Jakarta, TopBusiness – Negara Vietnam dinilai sangat lincah dalam ekspor ikan segar dan beku ke negara-negara di kawasan Asia-Pasifik, Amerika Serikat dan Eropa. Pasalnya, mempunyai industri pengolahan yang modern.
“Vietnam lebih maju di depan kita dalam hal processing ikan ini. Mereka sudah memiliki industri pengolahannya yang sangat modern, serta juga telah memiliki standar kualitas mutu pengolahan ikan dengan beberapa standar pembeli di luar negeri, baik itu standar mutu untuk Asia, USA dan Eropa. Kita hanya jadi pemasok kebutuhan ikan dunia melalui negara Vietnam. Nilai kontrak Vietnam dengan Indonesia sebesar USD 6,3 juta per bulan, sementara Vietnam akan menerima nilai lebih dari Indonesia tentunya,” tegas Risyanto Suanda, direktur utama Perum Perikanan Indonesia, di Jakarta, Senin (16/09).
Ia menegaskan, sebagai perusahaan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir sedang melakukan pembenahan proses bisnis dengan baik dan benar. Karena, potensi permintaan pasar ekspor sangat tinggi sekali, akan tetapi kemampuan para nelayan perikanan tangkap masih sangatlah lemah sekali.
“Untuk memenuhi standard an kualitas permintaan ekspor masih sangat jauh dari standar tersebut. Hampir sebagian besar nelayan tangkap kita masih dalam peringkat nelayan kecil, dengan kapasitas tangkap dibawah 10 ton. Ini yang akan kita benahi lebih lanjut agar kesejahteraan nelayan akan lebih meningkat,” terang Dirut risyanto generasi milenial ini.
Lanjut risyanto, apalagi potensi kita tersebar di seluruh Indonesia. Menyangkut transportasi dan logistik juga menjadi kendala besar pula bagi Indonesia. Tidak sedikit pula cargo kapal laut yang memiliki fasilitas cool storage untuk mengangkut hasil tangkapan ikan segar dan hidup untuk didelevery ke konsumen.
“Ini pekerjaan rumah kita untuk meningkatkan penghasilan di produk hasil laut ini, baik itu penangkapan maupun budidaya pertambakan. Kita harus membangun sinergitas seluruh pemangku kepentingan agar hasil laut dan budidaya akan memberikan kontribusi besar. Jika kita mampu ekspor langsung kepada pembeli maka nilai tambah besar akan kita nikmati”, ujar Risyanto.
Sementara itu, Asisten Deputi Industry Agro dan Farmasi 1, Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Imam Paryanto menegaskan, Perum Perikanan Indonesia dan Perikanan Nusantara, sebagai dua BUMN pada bisnis perikanan ini sedang melakukan pembenahan, penguatan di seluruh lini, baik itu pada penguasaan teknologi penangkapan, pengolahan, serta peningkatan kualitas kemampuan nelayan kecil agar bisa memenuhi standar kualitas mutu pasar global.
Serta juga memberikan akses permodalan, pembiayaan murah baik itu perbankan dan non bank, dan juga membuka akses lembaga penjamin, asuransi agar turut serta memberikan garansi bagi nelayan dan juga produk perikanan.
“Diharapkan sinergitas seluruh pemangku kepentingan governent, bisnis, Pemda serta pihak terkait lainnya akan menjadikan kekayaan laut ini bisa mensejahterakan para nelayan di seluruh Indonesia”, tegas Imam.
Perum perikanan Indonesia,pada tahun 2018 membukukan penghasilan Rp 1 triliun, sementara target 2019, di angka Rp 1,2 triliiun.
Albarsyah
