Jakarta, TopBusiness – Eksploitasi air tanah yang berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan dan turunnya permukaan tanah.
“Pengelolaan air tanah harus memperhatikan antara pemasukkan dengan pengambilan, harus ada keseimbangan. Beberapa tahun ini pengambilan air tanah di beberapa tempat pengambilannya sangat banyak. Data dari Biro Pusat Statistik menunjukkan bahwa sumber air untuk kebutuhan pokok itu hampir 70 persen berasal dari air tanah, sehingga keberadaannya perlu diperhatikan, baik mulai dari pengendalian pengambilannya hingga bagaimana konservasinya untuk mengembalikan lagi fungsi-fungsi imbuhan, agar tercipta kembali keseimbangannya,” kata Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar, di acara Talkshow Air Tanah dengan tema “Penyelamatan Air Tanah dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata yang Berkelanjutan, di Bali, hari ini.
Dalam laman esdm.go.id, Rudy menambahkan, proses pengendalian pengambilan dan pemberian perizinan perlu dibatasi. Arah kebijakan pemerintah adalah bagaimana kita mengendalikan pengambilan air tanah dengan berbagai kebijakan-kebijakan yang dibuat, jangan sampai terjadi seperti sekarang ini, banyak terjadi kekeringan di berbagai wilayah karena kekurangan asupan keseimbangan airnya.
Pengelolaan air tanah oleh pemerintah dilakukan berdasarkan konsep one basin one management, yaitu pengelolaan air tanah di setiap cekungan air tanah dengan mengutamakan batas cekungan air tanah, bukan mengutamakan batas administrasi daerah. Sehingga dalam pengelolaanya, para pemangku kepentingan diharapkan dapat bekerja sama dengan baik agar air tanah tetap terjaga kelestariannya.
Penulis : Agus H
