Jakarta, TopBusiness – Di tengah harga tambang batubara yang terus melorot, membuat kinerja perusahaan-perusahaan di sektor ini juga mulai terkoreksi. Seperti yang dialami oleh PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Bahkan untuk serapan belanja modal (capital expenditure) saja masih minim karena perseroan masih berhati-hati.
Tercatat, hingga semester I-2019 lalu, serapan capex perseroan masih di bawah 25 persen atau tepatnya sebanyak US$ 25,9 juta. Padahal perseroan menganggarkan capex di tahun ini hingga US$ 121,9 juta. Dengan kondisi demikain, perseroan hanya bisa memperkirakan kemungkinan penggunaan capex di bawah US$ 100 juta.
“Melihat realisasi masih kecil, akhir tahun mungkin tidak akan US$ 121 juta. Tetap di bawah US$ 100 juta. Tapi di semester II ini bisa lebih baik (serapan capex), terutama untuk TRUST (anak usaha),” papar Direktur Keuangan ITMG, Yulius K. Gozali, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta seperti dikutip Rabu (28/8/2019).
Keyakinan perseroan di paruh kedua ini, kata dia, lantaran alat-alat berat pesanan ITMG untuk anak perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan, yakni PT Tambang Raya Usaha Tama (TRUST) akan tiba di semester II ini dan akan segera dibayar.
Dari total anggaran capex US$ 121,9 juta tersebut, jelas dia, akan disebar ITMG untuk anak usahanya. Sebesar US$ 11,7 juta untuk Indominco Mandiri. Rencananya dana tersebut akan digunakan untuk membeli alat berat. Hanya saja realisasinya baru US$ 6,3 juta. Sebanyak US$ 14,4 juta untuk Trubaindo dan baru terserap US$ 3,7 juta.
Sementara untuk Bharinto, ITMG menganggarkan US$ 31,2 juta tetapi barudigunakan US$ 6,2 juta. Dana tersebut untuk membangun infrastruktur di lokasi pertambangan. “Jadi kami spending budget masih banyak di situ (Bharinto) untuk membuat holding road transportation,” jelas Yulius.
Sedangkan untuk PT Jorong Barutama Greston (JBG) dan TRUST masing-masing dianggarkan US$ 2,4 juta dan US$ 60,4 juta. Penyerapan capex untuk Jorong baru US$ 0,6 juta dan penyerapan TRUST sebesar US$ 8,5 juta.
“Kemungkinan serapan capex tahun ini bisa kayak tahun lalu. Di 2018 kami anggarkan capex US$ 120 juta, akan tetapi realisasinya hanya sekitar US$ 58 juta-US$ 60 juta,” kata dia.
Di tempat yang sama Wakil Presiden Direktur ITMG A H Bramantya Putra mengatakan, harga batu bara memang memengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Namun, perusahaan tidak mengubah target produksi.
Hanya saja, perusahaan melakukan efisiensi operasional dengan cara menyesuaikan nisbah kupas (stripping ratio). “Karena kami ingin adjust stripping ratio, maka kami akan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB),” ungkap Bram.
Dia menjelaskan kegiatan pertambangan akan dipindahkan ke area yang memiliki nisbah kupas yang lebih rendah. Penyesuaian tersebut dilakukan di seluruh tambang milik ITMG. “Pokoknya cari yang lebih kecil (nisbah kupas), kami sesuaikan semaunya,” katanya.
Untuk diketahui, laba bersih ITMG per Semester I tergerus, karena biaya penambangan dan beban pendapatan meningkat. Laba bersih ITMG turun 31% menjadi Rp 604,5 miliar. Begitu pun laba usaha, yang menurun 16,2% menjadi Rp 1,3 triliun. Pendapatan perusahaan memang naik 19% menjadi Rp 6,4 triliun. Akan tetapi, beban pokok pendapatan juga meningkat 5% menjadi Rp 5,10 triliun.
Berdasarkan data dari Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI), harga batu bara telah menjadi penyebab menipisnya marjin keuntungan perusahaan. Apalagi bagi perusahaan yang menjual batu bara dengan kalori rendah atau di bawah 6.300. Harga batu bara dunia dan dalam negeri tercatat menurun. Tren ini sudah terjadi sejak akhir tahun lalu.
Harga batu bara Newcastle misalnya, turun dari US$ 100 juta per ton pada akhir 2018 menjadi US$ 77 per ton bulan lalu. Harga Batu Bara Acuan (HBA) yang digunakan sebagai referensi penjualan batu bara kalori tinggi yakni 6.300 pun terdampak. Pada Agustus 2018, HBA sempat menyentuh US$ 107,83 per ton. Harganya berangsur turun menjadi US$ 71,92 per ton pada bulan lalu. Lalu, naik tipis menjadi US$ 72,67 per ton pada bulan ini.
Tomy
