa rasio utang terhadap ekuitas (DER) PT Garuda Indonesia Tbk adalah 3,76 atau hampir 4 kali modal sendiri (ekuitas). Angka ini tergolong sangat tinggi untuk industri maskapai penerbangan.

“Sebagai perbandingan,Air Asia pada periode yang sama memiliki aset MYR 18,550 miliar atau Rp 63 triliun dengan utang MYR 12,364 miliar dan ekuitas MYR 6,185 miliar alias DER 2,00. Sebagai pembanding lain, Singapore Airlines per 31 Meret 2019 memiliki aset SGD 30,505 juta (Rp 315 triliun), utang SGD 16,822 juta (Rp 175 triliun), ekuitas 13,683 (Rp 142 T) alias DER 1,23,” ujar K Iman Supriyono dalam publikasinya yang dikutip, Selasa (2/7/2019).

Aset PT Garuda Indonesia Tbk saat ini adalah US$ 4,372 miliar alias Rp 61,75 triliun atau jika dibulatkan Rp 62 triliun dengan kurs Rp 14.125 per dolar AS. Sumber aset tersebut adalah dari utang sebesar US$ 3,461 miliar atau dibulatkan Rp 49 triliun  dan dari modal sendiri (ekuitas) USD 910 juta alias Rp 13 triliun.

Utang Garuda senilai Rp 49 triliun di antaranya berupa obligasi yakni Garuda global sukuk limited senilai US$ 495 juta (Rp 7 triliun) dengan tingkat imbalan setara bunga 5,95%. Selain itu, utang bank jangka pendek kepada bank BUMN (Mandiri, BRI, BNI) sebesar US$ 535 juta (Rp 7,5 triliun).

Ada pula utang jangka pendek bank-bank swasta yaitu Bank Panin US$ 150 juta (Rp 2,1 triliun), ICBC US$ 75 juta (Rp 1 triliun), Bank of China USD 70 juta (Rp 988 miliar), dan 11 bank lainnya dengan total utang US$ 1,047 miliar alias Rp 15 triliun.  Garuda juga memiliki utang berupa anjak piutang alias utang berjaminan piutang US$ 110 juta atau Rp 1,5 triliun.

BACA JUGA:   Material Longsor Dibersihkan, Akses Pameu–Geumpang Segera Difungsikan Kembali

Utang bank jangka panjang kepada pihak berelasi (BUMN) yaitu BNI, PT Indonesian Infrastructure Finance, BRI total US$ 101 juta atau Rp 1,4 triliun. Utang jangka panjang pihak tidak berelasi US$  78 juta (Rp 1,1 triliun) dan lain-lain yang nominalnya lebih kecil.

“Utang sangat besar pada banyak kreditur akan menjadi tekanan bagi manajemen. Tiap jatuh tempo pembayaran manajemen harus bekarja keras menyediakan dana pembayaran. Dan caranya adalah dengan memperpanjang utang atau mencari utang baru. Ini pasti menyita perhatian dan menimbulkan stress tersendiri. Apalagi utangnya harus lebih besar,” papar Imam.

Total posisi utang Garuda akhir 2018 adalah naik 23% dibanding tahun sebelumnya. Padahal asetnya hanya naik 16%. Kondisi ini terjadi karena Garuda tetap harus melakukan investasi yang merupakan tuntutan pasar.

“Tahun lalu pendapatan Garuda adalah US$ 3,401 miliar (Rp 48  triliun) dan total beban melebihi pendapatan sehingga terjadi rugi US$ 213 juta (Rp 3 triliun). Tahun 2018, pendapatan naik 4% menjadi US$ 3,358 miliar (Rp 47 triliun) dan menghasilkan laba US$ 5 juta (Rp 70 miliar). Tapi pendapatan dan laba ini harus dikoreksi dengan adanya sanksi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Jika pendapatan dari kerja sama dengan PT Mahata Aero Teknologi yang dipermasalahkan itu akhirnya dihapus, Garuda masih akan berada pada posisi rugi sebesar US$ 245 juga alias Rp 3,5 triliun,” paparnya.

Di samping menimbulkan tekanan dalam bekerja,  menurut Imam, utang yang besar mengandung beban bunga atau bagi hasil (syariah) yang besar juga. Total nilai tahun 2018 adalah  US$ 86 juta alias Rp 1,2 triliun. Artinya, andai saja Garuda bisa menurunkan utang separuhnya saja, uang Rp 600 miliar akan berada di tangan.

BACA JUGA:   AirAsia Terus Dekati Garuda Untuk Lepas Citilink

“Penurunan separuh utang ini akan menurunkan DER menjadi 1,88. DER Garuda adakan berada di bawah Air Asia walaupun masih jauh lebih tinggi dari pada DER Singapore Airlines,” paparnya.

Melalui penurunan utang dan realisasi pendapatan hasil kerja sama dengan Mahata, potensi Garuda untuk mengantongi laba tahun 2019 ini akan sangat besar. Apalagi penurunan utang akan mengakibatkan ritme kerja yang tenang. “Manajemen bisa fokus kepada upaya untuk meningkatkan pendapatan dengan meningkatkan okupansi dan menambah rute baru sambil meningkatkan efisiensi,” ujar Imam.

Tags: garuda indonesia
Previous Post

Garuda Disarankan Terbitkan Saham Baru

Next Post

Cukai Plastik Diusulkan Naik Jadi Rp 500

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR